Ahmad Syafi’i Ma’arif Tentang Pendidikan Tinggi dan Bahasa Arab

karya ahmad syafi'i ma'arif
karya ahmad syafi'i ma'arif

 Ahmad Syafi’i Ma’arif Tentang Pendidikan Tinggi dan Bahasa Arab. Nama Ahmad Syafi’i Ma’arif memiliki kesan tersendiri dalam panggung intelektual muslim Indonesia. Tokoh yang telah dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beberapa waktu lalu ini meninggalkan duka mendalam bagi bangsa. Untunglah beliau meninggalkan karya-karya literatur yang cukup banyak untuk bisa ditelaah.

Muhammadiyah jelas sangat beruntung memiliki tokoh sekaliber Buya Syafi’i. Gagasan yang digaungkannya selama berkiprah di perserikatan Ahmad Dahlan ini mampu membawa arah perjuangan yang lebih segar. Dalam beberapa tulisannya kita dapat menetra, betapa Buya begitu lekat dengan Muhammadiyah. Organisasi ini telah menjadi rumah kedua yang sangat mendukung eksistensi intelektualismenya.

Buah pemikiran Buya Syafi’i yang dikumandangkan dalam setiap karyanya memiliki tema yang beragam. Sebagai akademisi yang dibesarkan dari rahim ilmu sejarah, beliau mampu mengembangkan daya analisisnya ke berbagai spektrum pengetahuan. Termasuk dalam hal ini adalah spektrum pendidikan yang juga tidak luput dari horison kritisnya.

Baca juga: Pembaruan Pemikiran Muhammad Iqbal pada Pendidikan

Quo Vadis Pendidikan Tinggi

Ahmad Syafi’i Ma’arif Tentang Pendidikan Tinggi dan Bahasa Arab. Salah satu artikel yang ditulis oleh Buya Syafi’i mengenai pendidikan tinggi adalah posisi pendidikan terebut sebagai pilar peradaban. Oleh karena pendidikan tersebut dengan lembaganya menempati posisi yang sangat sentral, maka tentu tidak akan lepas dari kritik.

Di antara yang dikritik oleh Buya adalah adanya etika otoriter dalam proses pemilihan pimpinan perguruan tinggi. Kerap kali pemilihan tidak didasarkan atas karya dan kuantitas dukungan yang diperoleh kandidat dari segenap civitas academica. Namun justru dari hasil lobyying para oknum elit birokrasi atas. Di mana putusan yang dikeluarkan lebih didasarkan atas kalkulasi pragmatisme kekuasaan.

Kritik ini rasa-rasanya sangat menusuk jantung moral tata kelola perguruan tinggi. Saat para birokrat kampus mencoba menormalisasi situasi yang demikian, lain halnya dengan sikap Buya Syafi’i. Justru beliau dengan tedeng aling-aling mengangkat isu praktik-praktik gelap birokrat kampus tersebut ke panggung media.

Situasi tersebut bila tidak dibendung jelas akan menyeret kampus bergeser dari patok utama kepilarannya di atas. Lebih dari itu, Buya menambahkan bahwa penyelenggaraan pendidikan tinggi di universitas saat ini masih belum lepas cari kepentingan dan cengkeraman politik praktis.

Tentu masyarakat akademisi masih ingat, ada berapa tokoh-tokoh politik yang mendapat gelar akademik yang diduga kuat berdasarkan akad politis. Gelar yang orang lain untuk mendapatkannya memerlukan ketekunan akademik tingkat “dewa”, tapi para politisi dapat menyabetnya dengan jalan sangat pintas.

Buya menandaskan, bahwa perguruan tinggi yang dikelola dengan penataan yang tidak rasional dan bahkan menggelikan, tidak akan dapat merasakan vibrasi struktur sosial yang saat ini tengah serba timpang. Dari sini perguruan tinggi harus kembali menginsafi dirinya sebagai pilar peradaban dan menegakkan segala sisi fungsionalnya.

Baca juga: Imam al-Kisai dan Mozaik Pemikiran Pendidikannya

Agama dalam Pendidikan

Ahmad Syafi’i Ma’arif Tentang Pendidikan Tinggi dan Bahasa Arab. Sebagai intelektual yang dibesarkan dalam aisan Muhammadiyah, Buya Syafi’i tidak dapat melepaskan diri dari isu-isu pendidikan Islam. Pasalnya ladang amal usaha Muhammadiyah dalam dunia pendidikan tidaklah kecil. Saat ini lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah telah banyak berdiri nyaris di seluruh wilayah Indonesia. Jenjangnya pun beragam, mulai dari pendidikan dasar sampai dengan kampus atau universitas.

