Catatan Ngaji Nahwu Sufi #9: Mahwi, Nahwunya para Salik

  • Whatsapp
nahwu lisan nahwu hati

Ngaji episode ke-9 adalah ngaji untuk menyelesaikan dalam membaca muqoddimah kitab Munyatul al-Faqir karya Syaikh al-Kuhin. Tema sentral pada ngaji kali ini masih seputar pentingnya menangkap makna dari yang tersurat, sebagaimana yang dilakukan oleh para salik. Syaikh Sayyid Husain Ibn Abdu al-Syukur pernah berkata: “Ulama ahli bathin ketika mendengarkan al-Qur’an maupun Kalamullah tidak pernah berhenti hanya memahami hubungan antar ayat per-ayat, tidak hanya fokus pada aturan berbahasa seperti huruf syarat, istitsna’ akan tetapi mereka berusaha sekuat tenaga untuk menggali makna yang terkandung di dalamnya sehingga akan didapat kemegahan dan kemilauan dalam setiap kalimat maupun ayat”.

Yang Tersembunyi di Balik al-Qur’an

Bacaan Lainnya

Al-Quran secara lahir tersusun secara apik, indah dan rapi baik dari sisi balaghah maupun tarkib-nya. Itu adalah salah satu bukti i’jazi al-Quran. Kemukjizatan secara lahir tersebut bukan berarti untuk memalingkan para pembaca, pengkaji dan mufasir al-Qur’an tersebut dari keindahan dan kedalaman ayat per-ayat dan surat per-surat. Justru para pembacanya harus berjuang untuk menangkap makna yang mendekati makna yang dikehendaki-Nya. Bahasa sederhananya, yang tampak lahir dari al-Quran saja indah dan berkilau apalagi yang tidak tampak dan tersembunyi darinya, pasti akan lebih bermakna dan bercahaya.  Maka manusia tidak boleh hanya “terpesonan” pada yang tampak-lahiriyah saja, akan tetapi mengikuti jejak para salik yaitu membersihkan jiwa dan meningkatkan kualitas spiritual untuk menangkap cahaya ilahi dari setiap kalam-Nya.

Kebanyakan orang tatkala mendengarkan sebuah ungkapan baik lisan maupun tulisan dari yang lain, hanya melihat dari sisi bahasanya belaka tanpa memikirkan pesan atau makna simbolik dari ungkapan tersebut. Kebiasaan tersebut ternyata juga berlanjut ketika membaca firman-firman Tuhan, mereka terjebak hanya pada stuktur yang menghubungkan antar kata dan kalimat tanpa berusaha menyingkap makna isyarinya. Padahal hubungan antara kata, kalimat, maupun bahasa dengan makna isyari itu laksana bayang-bayang karena sorotan matahari yang ada di angkasa.

Menurut teori semantik (ilm al-Dalalah), paling tidak untuk mengungkap makna, seorang pembaca perlu memahami 3 hal yaitu; pesan (nash), pemberi pesan (Allah SWT) dan pembaca pesan (manusia). Jika seseorang memahami al-Qur’an hanya memilihat struktur kalimat maka dia tidak akan mampu mengungkapkan makna hakiki bahkan mungkin juga pemahaman dia tidak akan mendekati makna yang dikehendaki pengirim pesan tersebut.

Dalam hal al-Quran pengirim pesannya adalah Allah SWT. Maka untuk memperoleh makna yang “mendekati” dengan yang dikehendaki pengirim adalah dengan tidak saja melihat struktur kalimat akan tetapi melakukan mujahadah, perenungan diri dan mendekatkan diri pada-Nya. Setiap huruf melahirkan beraneka ragam ilmu. Dari harakat dan tanda baca dalam al-Quran memancakan cahaya kepahaman.

Al-Quran menurut Ibn Darras, laksana mutiara yang setiap sudutnya memancarkan kilauan cahaya indah dan menawan. Kilauan cahaya itu adalah jamaliyah Allah SWT yang tidak bisa ditangkap dengan pandangan mata inderawi, mata fisikal, dan tidak pula terletak pada susunan kata perkata. Melainkan, hanya dengan mata batin, kejernihan jiwa yang diawali dengan mujahadah dan riyadhah-lah kilauan cahaya ilahi itu bisa tertangkap. Hanya orang-orang yang mendapat perlindungan dan taufiq Allah SWT yang mampu memenangkan dan mengumpulkan makna serta mengembalikan ruhnya pada kuasa Allah SWT.

Perbaikan Hati dari Nahwu

Ibnu Ajibah mengatakan bahwa setelah seseorang memahami gramatika Arab – Nahwu, maka dia harus berusaha memperbaiki kondisi hatinya dengan cara meninggalkan sifat-sifat tercela dan menghiasai diri dengan sifat-sifat terpuji. Laksana orang yang mendiami sebuah rumah, agar rumah tersebut selalu tampak asri, indah, nyaman dan kondusif untuk beribadah, maka dia harus harus rajin-rajin membersihkan rumah tersebut dari kotoran yang menghinggapinya. Ia juga harus mengeluarkan barang-barang yang sudah tidak dipakai dan mengatur desain atau tata letak perabotan rumahnya. Kemudian setelah itu dia baru bisa menghiasi rumahnya dengan pernak-pernik interior lain agar rumahnya menjadi lebih nyaman lagi untuk dihuni. Dengan begitu siapapun yang masuk rumah tersebut akan merasa nyaman dan aman.

