Agama dan Filsafat Sosial

agama dan filsafat sosial
agama dan filsafat sosial
banner 468x60

Agama dan Filsafat Sosial. – Filsafat adalah salah satu metode atau cara berfikir secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran ataupun makna – hakikat.  Para filsuf ini berupa mengkritisi berbagai pemikiran atau ideologi yang tidak sejalan – selaras dengan pedoman yang sudah ada, salah satunya pada Agama itu sendiri.

Agama merupakan suatu konstitusi Tuhan yang berbentuk kitab suci (Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an) dengan penyampaian melalui Rasul-Nya untuk menuntut manusia ke jalan yang benar. Selain itu, agama bermaknakan tuntunan manusia dari Tuhan yang bertujuan  membimbing manusia menjadi lebih baik dari makhluk-makhluk-Nya yang telah Tuhan ciptakan. Balasan akhir dari kehidupan manusia sendiri adalah Surga yang merupakan balasan terbaik.

Bacaan Lainnya

Berbagai hal nilai-nilai agama banyak yang dapat mendatangkan hikmah untuk kehidupan di dunia. Akan tetapi, ada sebagian oknum yang mengatasnamakan agama – menggunakan agama sebagai alat kapitalisasi. Adapun slogan yang cocok untuk problematika akan hal tersebut yaitu “Agama adalah Candu” ala Karl Marx.

Perdagangan Agama untuk Cuan

Berbagai hal yang terjadi  bisa menjadi alat analisis, kajian, dan lain-lain dengan bersumber dari fenomena – fenomena. Apalagi fenomena yang sedang hangat-hangatnya untuk dibicarakan. Meskipun fenomena tersebut sudah lama terjadi. Fenomena apakah itu? Fenomena tersebut berupa “Jual Agama Demi Dapat Cuan”.

Baca juga: Madzhab Rasionalisme dalam Filsafat

Sumanto Al-Qurtubi merujuk pada sebuah buku Steve Bruce berjudul God is Dead: Secularization in the West turut membahas hal tersebut. Menurut Steve, agama tengah sepi peminat – jualan agama tidak laku. Di dalam dunia akademik Barat, agama telah menarik perhatian banyak pihak, akan tetapi sebatas untuk menjadi bahan kajian teks-teks, tradisi, dan sejarahnya bukan menjadi ajaran, norma, dan nilai-nilai yanh aktual.

Fenomena yang ada di Eropa dan Australia misalnya, cukup kontras dengan yang terjadi Amerika dan Indonesia (juga di sejumlah negara lain seperti di Arab dan Timur Tengah). Agama telah terbukti menjadi bisnis dengan banyak peminat dan pembeli. Baik Islam (dari berbagai aliran dan organisasi) maupun Kristen (dari berbagai denominasi dan konggregasi) yang merupakan dua “agama misionaris” Semit yang sangat kuat telah mendulang banyak kesuksesan dan keuntungan pada kedua negara tersebut.

Perspektif Materialisme Karl Marx

Agama dan Filsafat Sosial. Sebelum kita membahas hal tersebut, alangkah baiknya kita membahas satu persatu agar ada relasi antara topik dan materi-materi ini. Makna kata materialisme dalam kamus filsafat Maghfur M. Ramin yang berjudul “Dasar-Dasar Memahami Mazhab Filsafat” adalah suatu pandangan yang menganggap bahwa dunia ini terdiri dari hal-hal yang bersifat materi sepenuhnya.

Para filsuf cenderung menyukai istilah fisikalisme karena ilmu fisika telah membuktikan bahwa materi itu sendiri bisa hancur atau berubah menjadi daya dan energi. Materi hanya satu saja dari sekian hal yang menyusun alam semesta ini. Sedangkan menurut filsafatnya Karl Marx tentang Materialisme, manusia bekerja, maka dia ada (hidup). Konsep ini hampir sama dengan ideologi dari Rene Descartes berupa slogannya yang terkenal yaitu “Cogito Ergo Sum” yang artinya adalah “Aku Berpikir, Maka Aku Ada” yaitu “aku bekerja, maka aku ada”.

Karena itulah, menurut Marx sendiri, manusia bekerja, maka ia hidup. Masyarakat juga merupakan sumber materi untuk menghasilkan suatu produk untuk produksi pada sekitar. Berangkat dari materialisme inilah lahir berbagai tokoh-tokoh filsuf seperti Karl Marx dan Ludwig Feurbach.

Baca juga: Mengenal Madzhab-madzhab Filsafat

Kapitalisasi Agama

Agama dan Filsafat Sosial. Kita jarang mendengar kata-kata “Kapitalisasi Agama”. Secara tidak sengaja, beberapa orang menggunakan hal tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri, kepentingan politik (politisasi agama), dan lain sebagainya.

Kata kapitalisme berasal dari bahasa Latin “capitalis” artinya “kepala”. Kapitalisme dalam diskursus ilmu ekonomi merupakan salah satu sistem dagang (jual-beli) barang yang sistemnya dimiliki oleh pribadi sendiri (maksud dari kata tersebut adalah sistem swasta yang juga memiliki modal sendiri dan juga memiliki karyawan akan tetapi tidak diolah oleh negara) dengan memiliki ciri-ciri persaingan dagang.

Menurut Marxime Rodinson dalam karya bukunya yang berjudul Islam dan Capitalism, kapitalisme ini memiliki dua konsep. Konsep pertama, dalam berproduksi, perusahaan adalah milik pribadi, perdagangan bebas, pengejaran keuntungan sebagai motif utama dalam aktivitas ekonomi, produksi untuk pasar, ekonomi keuangan dan kompetensi mesin serta rasionalisasi dalam mengkondisikan perusahaan.

