HAMKA DAN FILSAFAT SEJARAH

  • Whatsapp

Haji Abdul Malik Karim Amirullah atau dikenal dengan Hamka ialah seorang ulama besar yang memelopori Gerakan Islam “Kaum Muda” di Minangkabau yang memulai gerakannya pada tahun 1980. Selain seorang ulama besar Hamka juga merupakan seorang sastrawan, sejarawan dan juga pemikir pembaharu Islam. Hamka juga memilik padangan terhadap filsafat sejarah dimana filsafat sejarah Hamka dapat ditemukan dengan merujuk pada teori Arabiah.

Hamka di dalam melakukan penulisan (historiografi) tidak hanya menulis tanpa epistemologi aksiologi dan ontologis yang mana didalamanya mengarahkan pada nilai-nilai filsafat. Menurut Yahya Harun, di dalam pendekatan historiografinya Hamka lebih banyak menekankan kepada periode daripada daerah. Dalam menggambarkan sejarah Hamka memiliki keunikan tersendiri.

Tauhid, akhlak dan akal menjadi titik penting dalam historiografi Hamka. Dalam filsafat sejarah Hamka tauhid, akhlak dan akal merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan untuk melihat suatu peristiwa yang dikenal dengan sejarah. Tentang tauhid Hamka mengatakan bahwa tauhid merupakan padangan hidup seorang muslim, karena hal tersebut maka semua aktivitas hidup berdasar pada tauhid termasuk akhlak atau moral. Menurut Hamka, tauhid tidak hanya sebagai pedoman manusia di dalam memaknai kehidupan dalam lingkup hablu minallah saja tapi juga pada makna hablu minannas yang mana mengedepankan kesalehan sosial untuk menjalankan khalifah fil ard. Hubungan keduanya ini akan membawa manusia untuk mencapai kesempurnaan iman.

Tentang akhlak disini menjadi titik penting karena salah satu tugas dari di utusnya Nabi Muhammad ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah melenceng jauh dari ajaran. Melalui historiografi sejarah umat Islam, akhlak menurut Hamka merujuk pada pengungkapan pribadi Nabi Muhammad yang memiliki keluhuran sifat dan sikap. Hamka dalam menuliskan sejarah juga menggunakan pendekatan akhlak dengan menggunakan dua cara yakni pertama dengan cara mengumpulkan fakta-fakta dari segala sumber. Sedangkan cara kedua yakni dengan mengumpulkan data yang kemudian dianalisis dan memberikan pendapat terhadap data yang terkumpul.

Sedangkan akal menurut hampa memiliki peran penting dalam diri manusia sebagai al hayawan al natiq dimana dengan akal manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah fil ard yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Akal juga diartikan oleh Hamka sebagai kedudukan manusia yang memiliki jiwa rasional. Hamka yang memandang akal menjadi bagian penting manusia untuk melihat dan merenungi setiap peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi setiap kehidupan manusia, tidak sepenuhnya bergantung kepada kemampuan akal yang dianggap menjadi tolak ukur untuk menilai berbagai peristiwa tersebut. Akan tetapi juga wahyu menjadi bagian terpenting dalam pandangan Hamka terhadap suatu kejadian, pertimbangan wahyu menjadi rujukan utama bagi Hamka dimaksudkan untuk tidak lari dari apa yang dinukilkan oleh khazanah tradisi terdahulu.

 

 

REFERENSI BACAAN:

Jambak, Febian Fadhly. Filsafat Sejarah Hamka: Refleksi Islam dalam Pejalanan Sejarah, Jurnal Teologia Vol. 28 No. 2, Desember 2017.

Pos terkait