Babak Pertama dalam Khazanah Ilmu Nahwu dan Tokohnya

  • Whatsapp

Seorang pakar gramatika bahasa Arab bernama Sa’id al-Afghani mengatakan bahwa babak pertama dalam khazanah Ilmu Nahwu itu berasal dari adanya berbagai macam praktik pelafalan bahasa Arab yang keliru oleh orang-orang Arab sendiri. Dalam ilmu Nahwu fenomena tersebut disebut dengan istilah lahn.

Babak Pertama dalam Khazanah Ilmu Nahwu dan Tokohnya

Bacaan Lainnya

Keadaan tersebutlah yang pada akhirnya mendorong para pemerhati bahasa untuk melakukan langkah inisiatif menyusun diskursus tata bahasa Arab yang baku. Bahkan lebih dari itu, para pemerhati bahasa memproyeksikan sampai pada tataran bagaimana cara paling mudah dan efektif dalam mengajarkannya pada orang-orang ‘ajam atau non Arab. Hal itu tentu dengan tujuan agar orang-orang dapat terhindar dari kekeliruan dalam berbahasa atau dapat menggunakan bahasa Arab dengan baik dan benar dalam berkomunikasi.

Dalam beberapa literatur yang memperbincangkan tentang diskursus ilmu Nahwu, utamanya tentang babak pertama dalam khazanah Ilmu Nahwu, Imam Abu al-Aswad al-Duali menjadi salah satu tokoh yang merintis keberadaan ilmu tersebut. Figur al-Khulafa al-Rasyidin keempat yakni Ali bin Abi Thalib menjadi sosok yang turut memiliki andil atas proyek ilmiah yang dirintis oleh Abu al-Aswad tersebut.

Sebuah Riwayat mengatakan bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib menemui Abu al-Aswad. Keduanya lantas memperbincangkan perihal tentang berbagai ihwal yang berkenaan dengan tata Bahasa dalam Bahasa Arab. Dalam diskusi yang cukup intens itulah kali pertama muncul istilah “Nahwu”. Meskipun ada juga riwayat-riwayat lain yang mengetengahkan beberapa nama tokoh lain yang menjadi aktor utama dalam mengumandangkan terminologi Nahwu tersebut.

Jumhur pakar lughowiyyun Arab hampir semuanya bersepakat bahwa gagasan paling awal yang setelahnya tumbuh dan berkembang menjadi Ilmu Nahwu berasal dari Ali bin Abi Thalib yang saat beliau tengah menjadi khalifah.

Baca juga: Menulis Kenangan Tentang Imam Muhammad Ali al-Shabuni

Motif-Motif Pendorong

Gagasan ini muncul karena dorongan motivasi beberapa hal yakni motif agama dan motif sosial budaya. Motif agama di sini yang paling utama adalah suatu ikhtiar dalam pemurnian al-Qur’an dari lahn (salah baca atau penyimpangan dialek). Fenomena lahn semacam ini sebenarnya sudah mulai muncul pada saat Nabi Muhammad SAW masih hidup, namun kuantitasnya saat itu masih belum terlalu banyak.

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa suatu ketika ada seseorang yang keliru perkataannya (dari segi bahasa) di hadapan Nabi SAW. Maka beliau berkata kepada para sahabat: “Arsyidu< akha<kum fa innahu< qad dhalla”. (Bimbinglah teman kalian, sesungguhnya ia telah tersesat). Kata dhalla ‘tersesat’ pada ucapan Nabi SAW  tersebut merupakan sebuah peringatan yang cukup keras. Kata tersebut lebih keras artinya dari akhtha’a (berbuat salah) atau zalla (keseleo lidah).

Kembali ke sosok seorang Abu al-Aswad al-Dualli, melalui metode rasional dan metode intuitif Abu al-Aswad mencoba melakukan analisis terhadap pusparagam bentuk dan susunan Bahasa Arab berikut dengan berbagai kekeliruan berbahasanya. Observasi dilakukannya pada orang-orang Arab yang dinilai fasih sehingga ia simpulkan hukum-hukumnya. Sebut saja misalnya seperti dalam kasus fi’il ta’ajub yang harus dibaca nashab. Mengapa demikian?, sebab bila dibaca rafa’ maka nadanya berubah menjadi kalimat interogatif.

Tidak sedikit istilah-istilah dalam ilmu Nahwu yang diciptakan oleh Imam Abu al-Aswad al-Dualli. Beberapa istilah yang dirumuskan oleh beliau di antaranya adalah istilah Fi’il (kata kerja), Fa’il (subjek), Maf’ul (objek), Fi’il Madhi (kata kerja lampau), Fi’il Mudhari’ (kata kerja yang sedang dilakukan dan yang akan dilakukan), Fi’il Amr (kata imperatif), Fathah, Dhammah, Kasrah, Jazm dan istilah-istilah lainnya.

Peran Penting Abu Aswad al-Dualli

Oleh karenanya dalam babak awal ilmu Nahwu, figur seorang Abu al-Aswad al-Dualli memiliki peranan yang sangat penting. Bahkan proyek ilmiah yang digagasnya dilanjutkan dengan penuh semangat oleh murid-muridnya, yakni Nashr bin ‘Ashim, Anbasah bin Ma’dan dan al-Fil al;Mahri, Abdurrahman bin Hurmuz, maimunal-Aqran dan Yahya bin Ya’mur al-Adwani. Generasi-generasi tersebut yang dalam periode berikutnya akan mengembangkan ilmu Nahwu pada tahapan yang lebih paripurna.

Pada periode ini belum ada istilah metode Qiyas yang akan ramai pada perode-periode berikutnya. Namun metode yang mulai tumbuh dan berkembang pada bagian babak awal ini adalah metode Sima’ wa Riwayah. Di mana seorang tokoh ilmu Nahwu mengobservasi dan mendengarkan kalam-kalam dari orang-orang yang fasih berbahasa Arab, kemudian dituliskan hukum-hukum perihalnya.

 

Pos terkait