Belajar dari Keraguan al-Ghazali

Dari paparan Gus Ulil ketika ngaji ihya semalam (6/8) ada beberapa hal yang sangat menarik dari sisi lain hidup al-Ghazali. Dengan mantap Gus Ulil mengatakan bahwa laku-laku al-Ghazali adalah laku yang sangat persis dengan kyai-kyai di Nusantara. Pasalnya dari mekanisme berpikir serta lakunya dalam memandang serta menyikapi situasi di sekitarnya menunjukkan hal-hal kepersisan yang tidak jauh berbeda.

Seperti biasanya di beberapa pertemuan ngaji terbaru ini, Gus Ulil mengetengahkan dulu babaran kitab al-Munqizh min al-Dhalal. Kitab tersebut masih ditulis oleh figur yang sama, yakni Imam al-Ghazali sendiri. Banyak orang menyebut kitab ini dengan karya al-Ghazali yang memuat autobiografi dirinya. Gus Ulil sendiri mulai membawa kitab ini dalam rutinan ngaji ihya kurang lebih sejak bulan Ramadhan kemarin.

Read More

Keinginan yang Tetiba Muncul

Gus Ulil mengatakan bahwa ketika Imam al-Ghazali sedang asyik ma’syuk dengan tapa-bratanya di Damaskus, tetiba muncul rasa keinginan dalam dirinya untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat yang tengah dilanda kekeringan spiritual. Kekacauan di luar pertapaan banyak tertangkap oleh indera al-Ghazali dan diukirkan dalam lembaaran-lembaran kitabnya.

Namun perasaan empati sosial itu segera dihadang dengan rasa lain yang menjadi antitesanya. Sejumput kekhawatiran muncul dalam benaknya bahwa apabila ia kembali ke tengah-tengah masyarakat maka tidak menutup kemungkinan ia bisa kembali jatuh dalam degradasi ruhani. Padahal ia sudah melewati riyadhoh dan mujahadah yang cukup lama dan sulit untuk mencapai ketenangan dan kedamaian yang tengah di genggamnya.

Jumputan kekhawatiran itu dipertebal dengan kalkulasi pemikiran yang lain. Di mana Nizham al-Mulk yang menjadi The Protector al-Ghazali dalam bidang politik telah meninggal. Hingga ia semakin berpikir apakah iya akan efektif bila ia turun gunung dari menara gadingnya. Sedangkan situasi sosial politik di luar sudah sedemikian kacaunya.

Volume ketebalan kekhawatiran itu membuat al-Ghazali kali ini mengurungkan niatnya untuk turun gunung ke tengah-tengah masyarakat. Ia kembali ke menara gading tempat ia bertapa menikmati kenyamanan spiritualnya.

Bisa Terjadi pada Siapa Saja

Gus Ulil mengkontekstualisasikan bahwa keadaan semacam itu kerap dirasakan oleh para kyai di Nusantara. Terlebih saat mereka selesai ngaji di pondok lalu berniat untuk mendirikan pesantren. Lalu kekhawatiran yang kerap datang di antaranya adalah kekhawatiran bila faktor finansial tidak mendukung, faktor sosial masyarakat yang antipati bahkan faktor politik pemerintah setempat yang belum bisa memberi support.

Namun dalam hal ini penulis melihat bahwa kekhawatiran atau keraguan yang dialami oleh al-Ghazali tersebut adalah keraguan yang positif. Wajah keraguan yang justru menguji balik sekuat apa dan sesiap mana al-Ghazali hendak terjun ke tengah situasi tersebut. Hal ini tentu bisa terjadi kepada siapapun, meski kualitas kita tentu sangat jauh dengan kualitas al-Ghazali. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk tidak serampangan mengambil keputusan lebih-lebih mengatasnamakan agama untuk penyelamatan sosial masyarakat. Namun justru mengajarkan kita untuk berwaspada dari nafsu yang sering ber-malih rupa. Mengajarkan kepada kita untuk lebih tenang dan jernih menemukan bisikan Tuhan yang hakiki. Sehingga dari sanalah mata air keyakinan akan mengalir membasahi lading-ladang hati dan pikiran yang sedari tadi kering dilanda kekhawatiran.

Related posts