5 Strategi Maharah Qira’ah dalam Pembelajaran Bahasa Arab

 

Bahasa dalam pengertian sehari-hari adalah Bahasa lisan, maka dengan lisanlah manusia akan membaca. Bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih diantara bahasa-bahasa yang lain dan bahasa yang paling tinggi yaitu sebagai bahasa al Qur’an. Bahasa Arab simbol besar umat islam karena Al Quran sendiri menggunakan bahasa Arab. Secara umum, dalam mempelajari bahasa al Qur’an ini ada beberapa keterampilan yang harus dicapai (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, (4) keterampilan menulis.

Dari ke empat keterampilan tersebut sebagian besar umat Islam mempunyai kemampuan yang cukup rendah dalam membaca maupun memahami teks-teks berbahasa Arab. Kenyataan ini sangat memprihatinkan khususnya bagi lembaga pendidikan Islam baik dari SD sampai Perguruan sekalipun. Tentunya akan berdampak dalam memahami khazanah keilmuan Islam berbahasa Arab.

Pembelajaran bahasa Arab harus senantiasa memperhatikan aspek psikologis peserta didik, sehingga dalam proses pembelajaran peserta didik mampu menerima materi bahasa Arab dengan baik agar dapat mencapai target pembelajaran.

Membaca atau istilah dalam bahasa Arab Qiroah muncul karena tidak puasan para pengajar bahasa Arab yang mengalami hambatan dalam mengajarkan bahasa Arab. Yang melatar belakangi yaitu peserta didik yang sangat beragam beberapa hambatannya yaitu peserta masih asing dengan huruf arab, belum terbiasa membedakan membaca Al Qur’an dengan membaca teks bahasa Arab.

Pembelajaran Qiraah (membaca) kerap disebut dengan pelajaran muthala’ah (menelaah). Keduanya mempunyai basis yang sama yaitu sama-sama belajar bacaan. Akan tetapi, kedua istilah tersebut tetap mempunyai perbedaan. Qira’ah dari kata qara’a – yaqra’u diartikan sebagai kegiatan membaca, sementara itu istilah muthala’ah lebih menekankan aspek analisis dan bagaimana untuk memahami berkenaan dengan apa yang dibaca. Perbedaan dari keduanya adalah dalam penekanan, maka dalam penetapan dan pemilihan metode atau strategi pembelajarannya pun tentu akan terdapat perbedaan. Dengan arti bahwa keterampilan membaca tersebut meliputi latihan membaca dengan baik dan benar sampai dengan tingkat kemampuan memahami dan menganalisis isi bacaan.

Ada beberapa solusi strategi pembelajaran aktif berikut yang dapat dipertimbangkan pengajar bahasa khususnya bahasa Arab dalam mengajarkan materi qira’ah

Empty outline

Target capaian strategi ini untuk melatih kemampuan peserta didik dalam menuangkan isi dari yang dibaca ke dalam bentuk tabel. Isi dari tabel tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau tujuan pembelajarannya. Misalnya dalam pelajaran qira’ah tujuannya adalah agar peserta didik dapat menemukan sejumlah kata benda (isim) dan kata kerja (fi’il) yang ada dalam bacaan. Adapun langkahnya adalah :

  1. Pilih bacaan sesuai dengan topik pembahasan yang telah ditentukan.
  2. Siapkan format tabel yang akan ditugaskan kepada para peserta didik untuk mengisinya.
  3. Bagikan bacaan tersebut pada masing-masing peserta didik, kemudian tugaskan mereka untuk membacanya dengan seksama.
  4. Mintalah peserta didik untuk mengisi tabel yang telah dipersiapkan.
  5. Mintalah peserta didik untuk bergabung dua-dua (dengan teman di sebelahnya) kemudian mendiskusikan hasil kerja mereka masing-masing.
  6. Mintalah masing-masing peserta didik untuk menyampaikan (presentasi) hasil pekerjaan mereka setelah didiskusikan.
  7. Berikan klarifikasi terhadap hasil kerja peserta didik tersebut agar tidak terjadi kesalahan.
  8. Analysis

Tujuan dari penggunaan strategi ini diantaranya adalah untuk melatih peserta didik dalam memahami isi bacaan dengan cara menemukan ide utama dan ide-ide pendukungnya. Proses penemuannya dapat dimulai secara individual kemudian dilakukan diskusi dalam kelompok sebelum akhirnya dipresentasikan. Strategi ini disamping melatih ketajaman analisis terhadap isi bacaan juga dapat melatih untuk menemukan alur pikir dari penulisnya.

