Analisis Tafsir al-Bahr al-Muhith (tafsir corak bahasa) Karya Abu Hayyan

Analisis Tafsir al-Bahr al-Muhith (tafsir corak bahasa) Karya Abu Hayyan
Analisis Tafsir al-Bahr al-Muhith (tafsir corak bahasa) Karya Abu Hayyan

Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan al Andalusi al Garnati atau lebih dikenal dengan nama Abu Hayyan. Beliau merupakan salah satu mufassir dan ahli tata bahasa yang hidup di Andalusia pada tahun 654 H (1256 M) dan wafat pada tahun 745 H (1344 M).  Abu Hayyan dikenal sebagai ahli tata bahasa yang juga memiliki ketertarikan untuk mempelajari berbagai bahasa selain bahasa Arab. Sehingga, banyak karya yang dihasilkan dalam bidang linguistik seperti penjabaraan dan analisis tata bahasa asing yang kemudian beliau tuliskan dalam bahasa Arab. Oleh sebab itulah, pada zaman tersebut Abu Hayyan sangat terkenal dan telah mendapatkan pengakuan hingga luar Andalusi dan Arab.

Identitas Tafsir al-Bahr al-Muhith

Tafsir al-Bahr al-Muhith merupakan salah satu karya terkenal yang telah dikarang oleh Abu Hayyan al Andalusi pada tahun 710 H. Saat itu, beliau berusia 57 tahun dan sedang menjadi pengajar tafsir di Kubah Sultan al-Malik al-Mansur. Tafsir ini terdiri atas delapan jilid besar dan tebal yang telah diterbitkan dan disebar luaskan. Dalam penafsirannya Abu Hayyan banyak mengutip dari tafsir Zamakhsari dan tafsir Ibn ‘Atiyah, terutama yang berkaitan dengan masalah Nahwu dan I’rab. Dengan kemampuan yang dimiliki Abu Hayyan tentang kebalaghahan Al-Qur’an dan ilmu bayan, beliau sering kali mengakhiri kutipannya dengan memuji atau bahkan mengkritik penafsiran Zamakhsari. Dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an, Abu Hayyan juga tidak lupa memakai asbab al nuzul sebuah ayat, nasikh mansukh, qiraat, dan tidak senggan pula menukil pendapat para ulama untuk menjelaskan ayat-ayat yang mengandung hukum tertentu.

Latar Belakang Penulisan

Dalam menyusun Tafsir al-Bahr al-Muhith, Abu Hayyan memili tiga motif untuk dijadikannya sebagai alasan penulisan. Pertama, beliau ingin selalu membaca Al-Qur’an karena Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia. Kedua, ingin memperbanyak amal kebaikan. Dan terakhir, ingin jiwanya terjaga. (Tafsir al-Bahr al-Muhith, Muqaddimah, 53).

Bentuk Penafsiran

Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, Abu Hayyan mendasarkan penafsirannya pada riwayat Nabi saw, para sahabat, tabi’in hingga seterusnya, sehingga Tafsir al-Bahr al-Muhith ini masuk dalam kategori tafsir bi al-Ma’tsur. Akan tetapi, beliau juga banyak menggunakan kaedah kebahasaan dengan menguraikan secara rinci tentang I’rab ayat demi ayat, yang menjadikan tafsir ini dikategorikan sebagai tafsir bi al-Ra’yi.

Metode Penafsiran

Metode yang dipakai oleh Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith  adalah metode tahlili ala hasbi tartibi mushaf, yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dari Surah Al-Fa>tihah hingga Surah An-Nas secara rinci. Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an cenderung memakai pola Manhaj Fiqhiy dan Manhaj Tazwuwuqul Adabi atau Lughawi (bahasa). Sebab, beliau memulai dengan menafsirkan lafadz dari sisi kebahasaanya. Jika lafadz tersebut memiliki dua atau lebih makna yang terkandung, maka beliau akan memilih makna apa yang cocok dengannya. Setelah itu, barulah beliau menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan asbabul nuzulnya, nasikh mansukh, munasabah ayat, dan juga menguraikan beberapa qiraatnya yang disertai pendapat atau pandangan para ulama tentang ayat tersebut.

Sumber Penafsiran

Abu Hayyan dalam menafsirkan Tafsir al-Bahr al-Muhith  tidak terlepas dari berbagai referensi kitab-kitab klasik. Beliau mengambil referensi-referensi dari berbagai disiplin ilmu yang masih berhubungan dengan wawasan tafsir. Akan tetapi, hal ini bukan berarti Tafsir al-Bahr al-Muhith  seutuhnya berasal dari referensi kitab-kitab terdahulu. Bahkan, beliau tidak jarang juga memberikan kritik atau penilaian terhadap kitab-kitab terdahulu. Kemudian Abu Hayyan mengambil pendapat yang diyakininya dan akan membantahnya apabila pendapat tersebut dianggap salah atau tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.

Contoh Penafsiran

Adapun contoh penafsiraan dari Abu Hayyan dengan pendekatan kebahasaan dalam Q.S. Alfatihah [1]:2 (Tafsir al-Bahr al-Muhith , jilid 1, 45)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Abu Hayyan membaginya menjadi tiga penggalan yaitu alhamdu, lillahi, rabbi ‘alamin. Kata alhamdu diartikan sebagai pujian yang indah baik itu berupa kenikmatan maupun lainnya. Kata alhamdu bukan berasal dari kata madah}a, akan tetapi berasal dari kata hamada dengan lawan katanya yaitu dhammu atau celaan. Selanjutnya kata lillahi, huruf lam tersebut menunjukkan arti lil milki (kepunyaan), lil istiqai (hak milik), lil sababi (sebab), lil taqlil (alasan), lil tabligh (menyampaikan), lil ta’ajubi (mengagumi), lil sairuroti (menggambarkan). Terakhir, kata rabbil ‘alamin, huruf rab disitu menunjukkan banyak makna. Selanjutnya kata rabbil alami, rabbi disitu mempunyai banyak makna diantaranya rabbi (tuan), malik (raja), tsabit (tetap), ma’bud (disembah).

Dengan menafsirkan sedemikian rinci menggunakan pendekatan bahasa, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan tafsir al-Bahr al-Muhith yang dikarang Abu Hayyan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan corak bahasa.

Related posts