‘Athaf dari Perspektif seorang Hamba

 

Simpatik atau kecenderungan Tuhan kepada hamba telah diulas sebelumnya. Kali ini rupanya ada pula arah yang sebaliknya. Di mana Syaikh Abdul Qodir al-Kuhin menjelaskan tentang ini dalam kitabnya Munyat al-Faqir. Yakni potret kecenderungan atau ‘athaf seorang hamba kepada Tuhannya.

Read More

Simbol atau tanda seorang hamba tengah ber-‘athaf pada Tuhannya adalah sebagai berikut;. (1) Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. (2) Memperbanyak aktifitas dzikir kepada-Nya. (3) Memiliki kepasrahan pada pemaksaan aturan-Nya. (4) Mencintai firman-Nya. (5) Mencintai Rasulullah SAW beserta keluarga beliau. (6) Mencintai, bergaul dan melayani wali-Nya. (7) Memiliki sikap yakin dan tawakal kepada Tuhan dalam setiap persoalan. (8) Tidak memiliki pengaturan dan kebebasan memilih langkah bersama ke-Tuhanan-Nya. (9) Rela dan pasrah dengan segala hukum sifat keagungan (jalaliyyah) dan keindahan (jamaliyyah)-Nya. (10) Mapannya ma’rifat kepada Allah SWT dan senantiasa syuhud dan hudhur kepada-Nya di banyak waktu yang ia punya.

Takwa dalam ekuilibrasi Tasawuf memiliki titik kualitas yang sangat beragam. Dalam Nahj al-Balaghah yang ditulis oleh Imam Ali bin Abi Thalib dikatakan bahwa suatu ketika dalam forum khutbahnya menantu nabi itu menjelaskan tentang beberapa hal perihal takwa. Namun beberapa jama’ah merasa kurang puas karena tidak begitu mendetail. Akhirnya salah satu jamaah tersebut mengajukan pertanyaan kepada Amir al-Mukminin untuk menjelaskan kriteria orang yang bertakwa tersebut. Lalu Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan karakteristiknya mulai dari karakter intelektual, moral, sikap dan lain-lain yang jumlahnya mencapai sertus lebiih. Setelah mendengar penjelasan sang Imam si penanya itu telah jatuh pingsan.

Adapun dzikir menjadi salah satu metode dalam tasawuf untuk terus melakukan gerakan penyucian diri (tazkiyatun nufus). Hampir semua ordo tarekat memiliki rangkaian dzikir dan doanya sendiri-sendiri. Misalnya saja lafazh laa ilaha illa Allah  yang begitu banyak dilafalkan oleh para pengikut Tarekat Qadiriyya wa Naqshabandiyyah setiap hari dengan gerakan-gerakan uniknya.

Kepasrahan adalah kunci dalam menjalani laku ke-muslim-an seorang hamba. Tuhan adalah Dzat yang tidak bisa didikte. Namun ia adalah Dzat yang bisa didekati dengan rayuan dan rajukan yang biasa diartikulasikan dalam sajak-sajak do’a.  Namun hal ini tidak lantas berarti Tuhan terhukumi wajib ’ain mengabulkan pinta seorang hamba lantaran telah berdoa.

Al-Qur’an menjadi panduan yang tidak pernah dan memang tidak boleh ditinggalkan oleh para hamba dalam melakoni jalan tasawuf. Beberapa yang larut dalam firman Tuhan itu menuangkan kesannya dalam lembaran-lembaran yang terkodifikasi menjadi kitab-kitab tafsir dengan corak isyari. Contoh mislanya kitab Tafsir al-Jailani  karya Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani, kitab Tafsir al-Hallaj yang ditulis oleh Abu Husain Manshur al-Hallaj dan masih banyak lagi kitab dengan corak isyari lainnya yang ditulis oleh para sufi.

Sebagaimana cintanya para hamba pada al-Qur’an, para sufi dalam menyambungkan hubungan dengan simpatiknya Tuhan dalam jalan tasawuf adalah dengan mencintai Nabi SAW beserta keluarganya. Cinta mereka yang begitu akut kerap dituangkan dalam berbagai sajak atau syair yang sangat romantis. Di mana syair-syair itu kerap didendangkan di acara-acara pengajian dan shalwatan di Indonesia.

Tidak ada yang dapat mengetahui wali kecuali wali, demikian yang kerap muncul dalam “undang-undang perwalian”. Namun dalam beberapa penggalan firman Tuhan ada kriteria wali yang bisa diketahui yakni mereka yang senantiasa beriman dan bertakwa. Mereka merasa gerak-geriknya diawasi oleh Allah SWT sehingga konsisten menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Artinya dalam figur wali itu terkumpul tiga kualitas yakni iman, takwa dan ihsan. Pada orang-orang yang demikian kita hendaknya berkhidmat untuk bisa menuai simpatik Tuhan.

Tiga kualitas yang telah mengakar dan menghunjam para hamba akan mampu melahirkan sikap tawakal yakni senantiasa menghadirkan Tuhan dalam setiap aktifitas kehidupan. Mampu menumbuhkan sikap pasrah yang murni dan jauh dari syahwat. Oleh karena senantiasa melibatkan Allah SWT dalam segala urusannya maka pada titik yang paling kulminan mengantarkan hamba pada kondisi syuhud pada Allah SWT.

Demikianlah ‘athaf-nya seorang hamba pada Tuhan menurut Syaikh Abdul Qadir al-Kuhin. Di mana bila kondisi seorang hamba sebagaimana yang dijelaskan oleh penulis di atas maka ia berada dalam ‘athaf. Dari situlah Allah SWT juga berpotensi untuk menyambungkan ‘athaf-nya pada hamba tersebut. Namun ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menyambungkan sanad ruhani tersebut yang akan disampaikan dalam artikel berikutnya.

 

 

 

 

 

Related posts