Al-Qur’an dan Bahasa Arab

Allah SWT memberikan mukjizat kepada para nabi dan rasul sesuai dengan kecenderungan umat yang dihadapinya kala itu. Umat Nabi Musa as yang senang pada kegagahan dan kuatan fisik, mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT berupa kekuatan, baik dari tongkat maupun tenaganya. Umat Nabi Isa as cenderung berbangga pada kemahiran dalam bidang kedokteran ataupun ketabiban, mukjizat yang diberikannya yaitu dapat menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan sampai menghidupkan orang mati atas izin Allah SWT.

Begitu juga Nabi Muhammad saw yang kecenderungan umatnya kala itu berupa keindahan syair, mukjizat yang paling utama adalah Al-Qur’an dengan keindahan bahasa yang tidak ada tandingannya. Bisa dikatakan dahulu tradisi lisan berupa keindahan bersyair bagi bangsa Arab sangatlah diagungkan dan menjadi tolak ukur kewibawaan. Philip K. Hitti dalam History of The Arabs menggambarkan bahwa bangsa Arab kala itu sangat mudah tergugah perasaan dan pikiran mereka dengan puisi, pidato Arab klasik, ataupun ritme syair indah lainnya. Mereka menyebut layaknya hembusan “sihir yang halal” (sihr halâl)

Jikalau orang-orang Yunani mengungkapkan keagungan seninya dalam bentuk patung dan arsitektur, juga orang-orang Ibrani menuangkannya dalam bentuk lagu-lagu keagamaan (psalm), sedangkan orang-orang Arab mengungkapkannya dalam bentuk syair (qashȋdah) dan kefasihan lidahnya. Syair dalam bahasa Arab memiliki ungkapan kalimat yang padat, efektif, dan singkat. Dengan keunikan karakter bahasanya dan juga watak psikologis penuturnya, maka tidak heran tatkala Nabi Muhammad saw membawa ajaran Islam dengan kemukjizatan al-Qur’an (i’jazul Qur’an) banyak yang terkagum dengan gaya dan susunan kalimatnya. Sekaligus menegaskan bahwa al-Qur’an bukanlah gaya tutur buatan penyair handal pada masanya.

Tercatat beberapa penyair banyak yang terpesona akan keindahan bahasa di dalam al-Qur’an. Diantaranya Labid bin Rabi’ah, merupakan penyair yang puisi-puisinya menjadi langganan digantung di dinding Ka’bah (mu’allaqat) dan dibacakan di bukit Wuhaj. Kala itu Labid mendatangi rumah nabi, belum sampai ke ruang tamu rumah nabi, telinganya sudah menangkap lantunan bait-bait indah yang menakjubkan dari ayat al-Qur’an. Ia pun terkagum lalu berkata “Saya seorang penyair, saya tahu kata-kata ini pasti bukan dari manusia biasa ?.” Menurutnya, al-Qur’an mempunyai struktur kalimat (uslub), logika bahasa (fasahah kalam), diksi (bihar) dan metafora yang unik (majaz naql), sehingga itu yang membedakan dari puisi manapun yang pernah ditulis maupun didengar oleh orang Arab sebelumnya. Diakhirnya dia menyatakan kesediaannya untuk bersyahadat.

Selain penyair, beberapa pemuka Quraisy pun mengakui keindahan bahasa yang ada dalam al-Qur’an. Kisah yang sudah sangat masyhur antara Abu Sufyan, Abu Annas, dan Abu Jahal yang diam-diam sering menyelinap keluar rumah Khabab bin Arat hanya sekedar mendengarkan lantunan al-Qur’an. Ketika kepergok di tempat yang sama, mereka pun lantas saling berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi dikarenakan itu merupakan hal yang memalukan bagi mereka. Akan tetapi nyatanya, acapkali mereka mengulanginya lagi tersebab kekaguman dan kerinduan mendengarkan keindahan bahasanya.

Begitu juga pemuka besar Quraisy Walid bin Mughirah yang mendaku dirinya sebagai orang yang paling tinggi syair, sajak, ataupun qashidahnya daripada pemuka Quraisy lainnya. bahkan ia pernah berkata ke Abu Jahal “Demi Allah, sepanjang yang aku ketahui, tidak ada yang menyerupai ucapan Muhammad sedikit pun (maksudnya ayat al-Qur’an yang dibacakan). Demi Allah, ucapannya manis, bagus, indah gemilang, dan cemerlang”. Walaupun akhirnya Walid terhasut oleh Abu Jahal bahwa kaumnya akan membencinya jikalau mengakui keagungan bahasa al-Qur’an, sehingga ia pun menyatakan bahwa ayat al-Qur’an yang dilantunankan Nabi Muhammad saw merupakan bahasa sihir belaka.