Langkah-langkahnya adalah:

  1. Bagikan teks/bacaan kepada masing-masing peserta didik.
  2. Mintalah semua peserta didik untuk membaca teks tersebut dengan seksama.
  3. Mintalah masing-masing peserta didik untuk menentukan (menuliskan) ide utama dan pendukung secara individu.
  4. Mintalah peserta didik untuk berkelompok dan mendiskusikan hasil masing-masing.
  5. Mintalah beberapa peserta didik untuk menyampaikan hasilnya (presentasi) di depan kelas mewakili kelompoknya.
  6. Berikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan komentar atau pertanyaan.
  7. Berikan klarifikasi terhadap hasil kerja peserta didik tersebut agar pemahaman terhadap bacaan semakin baik.

Snow Bolling

Strategi ini sangat umum digunakan baik dalam pembelajaran bahasa maupun lainnya. Nama strategi ini biasa disebut snow bolling. Pada praktekknya, strategi ini hampir sama dengan the power of two atau small group presentation. Yang membedakan hanyalah prosesnya, dimana snow bolling berjalan melalui beberapa tahap tergantung banyak sedikitnya jumlah siswa yang ada. Strategi ini cukup efektif digunakan apabila jumlah kelasnya tidak terlalu besar, dan dimaksudkan agar masing-masing siswa mendapatkan masukan sebanyak-banyaknya dari teman mereka yang lain.

  1. Bagikan teks kepada masing-masing siswa.
  2. Mintalah masing-masing siswa untuk membaca teks tersebut.
  3. Mintalah masing-masing siswa untuk menentukan ide utama dan pendukung secara individu.
  4. Mintalah siswa untuk berkelompok dua-dua dan mendiskusikan hasil kerja masing-masing.
  5. Gabungkanlah setiap dua kelompok menjadi satu (menjadi empat orang) untuk mendiskusikan hasil masing-masing.
  6. Gabungkanlah setiap dua kelompok menjadi satu (menjadi delapan orang) untuk mendiskusikan hasil masing-masing. Begitu seterusnya sampai menjadi kelompok paling besar (satu kelas) atau dengan jumlah tertentu yang dianggap cukup.
  7. Mintalah siswa untuk menyampaikan (presentasi) hasilnya di depan kelas.
  8. Berikan klarifikasi terhadap hasil yang telah dirumuskan oleh siswa tersebut.

Broken Square/text

Penggunaan dari strategi ini adalah untuk merangkaikan kembali bacaan yang sebelumnya telah dipotong-potong. Strategi ini dapat diterapkan untuk melatih siswa dalam menyusun sebuah naskah yang sistematis. Siswa juga dilatih untuk memahami isi bacaan tidak hanya secara global, tetapi sampai pada bagian-bagian yang paling kecil sampai akhirnya dapat menyusun kembali bacaan tersebut secara runtut. Secara teknis, strategi ini dapat dipraktikkan untuk mengurutkan kalimat-kalimat dalam satu alinea, atau mengurutkan beberapa alinea dalam satu bacaan lengkap. Biasanya strategi ini diterapkan pada naskah yang berisi sebuah cerita/kisah.

Langkah-langkahnya adalah:

  1. Siapkan sebuah naskah cerita yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian.
  2. Bagilah siswa ke dalam beberapa kelompok kecil.
  3. Berilah teks/potongan-potongan tersebut pada masing-masing kelompok.
  4. Mintalah semua siswa membaca teks secara bergantian dalam kelompoknya masing-masing.
  5. Mintalah semua siswa untuk memahami potongan-potongan kalimat tersebut dalam kelompoknya.
  6. Mintalah siswa untuk mengurutkan potongan-potongan teks tersebut.
  7. Setelah kerja kelompok selesai, mintalah masing-masing kelompok menyampaikan (mempresentasikan) hasilnya di depan kelas.
  8. Berikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan komentar atau pertanyaan.
  9. Berikan klarifikasi terhadap hasil kerja kelompok tersebut sehingga terjadi kesamaan pemahaman terhadap materi yang diajarkan.

Dengan demikian pembelajaran dengan maharah qiroah akan lebih berkesan dan tidak monoton, semoga bermanfaat.

Related posts