Begini Nahwu Dipelajari Menurut Syaikh Al-Maimuniy

Al Maymunit Egypt Orientalist
Al Maymunit Egypt Orientalist

Begini Nahwu Dipelajari Menurut Syaikh Al-Maimuniy. Nahwu adalah ilmu tentang gramatika Arab dengan usia yang sudah cukup tua dalam peradaban Islam. Anehnya memang ilmu ini tidak dinisbatkan pada orang-orang Arab sebelum Islam datang. Sejarah mencatat bahwa Ilmu tentang gramatika yang telah diujarkan cukup lama oleh orang Arab ini digagas pada era Khulafa al-Rasyidin (632-661 M).

Unsur bahasa yang paling masyhur dari bahasa Arab Jahiliyah justru terletak pada syairnya. Di antara objek-objek syair pada masaa Jahiliyah antara lain adalah al-Mufakharah. Syair ini banyak membincang tentang fanatisme akan pangkat dan keturunan dari berbagai kabilah. Konon fanatisme dari syair ini dapat berujung pada pertumpahan darah.

Read More

Kelak fenomena kebahasaan dan kesastraan ini menjadi salah satu objek kritik al-Qur’an pada era Islam. Tidak hanya itu, para penyairnya juga dikritik oleh ayat suci perihal sikap ketidakjujuran mereka dengan kemunafikannya.

Abu al-Aswad al-Duali (688 M) dikenal sebagai Bapak bahasa Arab dalam literatur-literatur sejarah Nahwu. Kerja intelektual yang dilakukan oleh beliau dimotori oleh Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib (599 – 661 M). Berikutnya muncul nama Khalil bin Ahmad al-Farahidi (718-790 M) dan Sibawaih (760 – 796 M) yang memberikan kontribusi sangat besar dalam pengembangan keilmuan bahasa Arab.

Rantai kerja akademis Nahwu tersebut telah menjalar ke berbagai wilayah, individu-individu intelektual dan zaman. Termasuk salah satunya adalah intelektual bahasa asal Mesir Syaikh al-Maimuniy (991 – 1079 M).

Baca juga: Tukang Kritik Nahwu Bernama Ibnu Madha

Siapa Syaikh al-Maimuniy?

Tidak banyak literatur yang dapat ditemukan untuk membahas siapa itu Syaikh Al-Maimuniy. Nama ini muncul dalam salah satu karya yang ditulis oleh Ibnu ‘Ajibah (1747 – 1809 M) berjudul al-Futuhat al-Qudsiyyah fi Syarh al-Muqadimah al-Ajurumiyah.

Catatan kaki dalam kitab tersebut hanya mengetengahkan biografi beliau yang amat ringkas. Syaikh Abd al-Salam al-‘Imraniy al-Khalidiy sebagai editornya mengetengahkan bahwa nama asli Syaikh al-Maimuniy adalah Ibrahim bin Syams al-Din bin Isa. Beliau dikenal dengan nama Abu Ishaq al-Maimuniy al-Mishriy al-Syafi’iy.

Penjelasan lebih lanjut dari Syaikh al-‘Imraniy menunjukkan bahwa Mesir menjadi negeri tempat kelahirannya. Beliau dilahirkan pada tahun 991 dan meninggal pada tahun 1079. Masa ini sebenarnya hampir sama dengan masa di mana Imam al-Ghazali hidup. Namun, oleh karena Syaikh al-Maimuniy hidup di Mesir maka lebih tepat mengatakan bahwa beliau hidup pada era Dinasti Fathimiyah (909 – 1171 M).

Beberapa karya yang ditulis oleh Syaikh al-Maimuniy adalah kitab Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Baidhawi. Imam al-Baidhawi (672 H) adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqh dan lainnya yang berasal dari Baidha  di Persia. Kitab tafsir terkenal yang ditulisnya berjudul Anwar al-Tanzir wa Asrar al-Ta’wil atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir al-Baidhawi.

Pandangan tentang Belajar Nahwu

Begini Nahwu Dipelajari Menurut Syaikh Al-Maimuniy. Ibnu Ajibah mengatakan bahwa Syaikh al-Shalih al-Faqih al-Maimuniy pernah mengatakan sebagai berikut.

