Belajar dari Garis Mulia Leluhur Nabi Muhammad SAW

Tulisan ini bukan hendak membahas tentang para Habaib saat ini yang sedang banyak ditautkan dengan berbagai isu dan topik nasional. Mulai dari politik, sosial sampai isu-isu radikalisme agama dan intoleransi. Sunnah kehidupan saja nampakanya bahwa setiap orang dari garis keluarga atau trah manapun yang bervariasi dan berbeda dalam menentukan ke mana arah langkah hidupnya. Masing-masing punya pilihannya sendiri. Namun kita juga dapat belajar dari garis mulia leluhur Nabi Muhammad SAW.

Hikmah dari Sirah Nabi

Ini tentang hikmah yang dipetik dari Sirah Nabi yang ranum dengan bunga-bunga keteladanan dan qudwah dalam kehidupan. Rupa-rupanya bukan saja pada diri Nabi SAW semata, namun pancaran keteladanan dan qudwah itu sudah muncul dalam garis panjang leluhur beliau.

Read More

Belajar dari Garis Leluhur Nabi Muhammad SAW

Abdullah bin Abdul Muthalib yang merupakan ayah beliau adalah sosok yang begitu tulus dan amat taat kepada ayahnya. Ketaatan itu hampir serupa dengan ketaatan Nabi Ismail a.s. kepada ayahnya, Nabi Ibrahim a.s. Utamanya dalam kasus di mana keduanya sama-sama hendak disembelih. Nabi Ibrahim a.s. hendak menyembelih Nabi Ismail a.s. karena perintah dari Allah SWT. Sedang Abdul Muthalib hendak menyembelih Abdullah karena nadzarnya yang telah terkabul oleh Allah SWT.

Keduanya sama-sama begitu berat, namun putra dari keduanya sama-sama begitu ikhlas tak ada protes sedikitpun, bahkan mempertanyakan pun tidak.

Namun akhirnya Allah SWT mengirimkan tanda-Nya menukar Nabi Ismail a.s. dengan seekor kambing atau gibas. Begitupun Abdul Muthalib mengganti Abdullah dengan tebusan 130 ekor unta.

Abdullah bin Abdul Muthalib punya paras yang rupawan lagi terhormat. Kesederhanaan Abdullah tampak dari bagaimana ia melewati biduk rumah tangga bersama Aminah. Untuk menggapai kebahagaiaan mahligai rumah tangga Abdullah dan Aminah tidak lantas tinggal di rumah yang besar dan mewah dengan harta yang ruah melimpah.

Sedang Abdul Muthalib bin Hasyim adalah sosok dengan pribadi yang memiliki keteguhan dalam iman, ketegasan, kesetiaan, kemampuan dalam menahan diri tatkala menghadapi musuh dan bahaya. Juga tekad yang tidak mudah luntur hanya karena kalkulasi keuntungan dan kerugian. Hal ini dapat dilihat ketika beliau menghadapi pasukan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Termasuk beliau sejak muda menjaga diri dari minuman-minuman keras, perzinaan dan kekerasan.

Di Sini Kita Belajar

Dalam tulisan ini penulis mencukupkan diri pada sosok Abdul Muthalib bin Hasyim saja, sebenarnya masih banyak kisah keteladanan dari leluhur Nabi berikutnya yang juga sangat memikat. Rangkaian leluhur Nabi itu laksana sanad-sanad cahaya. Dalam pandangan Quraish Shihab sanad-sanad tersebut adalah Nur Muhammadiyah yang padanya ada gen-gen hamba Tuhan yang unggul baik secara moral mapun spiritual.

Tidak penulis temui mulai dari Abdul Muthalib – Abdullah – Muhammad SAW bertepuk dada karena memiliki garis keturunan yang mulia. Mereka menjadi mulia dan terhormat atas rintisan kisah mereka sendir – sendiri. Kemuliaan yang lahir dari perkelahian mereka dengan anomali-anomali hidup sehingga tetap setia dengan nilai-nilai hidup yang suci dan sejati.

Baca juga: Membaca Literatur-Literatur Sirah Nabi

Sehingga wajar bila Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan satu ucap hikmah yang kurang kebih berbunyi, kemuliaan seorang pemuda bukan berasal dari siapa dia (keturunan) tapi inilah saya. Dengan achievment-achievment yang positif tentunya.

Oleh karenanya dari sini tentang  belajar dari garis mulia leluhur Nabi Muhammad SAW kita dapat mendulang beberapa hikmah. Bila saat ini kita tengah menjaga diri dari berbagai hal-hal yang negatif, sejatinya kita tengah merintis generasi penerus yang baik di masa berikutnya, bahkan bisa jadi menjadi generasi yang lebih baik dari kita.

Seorang ayah yan tengah berupaya bekerja dengan giat, setimbang dalam menunaikan kewajiban ubudiyyah dan pencarian nafkah, sejatinya tengah mempersiapkan generasi penerus keluarganya yang lebih baik.

Seorang ibu yang tengah giat berjibaku dengan waktu dalam mengurus rumah, mendidik anak, mengatur ekonomi rumah tangga, sejatinya tengah mengajarkan keteladanan hidup kepada anak-anaknya untuk generasi keluarga yang lebih baik.

Dalam hal ini penulis tidak hendak membahas demarkasi peran suami dan istri dalam perumah tanggaan. Tentu masih banyak lagi model lain dengan substansi yang sama.

Kita pernah mendengar bahwa hanya harimau yang dapat melahirkan harimau. Pun demikian yang kita lihat dalam Sirah Nabi yang mulia. Hanya Abdul Muthalib bin Hasyim yang dapat melahirkan sosok seperti Abdullah bin Abdul Muthalib. Pun hanya Abdullah bin Abdul Muthalib yang dapat melahirkan sosok seperti Muhammad SAW. Semoga kita bisa menjadi penerus sekaligus pencetak generasi keluarga yang lebih baik pada hari ini dan masa yang akan datang. Aamiin.

 

Related posts