Al-Ghazali; Skeptisisme Sang Hjjatul Islam wal Muslimin

Seorang tokoh yang besar tidak hanya di ranah Islam, namun juga dunia secara umum. Pengaruhnya yang kuat melampaui masa dan masyarakatnya, menembus batasan-batasan wilayah dan keyakinan. Beliau adalah Abu Hamid Al-Ghazali, sang pemikir besar yang hingga kini karya-karyanya tetap disanjung dan berpengaruh besar bagi peradaban Islam, maupun dunia. Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad lahir pada 450 M di distrik Thabaran, Thus, yang merupakan bagian dari negeri Khurasan (dewasa ini menjadi bagian wilayah dari Republik Islam Iran). Kendati demikian, nama beliau lebih dikenal karena kunyah yang dinisbatkan ke nama anak beliau, Hamid bin Muhammad, yang kemudian membuat nama “Abu Hamid” (bapaknya Hamid) lebih dikenal. Pendapat yang masyhur meriwayatkan bahwa beliau lahir di desa yang bernama Ghazalah, sebuah kampung kecil di Thus. Nama inilah yang kemudian juga disematkan pada nama beliau, menjadi Abu Hamid Al-Ghazali.

Dinukil dari buku “Al-Ghazali: Sang Ensiklopedi Zaman” oleh Mahbub Djamaluddin, ayah Muhammad wafat ketika Muhammad masih kecil, sehingga menitipkan Muhammad dan Ahmad (saudara kandung Al-Ghazali) kepada temannya yang merupakan seorang sufi, dan memulai pendidikan usia dini. Beliau lahir di masa transisi perpolitikan dari masa Bani Buwaihiyah yang cenderung Syiah-Mu’tazilah, ke masa Bani Saljuk yang bercorak Asy’ariyyah dan bermadzhab Syafi’i. Pada masanya, sang wazir ialah Nizamul Mulk Abu Ali Hasan bin Ali bin Ishaq ath-Thusi, yang lahir di Nauqan, Thus pada 408 H.

Read More

Puncak-Puncak Kemasyhuran

Singkat cerita, Al-Ghazali mendapatkan banyak pengalaman dari pelbagai guru di kota yang berbeda-beda, di antaranya; di Thus, beliau belajar fiqih kepada Ahmad bin Muhammad ar-Radzakani, di Naisabur belajar kepada Imam al-Haramain al-Juwaini (pengarang kitab ushul fiqih yang masyhur; al-Waraqat), bergabung dengan halaqah keilmuan Nizamul Mulk di Mu’askar–semacam komplek pemerintahan Nizamul Mulk, serta menjadi pengajar di Madrasah Nizamiyah Baghdad–salah satu madrasah yang didirikan pada masa Nizamul Mulk untuk kajian keilmuan, karena beliau sendiri mencintai ilmu dan ulama. Dikisahkan pada 10 Ramadhan 485 H, seorang pemuda dengan pakaian khas para sufi mendatangi Nizamul Mulk. Mereka terlihat berbincang-bincang. Namun kemudian, pemuda tersebut ternyata berhasil menikam dada sang Nizam dan membuatnya wafat seketika. Hal demikian yang kemudian mengundang gejolak pada pemerintahan Abbasiyah-Saljuk, karena ternyata sang pembunuh Nizam merupakan pengikut aliran Bathiniyyah.

Dalam suasana kritis inilah, Al-Ghazali diminta oleh Khalifah Mustazhir Billah (dilantik pada tahun 487 H/1094 M, pada usia 17 tahun) untuk membuka kedok Bathiniyyah menggunakan penanya, yang lantas menjadi salah satu karyanya: Fadhaih al-Bathiniyyah. Kitab ini berisikan maksud dan tujuan gerakan Bathiniyyah, serta pembawaan hujjah-hujjah Al-Ghazali, yang kemudian dapat menangkal propaganda kaum Bathiniyyah untuk beberapa waktu.

