Bangunan Paradigma Islam dalam Strukturalisme Transendental Kuntowijoyo

Kuntowijoyo adalah seorang yang terkenal sebagai sejarawan, sastrawan dan juga sebagai seorang budayawan. Beliau lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, tanggal 18 September 1943 dan meniggal di Yogyakarta pada tanggal 22 Februari 2005. Beliau mengaku bahwa dirinya mewarisi dua kebudayaan yaitu Yogyakarta dan Surakarta, sebab masanya di habiskan di Klaten dan Solo.

Kuntowijoyo mendefinisakan agama sebagai suatu kebenaran yang diterima oleh orang dari dulu hingga sekarang dan sifatnya tidak bertambah. Kuntowijoyo juga menerangkan bahwa kebanyakan orang, sering mencampuraadukkan antara kemajuan dan kebenaran. Sedangkan dari kacamatanya, kebenaran itu non-cumulative dan kemajuan itu cumulative.  Yang maksudnya, kebenaran itu tidak makin berkembang dari waktu ke-waktu, sedangkan kemajuan itu berkembang.

Sains sendiri bagi Kuntowijoyo bukan kebenaran melainkan sebuah kemajuan, seperti contoh fisika, teknologi, sains kedokteran. Berbicara mengenai kebenaran, Kuntowijoyo menjelaskan teori kebenaran yang popular yaitu pragmatism. Yang menjadi pokok dalam teori kebenaran ini adalah, kepercayaan itu benar kalau dan hanya kalau berguna, jadi ukuran kebenaran ialah apakah suatu kebenaran itu dapat mengantarkan sesorang pada tujuan.

Paradigma yang dibangun Kuntowijoyo

Kuntowijoyo adalah salah satu cendikiawan muslim yang merasa tidak berkenan dengan desain dari cara kerja IDI (dikenal Islam untuk Disiplin Ilmu). Sistem ini bertujuan untuk mengembangkan studi Islam, yang pembahasannya wahyu yang tertulis dalam al-Qur’an tertutama yang menyimpan intruksi ilmiah dikaji dengan memanfaatkan teori dan konsep sebelumnya telah dikembangkan lebih dulu oleh intelektual sebelumnya terutama di Barat. Sedangkan menurut Kuntowijoyo, al-Qur’an dijadikan acun, asal-muasal dan sumber Islam yang sangat dictatorial, yang bersifat akurat dan hendaknya ditempatkan pada posisi terpusat dan awalan dalam memajukan denyut nadi umat muslim yang juga di dalamnya terdapat aspek ilmu pengetahuan. Pada dasarnya al-Qur’an kaya akan bermacam konsep dan deskripsi yang menyimpan nilai-nilai bersejarah, yang mana ketika di investigasi dan di eksplanasi lebih jauh, akan berdampak atas metamorphosis yang searah dengan visi al-Qur’an.

Paradigma yaitu kerangka berfikir atau model dalam suatu teori. Kuntowijoyo hendak membangun suatu paradigma yang mana mengambil al-Qur’an sebagai model untuk mermuskan teori dalam melihat realitas. Lebih lanjut Kuntowijoyo menyebutkan paradigm al-Qur’an yang dimaksud adalah paradigma Islam.

Dia menyebutkan bahwa paradigma ini sama halnya yang dipahami oleh Thomas Khun, bahwa pada dasarnya realitas sosial itu diskontruksi oleh made of thoughts atau made of inquiry tertentu gilirannya akan menghasilkan made of knoeing tertentu juga. Paradigma al-Qur’an berarti suatu kontruksi pengetahuan yang memungkinkan memahami realitas sebagaimana al-Qur’an memahaminya, serta bertujuan terebentuk hikmah yang menciptakan perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif al-Qur’an, baik itu pada level moral maupun level sosial.

Kuntowijoyo ingin membangun Paradigma Islam yang mana dalam penjelasannya menggunakan istilah “Strukturalisme Trasendental“. Dalam bahasa latin structura yang artinya bangunan, Kuntowijoyo menggambarkan arti itu sebagai banguna dalam arti konkret (gedung) atau bangunan dalam arti abstrak (bangunan sosial).

Sedangkan transendental. Kata ini berasal dari kata kerja transcend yang diambil dari bahasa latin transcendere yang memiliki arti memanjat ke atas, yang dimaknai Kuntowijoyo dengan transendental: abstrak, metafisis dan melampaui. Kuntowijoyo ingin membangun Paradigma Islam yang mana dalam penjelasannya menggunakan istilah “Strukturalisme Trasendental“. Strukturalisme transendental menurut Kuntowijoyo adalah suatu konstruk pengetahuan yang menempatkan Al-Qur’an atau wahyu sebagai salah satu sumbernya. Adanya pengakuan bahwa terdapat struktur transendental yang menjadi referensi untuk menafsirkan realitas. Bahwa ada ide murni yang sumbernya berada di luar diri manusia, bersifat otonom dan sempurna.

Melalui strukturalisme transendental inilah dibangun suatu teori sosial yang objektif, rahmatan lil ‘alamin. Dengan melakukan sintesis dan analisis atas ideal- type dan archetype ditempatkanlah bagian-bagian yang mana berposisi sebagai kekuatan pembentuk struktur, struktur bawah, dan yang berposisi pada tataran empiris, atau permukaan. Menurut Kuntowijoyo, strukturalisme transendental akan sangat berguna bagi sains alam, kemanusiaan, dan agama, untuk menyadari adanya totalitas Islam dan adanya perubahan-perubahan.

Kuntowijoyo berpendapat bahwasanya Paradigma Islam itu adalah paradigma yang bersifat terbuka.  Semua warisan sains pengetahuan yang pernah dilahirkan dari peradaban lain juga bisa dipinjam dan menjadi bagian warisan Islam, sejauh hal itu sesuai dengan etik dan epistemiknya.

Kuntowijoyo menjelaskan bahwa dalam bidang sains, kita tidak boleh bersikap tertutup. Dalam hal ini tidak berarti mesti menutup diri dari keduanya. Bagaimanapun Islam adalah paradigma terbuka. Ia merupakan mata rantai dari peradaban dunia.  Mengenai perihal perbedaan antara sains (baik sains yang didasarkan pada agama (Islam) maupun sains dalam kategori (Sains), Kuntowijoyo berpendapat bahwa sains-sains sekuler adalah produk bersama seluruh manusia, sedangkan sains-sains integralistik (nantinya) adalah produk bersama seluruh manusia beriman.

Paradigma Kuntowijoyo pada umat Islam Indonesia telah melewati tahapan-tahapan sebuah kesadaran, tahapan tersebut terbagi menjadi tiga periode, yakni mitos, ideology dan ilmu. Sampai di masa ilmu, yang mana merupakan proses pengalihan ilmu modern yang diawali proses pengambil alihan substansi dan metode sebelumnya hingga pada akhirnya dibenarkan oleh substansi Islam. Yang maknanya manusia dapat menyerap ilmu-ilmu modern yang mereka pelajari. Agar keabsahan ilmu yang diperoleh tersebut didapatkan, mereka menjadikan nilai-nilai dalam ajaran islam sebagai tolak ukur suatu kebenaran.

 

Related posts