Tentu banyak sekali penyair-penyair hingga para pemuka Quraisy yang terkagum dengan indahnya bahasa pada ayat al-Qur’an ketika dilantunkan. Mengapa begitu istimewa ? Menurut Syauqi Dhai’f dalam pengantar bukunya Tarikh al-Adab al-Arabi, sebagaimana dinukil dari Aguk Irawan dalam tulisannya Al-Qur’an, Sastra, dan Keterpesonaan Para Penyair, bahwa ada tiga alasan mengapa bahasa Arab dalam al-Qur’an begitu istimewa; Pertama, Al-Qur’an menyerupai samudera (bahr), yang mana bunyi deburan ombaknya selalu menentramkan jiwa, sekalipun suaranya tidak bisa dimengerti awalnya. Kedua, al-Qur’an layaknya berlian (yaqūt), walaupun orang yang memandangnya berbeda dari berbagai sudut, akan tetapi memiliki kesan yang sama, yaitu indah dan bercahaya. Ketiga, al-Qur’an seperti hidangan yang lezat (ma’idah ar-rahman), aromanya yang memukau pasti disukai oleh siapapun. Mengajaknya untuk segera menyantap guna mendapatkan gizi yang dapat menenangkan batinnya.

Begitulah Allah SWT menurunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab yang begitu indah, istimewa, dan jelas maknanya. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah SWT “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas” (Q.S. Asy-Syu’ara: 192-195). Begitu juga agar kita memahaminya (kandungan maknanya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu mehamaminya” (Q.S. Yusuf: 2).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa maksud al-Qur’an ini merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan lisannya yaitu bahasa Arab yang fasih, sempurna, universal, agar al-Qur’an menjadi jelas, terang, dan gamblang dalam memutuskan udzur, menegakkan hujjah, dan sebagai dalil yang menunjukkan kepada tujuan yang dimaksud. Diantara makna mubȋn dalam ayat tersebut merupakan ciri khasnya yang mampu menjelaskan makna yang dimaksud oleh pembicara. Itulah diantara penjelasan hikmah diturunkannya al-Qur’an dengan bahasa Arab yang jelas dan indah. Bahkan ada yang beranggapan bahwa bahasa Arab al-Qur’an sangat berbeda dan tingkatannya melebihi tingkatan bahasa Arab pada umumnya.

Sehingga siapa pun yang mencoba menerjemahkan al-Qur’an dari bahasa Arab ke dalam bahasa lainnya pasti akan menemui kesulitan, bahkan kemustahilan untuk menyamai esensi makna yang hendak disampaikan dengan bahasa Arab itu sendiri. Hal ini dikarenakan bahasa Arab memiliki beberapa kelebihan dan keistimewaan dibandingan bahasa lainnya, yaitu diantaranya kekayaan dari segi kosakata (mufradât), maupun ungkapan kalimat (uslūb) atau idiomatic eskpression. Bahkan para penerjemah pun mengakui betapa sulitnya menerjemahkan al-Qur’an sehingga sungkan untuk menyebut hasil terjemahannya merupakan terjemahan terbaik dari al-Qur’an.

Sebagaimana yang telah diketahui bersama, bahwa bahasa Arab umumnya dikenal ada bahasa Arab Ammiyah (nonformal/pasaran) dan bahasa Arab Fusha (formal/resmi). Antara keduanya sangatlah berbeda. Meskipun dewasa kini mayoritas bangsa Arab menggunakan bahasa Arab ‘ammiyah dengan berbagai dialeknya, akan tetapi penggunaan bahasa ‘ammiyah tersebut tidak menggeser posisi bahasa Arab fusha, bahasa yang digunakan dalam al-Qur’an, sebagai identitas bahasa Arab sesungguhya dan senantiasa tetap terjaga sebagaimana keterjagaanya al-Qur’an yang dijamin oleh Allah SWT.

Sahabat Umar bin Khattab r.a dahulu pernah berpesan “Hendaklah kamu sekalian tamak (tidak pernah puas) mempelajari bahasa Arab, karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agamamu (Islam).” Karena dengan bahasa Arablah kita dapat menyelami mutiara ilmu dan pesan Allah SWT dalam al-Qur’an sekaligus mentadabburi lautan hikmahnya. Semoga momentum Nuzulul Qur’an ini dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap al-Qur’an sekaligus bahasa Arab sebagai bahasa utamanya. Tabik.

Related posts