Demikianlah bagian kisah sang imam dalam mencapai keluhuran yang “tak tertandingi” dengan hujjah-hujjahnya yang demikian tajam, hingga perangainya yang disegani kawan maupun lawan. Pembelaannya kepada akidah dan doktrin Islam dari berbagai penyimpangan telah membuatnya diberi gelar kehormatan sebagai Hujjatul Islam wal Muslimin (Sang Argumen Islam dan Orang-Orang Muslim). Walakin beberapa waktu bakdanya, sang imam mengalami sakit yang misterius. Para tabib telah didatangkan, namun tak dapat menyembuhkannya. Hingga pada Dzulqa’dah 488 H, sang Hujjatul Islam undur diri dari kedudukannya di Madrasah Nizamiyah, dan pergi meninggalkan Baghdad bersama keluarganya. Mengapa demikian?

Jalan Lain Ketenangan

Al-Ghazali, ternyata, kerap mengajak dirinya berdiskusi dengan akal sehatnya, bermuhasabah dengan jiwanya, bahkan terkadang mendebat keduanya. Ketika sikap kritis itu ditujukan ke dalam dirinya sendiri, ia pun bertanya: “apakah benar aku telah mencapai semuanya? Mencapai apa yang seharusnya dicapai oleh hamba dari Tuhan semesta?” Suatu kali, jawaban yang ia dapati ialah bahwa dirinya hanya memiliki ilmu pengetahuan dari hasil pengamatan indera dan hukum-hukum rasional. Dalam terjemahan salah satu kitabnya, yakni al-Munqidz min adh-Dhalal, diceritakan bahwa sang imam berkata: “…keraguan itu demikian mengkhawatirkan dan menyesakkan. Sulit aku menghilangkannya kecuali atas bukti-bukti dan argumen yang kuat. Padahal, tidaklah mungkin menyusun argumentasi kecuali dengan hukum-hukum logika/rasio. Jika usaha ini tidak diterima, maka tertutuplah jalan menuju kebenaran… hampir dua bulan aku diliputi keraguan-keraguan ini, dan kondisiku tak ubahnya seperti kaum filosof…

Beliau pernah terjun mempelajari fiqih dan ushulnya hingga mahir dan dan menulis kitab tentangnya (seperti: al-Mankhul fi Ilm al-Ushul). Ilmu kalam juga pernah didalami, yang menurutnya, lebih kepada mempertahankan akidah dari rongrongan kaum kafir dan bid’ah. Kemudian beralih mempelajari filsafat, yang prinsip-prinsipnya beliau tulis dalam Maqashid al-Falasifah, lalu digulingkan dengan Tahafut al-Falasifah. Hingga kemudian Al-Ghazali tertaut kepada ilmu tasawwuf, yang akhirnya dapat menuntaskan kegundahan hati yang selama ini beliau alami. Beliau meneliti kitab-kitab karangan para sufi ternama, mulai dari kitab karangan Abu Thalib al-Makkiy (wafat 386 H), Abu Bakar asy-Syibliy (wafat 334 H), Abu Yazid al-Busthami (wafat 261 H), dan yang lainnya.

Sang imam tertegun ketika mendapati bahwa hal-hal paling spesifik dari para ahli tasawwuf tidak lah diperoleh dengan belajar teori, melainkan harus dirasakan sendiri (dzauq), tetapnya kondisi (hal), dan mengubah sifat-sifat diri. Menjadi yakin lah akal Al-Ghazali bahwa para sufi adalah golongan yang benar-benar menerapkan (arbab al-ahwal), bukan sekedar pengumbar kata-kata (ashab al-aqwal). Hal inilah yang kemudian memantapkan hati Al-Ghazali dalam melakukan riyadhah-riyadhah sufistik, yang pada akhirnya menuntun beliau dalam menciptakan sebuah karya yang monumental dan terus dikaji hingga kini: Ihya ‘Ulumiddin.

Dalam dirinya, terdapat akal seorang cendekia yang tidak pernah percaya selain pada suatu hal yang logis dan ilmiah, sementara sisi yang lain dari dirinya, juga ada jiwa bertakwa yang sedikit banyak merindukan kedamaian taqarrub dengan Tuhannya. Sang Hujjatul Islam boleh dikata berbeda dengan orang-orang skeptis yang lain. Dalam ragunya, al-Ghazali tetap mencari hidayah dengan jujur, terbuka, dan dengan sungguh-sungguh demi memperoleh kebenaran. Dua bagian dalam diri sang imam ini lah, yang saling bertempur ketika al-Ghazali merenungkan semuanya.

Related posts