Teori Belajar Humanistik: Aplikasi serta Kelebihan dan Kekurangannya

banner 468x60

Setelah mengenal tentang teori belajar humanistik, tentunya perlu beranjak ke tahap aplikasi atau penerapannya dalam proses pembelajaran. Teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didik, sedangkan guru memberikan motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada peserta didik dan mendampinginya guna memperoleh tujuan pembelajaran.

Dalam hal ini peserta didik berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Tentunya diharapkan peserta didik tersebut dapat memahami potensi dirinya serta mengembangkannya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.

Bacaan Lainnya

Indikator keberhasilan proses penerapan teori belajar ini ialah peserta didik merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Peserta didik juga diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.

Tugas dan ciri-ciri Guru Teori Belajar Humanstik 

Perlu ditekankan kembali bahwa teori belajar humanistik ini memberi penekanan bahwa guru adalah sebagai fasilitator yang berupaya dengan berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar. Adapun terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan guru. Diantaranya yaitu

  1. Memberi perhatian kepada proses tumbuhnya cinta suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
  2. Membantu memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat lebih umum.
  3. Mempercayai adanya keinginan dari masing-masing peserta didik untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi sendirinya.
  4. Mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
  5. Menempatkan dirinya sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
  6. Menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas dan menerima, baik isi yang bersifat intelektual maupun sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai – baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
  7. Bilamana penerimaan kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperan sebagai seorang peserta didik yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu, seperti pelajar yang lain.
  8. Mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok perasaanya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu dalil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh peserta didik.
  9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.
  10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya.

Ciri-ciri guru yang fasilitatif yaitu, (1) Merespon perasaan peserta didik, (2) Menggunakan ide-ide peserta didik untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang. (3) Berdialog dan berdiskusi dengan peserta didik. (4) Menghargai peserta didik. (5) Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan. (6) Menyesuaikan isi kerangka berpikir peserta didik , dan (7) Tersenyum pada peserta didik.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Humanistik

Setiap teori belajar ataupun metode pembelajaran tentu tidak luput dari kelebihan ataupun kekurangan. Karena sejatinya itu merupakan alternatif pilihan dan tidak ada kesempurnaan mutlak di dalamnya. Begitu juga pada teori belajar humanistik ini. Adapun kelebihan pada teori belajar humanistik ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.

Sedangkan kekurangan pada teori belajar ini ialah peserta didik yang tidak mau memahami potensi dirinya cenderung akan ketinggalan dalam proses belajar. Begitu juga peserta didik yang tidak aktif ataupun malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar.

Dari semua itu, perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami berbagai teori belajar, prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran, pendidikan yang berkembang di bangsa ini niscaya akan menghasilkan out put  yang berkualitas yang mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Pos terkait