وَأَقْبَحُ مِنَ الْقَبِيْحِ أَنْ يَّتَعَلَّمَ الْاِنْسَانُ أَوْ يُعَلِّمُ اِصْلَاح اللِّسَان و لَا يَتَعلَّم أو يُعَلِّمَ اِصْلَاح الْقَلْب الَّذِي هُوَ مَحَلُّ الرَّبِّ

“Seburuk-buruknya keburukan adalah (orang) yang mempelajari atau mengajari perbaikan lisan (namun) tidak mempelajari atau mengajari perbaikan hati, (sementara) hati adalah tempat (cahaya) Allah”.

Dari sini kita dapat melihat bahwa Syaikh al-Maimuniy memiliki pandangan yang cukup unik. Fokus yang beliau sasar dalam Nahwu adalah etika religi dari para pembelajar dan pengajarnya.

Artinya besar kemungkinan kala itu banyak para akademisi muslim yang getol mempelajari linguistik Arab namun tidak demikian dalam etika kesarjanaannya. Atau bisa juga kala itu diskursus tentang etika keagamaan memang sedang mengalami perkembangan yang cukup kuat. Hal tersebut membuat ilmu linguistik Arab, utamanya Nahwu melakukan dialektika dengan ilmu etika religi.

Hemat penulis, pandangan dari Syaikh al-Maimuniy ini juga sekaligus menjadi tahdzir bagi para pemerhati kajian Nahwu. Bahwa pada titik tertentu, Nahwu diajarkan bukan hanya dari sisi kebahasaannya saja, namun nilai-nilai dan rumus-rumus kode etik religius yang dilekatkan di dalamnya juga layak untuk diungkap dan ditransmisikan.

Bila dua arus ini dapat dipadukan, maka akan muncul sintesa keilmuan yang integratif dan meaningfull. Pertama Individu tersebut akan mewarisi kecakapan linguistik Arab dengan amat fasih dari sisi kebahasaan. Kedua ia juga akan mewarisi kecakapan ruhani dari linguistik Arab yang tersematkan rumus-rumus etika religius di dalamnya.

Baca: Babak Pertama dalam Khazanah Ilmu Nahwu

Nahwu Sebagai Alat Kritik Hidup

Sampai dengan saat ini diskursus keilmuan yang membahas tentang sisi etika religi dari Nahwu masih jarang diungkap. Oleh karenanya tugas kesarjanaan muslim untuk dapat meneliti dan melakukan penyelidikan lebih lanjut akannya.

Namun yang paling penting dari paparan pandangan Syaikh al-Maimuniy di atas adalah soal Nahwu dan kehidupan. Sejumlah rumus etika religi yang dimaknakan kepada Nahwu dapat berkontribusi menjadi alat kritik hidup manusia.

Tidak dapat dipungkiri bawa jangankan keilmuan duniawi yang lain, sekelas Nahwu saja dapat menggelincirkan manusia dari tujuan luhur ilmu. Motif properti duniawi akan dipandang lebih menggoda dan menjanjikan daripada motif-motif ukhrawi.

Phillip K. Hitti (1886 – 1978 M) mengetengahkan motif orang-orang mempelajari bahasa Arab pada era Dinasti Umayyah. Bahasa ini dipelajari pada awalnya sebagai kebutuhan masyarakat Arab untuk memahami al-Qur’an. Utamanya adalah mereka orang-orang atau bangsa yang baru memeluk Islam.

Motif berikutnya adalah ada juga yang mempelajari bahasa Arab untuk menduduki posisi pemerintahan. Mereka mempelajari bahasa Arab sampai dengan derajat paling mahir. Dinasti Umayyah memang dikenal menjadi dinasti yang paling kuat arabisme-nya.

Berikutnya yang terakhir adalah motif komunikasi. Bahasa Arab dipakai oleh para penakluk yang notabene memiliki keturunan Arab. Bahasa ini diperlukan untuk perbincangan dengan mereka dalam beberapa hal yang berkaitan dengan komunikasi dan kekuasaan.

Mentalitas dalam mempelajari bahasa Arab saat ini tentu mesti dimurnikan dan direlevansikan. Disepuh dari berbagai motif keduniaan yang busuk dan digeser pada motif keagamaan yang mukhlish. Namun meskipun demikian, pembelajaran bahasa Arab juga harus direlevansikan dengan isu kebahasaan global dan tantangan pragmatiknya.

 

Related posts