Buya Syafi’i mengatakan bahwa sebuah kampus bukan saja sebagai pusat ilmu dan teknologi. Baginya sebuah kampus juga harus berfungsi sebagai mercusuar moral yang anggun dan pusat intelektual yang unggul. Pemikiran tersebut rasanya cukup memesona dan menenangkan, untuk menyadarkan kembali ruh institusi dari cengkeraman materialisme. Beliau juga mengidamkan berdirinya kampus-kampus Qur’ani.

Di sini Buya memiliki keteguhan untuk tetap melibatkan entitas agama dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebagai seorang aktivis dari salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia jelas ini menunjukkan konsistensinya dalam membumikan Islam. Seolah di tangan dan pikiran beliau, Islam harus sebisa mungkin dimanifestasikan sampai ranah hidup yang paling kecil. Hal ini agar Islam sebagai agama tidak hanya melangit, tapi juga bisa membumi.

Namun perlu dicatat di sini bahwa angan dari Buya Syafi’i akan berdirinya kampus Qur’ani memiliki definisinya sendiri. Di mana beliau menafsirkan bahwa gagasan itu tidak diserahkan pada sloganitas saja. Bagi beliau, gagasan akan kampus Qur’ani itu harus dikawal oleh para SDM yang memiliki kapasitas yang cukup.

Kualifikasi lebih lanjut dijabarkan oleh Buya Syafi’i dengan beberapa kriteria. Di antaranya adalah mereka memiliki indeks prestasi komulatif yang tinggi dalam pemahaman al-Qur’an. Di samping mereka juga memiliki torehan-torehan prestasi yang lain. Sebab bagi Buya Syafi’i, al-Qur’an di tangan individu yang cerdas akan mampu berdaya dibanding berada di tangan orang normal biasa.

Tingkat pemahaman yang dicapai oleh para individu tersebut adalah pemahaman yang mengantarkan mereka sampai pada ketajaman moral. Juga memiliki kemampuan untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara prestasi dan korupsi. Energi ayat Ilahi menjadikan mereka manusia-manusia bermental merdeka dan full human.

Perhatian Terhadap Bahasa Arab

Ahmad Syafi’i Ma’arif Tentang Pendidikan Tinggi dan Bahasa Arab. Salah satu artikel Buya Syafi’i mendokumentasikan dengan sangat baik gagasannya tentang pengembangan bahasa, utamanya bahasa Arab. Setiap muslim mana pun pasti tidak akan pernah terhindar dari persentuhan dengan bahasa yang berasal dari Timur Tengah ini. Pasalnya bahasa Arab bukan saja menjadi bahasa suatu bangsa, namun menjadi bahasa agama yakni Islam.

Sebagai seorang intelektual sekaligus akademisi muslim, Buya Syafi’i jelas menyampaikan pentingnya mempelajari bahasa Arab. Beliau menyampaikan setidaknya tiga poin penting perihal urgensi pemahaman dan penguasaan bahasa tersebut.

Pertama hal yang perlu dilakukan oleh aktor-aktor pembelajar bahasa Arab adalah merehabilitasi mental kebahasaannya. Saat ini rasa-rasanya terlalu banyak individu muslim yang justru memandang bahasa Arab sebagai momok. Sehingga kesan kebahasaan yang muncul dari bahasa Arab adalah bahasa yang sulit dan rumit.

Provokasi sangat diperlukan agar masyarakat kampus mau mempelajari bahasa Arab dengan baik. Bahkan bila diperlukan, harus ada intervensi dari otoritas terkait. Sebab bila bukan kita yang mempelajari dan mengapresiasi bahasa al-Qur’an ini, maka tidak ada orang lain yang bakal mengapresiasinya sebagai bahasa wahyu.

Kedua memasyarakatkan pembelajaran bahasa Arab. Bahasa ini seharusnya dipelajari oleh semua kalangan, bukan hanya dialamatkan pada Fakultas Tarbiyah dan Syariah saja tulis Buya. Sebab buah yang dipetik dari program raksasa ini akan mendatangkan panen pengetahuan yang juga tidak sedikit.

Ketiga Penguatan Relevansi Kebahasaan, yakni menguatkan ikatan relevansi pembelajaran bahasa dengan realitas masyarakat kampus. Buya Syafi’i mencontohkan, bahwa untuk penguatan program bahasa tersebut kampus-kampus (utamanya Muhammadiyah) harus rutin menyelenggarakan stadium general internasional tentang bahasa Arab. Kuliah umum tersebut mesti mendatangkan pakar-pakar bahasa Arab internasional dan membahas tema-tema pengembangan bahasa kekinian. Bukan hanya itu, tema kebahasa Araban harus dihubungkan pula dengan masalah-masalah keumatan dan peradaban.

 

 

Related posts