Konsep kedua, sebagai gambaran, “Kapitalisme” telah tumbuh pada suatu masyarakat dalam satu ketentuan di mana dalam institusi atau mentalitas bermakna sebagai kapitalisme yang sangat dominan.

Industri Religiusitas

Agama dan Filsafat Sosial. Menurut Max Weber dalam “Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme”, Kapitalisme ini merupakan semangat untuk melakukan transaksi jual-beli dengan tujuan untuk ibadah. Tidak ada tujuan untuk memperdagangkan agama. Berangkat dari aliran Calvinisme inilah, Max Weber mendapatkan gagasan tersebut. Etika Protestan dalam hal ini merupakan suatu pendorong sebuah aksi massal yang tidak direncanakan dan tidak terkoordinasi yang mengarah pada perkembangan kapitalisme.

Sedangkan agama berasal dari Bahasa Arab yaitu kata “Ad-Din”. Secara istilah, agama merupakan salah satu konstitusi Tuhan bagi umat manusia melalui perantara-Nya, yaitu para utusan Allah (Nabi dan Rasul). Menurut Mahatma Gandhi, salah satu tokoh penting sekaligus seorang filsuf dari India mengatakan bahwasanya agama berasal dari Bahasa Sansekerta “Ahimsa” yang artinya “Kedamaian, Anti Kehancuran”. Atau juga dari dua kata yaitu kata “A” dan “Himsa” yaitu “Tidak” dan “Kehancuran”. Mahatma Gandhi mengajarkan bahwasannya agama ini  membawa cinta kasih kepada sesama umat manusia. Mahatma Gandhi juga sangat menentang yang namanya kekerasan atas nama apapun, termasuk atas agama itu sendiri.

Kapitalisasi Agama ini merupakan salah satu kajian berupa bagaimana caranya agar manusia mendapatkan sesuatu dengan cara apapun, termasuk agama. Kapitalisasi ini juga merupakan “Bisnis Agama”, umat beragama adalah “pasar” yang sangat menggairahkan  kaum “kapitalis agama”.

Dengan adanya bumbu-bumbu keagamaan atau ketuhanan, mereka “kaum kapitalis” ini memanfaatkan peluang untuk melakukan aksi untuk melancarkan aksinya, yaitu dengan cara menggunakan istilah “Islam Politik”. Sebenarnya istilah “Islam Politik” ini gerakan politik tersebut bagian dari sekularisasi atau pemisahan antar agama dengan negara, yang terpenting ini dengan menggunakan dalih-dalih agama untuk menarik perhatian khalayak orang.

Kritikan Marx terhadap Agama

Agama dan Filsafat Sosial. Dalam perkembangannya, agama menjadi seperangkat sumber dogma yang turun dari langit. Kecenderungan untuk memandang agama sebagai sesuatu yang turun dari langit merupakan salah satu kecenderungan semua agama yang menyejarah atau menjadi dari bagian dari pergulatan ekonomi-politik suatu masyarakat.

Menurut Karl Marx, agama merupakan sebagai dari candu masyarakat. Dari pengertian tersebut di jelaskan bahwasanya agama bagi mereka seseorang yang menderita dan tertindas adalah suatu penghibur yang semu dan hanya memberi kelegaan sementara.

Agama mengajarkan orang hanya untuk berpasrah atas segala sesuatu yang telah di tetapkan oleh Tuhan maupun dirinya sendiri daripada berusaha untuk memperbaiki kondisi kehidupan yang sedang terpuruk. Dan menurut Karl Marx juga, agama mengajarkan untuk tidak terikat pada suatu hal yang bersifat duniawi atau tidak berjuang untuk taraf kehidupannya berupa mencari segala sesuatu untuk bertahan hidup dan lebih fokus pada hal-hal yang berbau surgawi. Agama mengajarkan orang untuk menerima apa adanya, termasuk betapa kecilnya hasil upah yang ia dapat meskipun ia tengah mengalami penderitaan secara material.

Hal tersebut melahirkan slogan yang begitu kontroversial dari Karl Marx yaitu “Agama Adalah Candu Masyarakat” yang dimana masyarakat di bius oleh doktrin-doktrin agama berupa menerima apa adanya meskipun penghasilan materi sedikit sekaligus meskipun secara kondisi materi sangat kurang dan tidak cukup untuk bertahan hidup dalam dunia yang fana ini.

Agama belum Selesai

Kapitalisasi Agama merupakan salah satu kajian yang jarang pada khalayak umum. Kapitalisasi Agama ini merupakan juga dari sistem perdagangan, akan tetapi dengan menggunakan agama sebagai alat untuk melakukan transaksi. Entah dengan ada niatan apa untuk melakukan hal yang demikian.

Ini juga cukup menciderai ajaran-ajaran kapitalisme dari salah satu tokoh yang membahas kapitalisme, yaitu Max Weber sendiri dengan ajarannya yaitu “Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme” ini. Tidak hanya itu saja, bisa mempermalukan ajaran-ajaran agama seperti halnya pada ajaran agama Islam ini.

Maka dari itulah, Karl Marx menyinggungnya dengan kalimat “Agama Adalah Candu” ini. Karena, jika dilihat dari ideologinya Karl Marx bahwasanya agama adalah alat untuk membius orang-orang yang sedikit dalam pengetahuannya akan agama. Dan dijadikan sebagai iming-iming an atau angan-angan kosong untuk mengutungkan dirinya sendiri.

 

Penulis: Ridwan Ardiansyah Wijaya Putra (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

About Post Author

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *