Bahasa Arab, Pesantren dan Pencarian Ruang Eksistensinya

kitab-kirtab imam an-nawawi
kitab-kirtab imam an-nawawi

Bahasa Arab, Pesantren dan Pencarian Ruang Eksistensinya – Tempat paling subur bagi pertumbuhan dan pengembangan bahasa Arab di Indonesia adalah pesantren. Sejak awal berdirinya pesantren-pesantren di Indonesia sampai dengan saat ini, bahasa Arab menjadi bahasa primer yang tidak pernah hilang di dalamnya. Siapapun tokohnya, atau apa pun organisasinya, pesantren yang didirikan pasti akan senantiasa menghadirkan bahasa Arab sebagai ilmu yang dipelajari dan diaktualisasikan di dalamnya.

Tentu bahasa Arab sebagai bahasa yang tidak “lahir” di tanah Nusantara tidak ujug-ujug hadir begitu saja. Terdapat catatan historis tampaknya sangat panjang yang menceritakan bagaimana bahasa belahan benua Asia itu dapat sampai ke Indonesia.

Read More

Namun tesis yang mesti diaminkan oleh semua kalangan akademisi adalah bahwa kehadiran bahasa Arab di Indonesia pada masa awal, tidak dapat dipisahkan dari datangnya Islam ke Indonesia. Menariknya adalah apakah para penduduk Nusantara itu memeluk Islam terlebih dahulu lalu belajar bahasa Arab, atau sebaliknya?.

Baca juga: https: Menurut Ulama Nahwu Ini, Ada tiga Hal Penting yang Harus Diperhatikan dalam Berislam

Mempelajari Bahasa dan Agama

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya berjudul Api Sejarah, mengatakan bahwa masuknya agama Islam adalah ketika agama ini baru dikenal oleh bangsa Indonesia yang dikenalkan oleh para niagawan muslim kala bertransaksi di pasar. Dari aktivitas ini dapat dilihat, bahwa kemungkinan besar bahasa Arab yang sering dipakai berkomunikasi oleh orang-orang Arab itu dikuasai terlebih dahulu untuk kepentingan transaksional sebelum dipelajari agamanya. Meskipun pada periode berikutnya bisa jadi kedudukan ini menjadi berubah.

Menariknya di sini, nyaris di setiap negeri yang didatangi oleh para wiraniagawan muslim Arab melahirkan komunitas-komunitas keagamaan muslim. Kegiatan ibadah yang dilakukan ditambah dengan ajaran Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam untuk menyebarkan Islam sepertinya menjadi dua energi besar untuk membumikan agama ini di mana pun tempat mereka singgah.

Manakala komunitas-komunitas muslim ini terbentuk dan mulai membesar, dan “pesertanya” bukan lagi hanya dari kalangan Arab saja namun juga sudah mulai diramaikan dengan warga-warga pribumi, mulailah muncul agenda pendidikan Islam yang berkelanjutan di wilayah tersebut (pesantren). Kiranya bila telah mencapai titik situasi yang demikian, maka arus positioning agama dan bahasa menjadi berubah, di mana orang-orang akan menyatakan diri untuk masuk Islam dahulu baru kemudian mempelajari bahasa Arab secara bertahap untuk mendalami doktrin-doktrin keagamaannya.

Baca juga: Penting, Ini Pengaruh Motivasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Orientasi Realitas Eksternal

Bahasa Arab Pesantren dan Pencarian Ruang Eksistensinya – Sejak kedatangannya ke Indonesia dan pengenalan dirinya di lembaga-lembaga pendidikan Islam semacam pesantren, bahasa Arab tidak ditempatkan sebagai bahasa eksklusif. Bahasa ini dapat dipelajari oleh semua kalangan, bahkan oleh golongan non muslim sekalipun. Tidak ada strata sosial khusus yang harus dimiliki oleh seseorang manakala ia akan mempelajari bahasa Arab.

Bahasa ini menjadi bahasa yang wajib dikuasai oleh setiap muslim pada dasarnya. Mengapa demikian? sebab sebagai bahasa yang dipakai oleh Islam dalam medium doktrinalnya. Seluruh pelaksanaan kegiatan ibadah dalam Islam nyaris semuanya memakai bahasa Arab. Sehingga mau tidak mau para pemeluk agama Islam harus mempelajari bahasa Arab.

Meskipun demikian, bahasa Arab yang juga notabene bahasa Agama Islam tidak mendamparkan dirinya hanya sebatas bahasa ritual. Pada kenyataannya tidak sedikit orang-orang, baik itu muslim maupun non muslim, mempelajari bahasa Arab sekaligus menjadi tangga dalam mengenal realitas eksternal yang lebih jauh dan cenderung menjadi sangat luas.

Sebut saja misalnya para penguasa muslim Nusantara awal yang memakai bahasa Arab sebagai simbol keislaman mereka sekaligus alutista komunikasi dalam berkorespondensi dengan kekuatan dunia internasional. Disadari atau tidak, dalam titik ini bahasa Arab menjadi salah satu atribut yang memegang peranan penting antar kekuatan-kekuatan muslim dunia dalam bidang-bidang strategis.

Hal yang sama juga dilakukan oleh para intelektual muslim pesantren. Bahasa Arab menjadi bekal bagi mereka dalam kegiatan literasi internasional dengan bentangan horizon generasi dan cakrawala kawasan yang meluas. Kita dapat melihat bagaimana kitab-kitab ulama dari wilayah Timur Tengah mampu sampai di Nusantara, bukan hanya rupa naskah kitabnya saja, tapi juga dengan isi pengetahuan yang ada di dalamnya. Tidak hanya itu, para ulama dan santri yang berangkat ke Tanah Suci Mekkah juga mampu didekatkan oleh bahasa Arab untuk melakukan mulazamah ilmu dan berdiskusi dengan para ulama dunia yang ada di sana.

Pesantren Rumah Ortodoksi Bahasa Arab

Fakta sekaligus realitas tersebut menjadi bukti bahwa bahasa Arab sejatinya bukan hanya bahasa mantra yang eksklusif. Bukan bahasa yang hanya dipakai untuk kepentingan semedi (meditasi) atau reseptakulum (wadah atau media untuk memanjatkan doa-doa) semata. Namun juga menjadi bahasa yang dapat mengantarkan pemakainya pada realitas eksternal yang lebih jauh dan luas, utamanya adalah para pemakai dari kalangan cendekiawan muslim di dunia pesantren.

Dalam arus pemertahanan bahasa, pesantren menjadi rumah yang sangat nyaman bagi pertumbuhan dan pengembangan bahasa Arab. Kalangan pesantren dalam beberapa kasus telah menciptakan “aturan main” tersendiri terhadap bahasa tersebut. Bahkan beberapa dari pesantren yang ada mampu menciptakan mitos-mitos kebahasaannya sendiri.

Ahmad Baso dalam bukunya Pesantren Studies mengatakan bahwa pesantren memiliki cara dan strategi tersendiri dalam menafsir teks-teks bahasa Arab. Hal ini membuat pesantren mampu melakukan kontrol atas kegiatan tafsir menafsir teks yang beredar. Kalangan ini di Indonesia mampu menciptakan kedaulatan institusi keilmuan yang menjadi rujukan dalam berbagai penafsiran kebahasaan dengan mekanisme yang diciptakannya.

Akhirnya dapat dilihat bahwa bahasa Arab di dunia Pesantren tidak hanya sekadar “ada” (being), namun ia juga mampu jadi “mengada” (exist). Untuk waktu yang cukup panjang ke depan, bahasa ini akan terus hidup dan mempertahankan eksistensi dirinya dalam ekuilibrasi pesantren. Sebab kalangan pesantren sendiri pun bukan hanya melakukan aktivitas pemertahanan bahasa namun juga melakukan pemertahanan agama.

 

 

 

Related posts