Begitu juga halnya dengan hati, meminjam istilah al-Ghazali, tahapan seorang salik mula-mula ada takhalli, yaitu membuang sifat angkara murka, kebencian, takabur, serakah, tamak, kedurhakaan dan lain-lain agar tidak bersemayam dalam hatinya. Setelah itu tahap kedua adalah tahalli, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, baik akhlak kepada Allah SWT dan akhlak kepada makhluk lain-Nya. Buah dari dua tahapan tersebut adalah akan mendapatkan tajalli yaitu tampaklah keindahan dari segala yang ada karena memang segaa yang wujud adalah cermin keindahan dari yang maha indah.

Bagi Ibnu Ajibah, orang yang hanya pandai nahwu tanpa memperbaiki hatinya adalah orang fasik dan tersesat. Sedangkan orang yang hanya memperbaiki hati tanpa mau belajar nahwu adalah orang yang tidak sempurna. Orang yang sempurna adalah orang yang mau belajar nahwu dan orang yang mau memperbaiki hatinya. Sebagimana Sibawaih mengatakan: Lisan yang fasih adalah yang memperhatikan kaidah berbahasa dalam setiap ungkapannya // Dengan demikian dia akan selamat dan tanpa rasa penyesalan // Namun, memahami nahwu tidaklah ada gunanya jika tidak ada ketakwaan // Tidaklah ada bahaya bagi orang takwa meski lisanya tak fasih

Ungkapan yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh Syaikh Sholih al-Fakih al-Maimuny: ….”sebuah keburukan tatkala seseorang belajar ataupun mengajarkan untuk memahami ilmu nahwu, sedangkan dia tidak belajar atau mengajarkan cara memperbaiki hati, padahal hati adalah indera untuk melihat kuasa Allah”….

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nahwu itu ada dua yaitu nahwu lisan dan nahwu hati. Memahami nahwu hati bagi para salik tentunya lebih bermanfaat ketimbang hanya memahami hahwu lisan. Karena seringkali dijumpai orang-orang yang kurang memperhatikan nahwu lisan saat berbicara. Misalnya dia me-nashab-kan yang seharusnya marfu’ maupun sebaliknya. Akan tetapi perilakunya menunjukkan sifat-sifat yang mulia.

Begitu sebaliknya, betapa tidak sedikit orang yang fasih lisannya, ungkapan dan bahasanya selalu tepat dan benar menurut nahwu lisan. Akan tetapi perilakunya kurang terpuji dan bahkan tidak mencerminkan perilaku yang bersumber dati al-Quran dan al-Sunnah. Inilah awal mula malapetaka sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW; …”orang-orang yang fasik di antara umatku adalah para pengajarnya….”.

Hadist tersebut menandakan bahwa tidak sedikit para cerdik-pandai yang tidak membawa kepandaiannya untuk memperbaiki hatinya. Mungkin yang terjadi sebaliknya, kepandaiannya hanya untuk prestise, kebanggaan di antara mereka dan menjaga gengsi di antaranya. Nabi juga bersabda; “…ilmu itu ada dua macam yaitu ilmu lisan dari ilmu Allah (untuk) berargumentasi pada keturunan Adam. Dan ilmu hati, dari ilmu inilah ilmu itu bisa bermanfaat…..”.

Ilmu yang hanya diperuntukkan untuk berdebat, membanggakan diri dan menjaga prestise adalah ilmu yang hanya akan membuat perpecahan di antara umat manusia serta menjauhkan manusia dari sang Pencipta. Jika manusia ingin selamat, ingin hidup damai, tentram dan bermanfaat buat sesama adalah dengan belajar dan mengajarkan ilmu hati.

Ilmu jenis kedua ini juga obat bagi penyakit-penyakit jiwa yang  menjadi sumber kerusakan tatanan kehidupan manusia seperti, tindakan koruptif, perusakan alam semesta melalui penambangan liar, main hakim sendiri dan tindakan destruktif lainnya. Pangkal kerusakan itu adalah kecintaan pada dunia yang berlebihan. Maka tidak aneh pecintanya akan terhalang untuk mengetahui sang Haq. Nahwu hati di kalangan para sufi lebih dikenal dengan sebutan mahwi dengan mengganti huruf nun menjadi mim yang berarti menghapus segala hal yang ada dalam hati kecuali Allah SWT.

Nahwi dan Mahwi

Para salik mencukupkan diri pada mahwi untuk mereka gandrungi ketimbang ilmu-ilmu lain. Sebagaimana seorang wali agung Sayyid Ahmad Ibn Musa ketika beliau ditanya temannya; apakah kamu pernah belajar nahwu?. Lalu beliau menjawab; “iya saya belajar dua bait al-fiyah:

فما لنا إلا اتباع أحمد  ……tidaklah pantas bagi kami kecuali mengikuti Nabi Ahmad…..

فما أبيح إفعل ودع مالم يبح  ….maka lakukan yang diperbolehkan dan tinggalkan yang dilarang…..

Hal yang sama juga disampaikan oleh Syaikh Ibn Arabi, beliau berkata; “saya tidak tahu ilmu nahwu, kecuali I’rabnya firman Allah;

إن يكون فقراء يغنهم الله من فضله.   Huruf  إن  pada ayat tersebut adalah huruf syarat, sedang jawabnya adalah kata يغنهم .

Bagi para salik, mengetahui nahwu adalah jalan untuk mengenal, mendekatkan dan wushul pada Sang Khaliq. Nahwu tidak boleh hanya dijadikan ilmu yang hanya mempelajari kata, ungkapan, kalimat dan memperindahnya semata. Namun Nahwu adalah jalan untuk menghadirkan makna isyari dan tangga menuju pada perjumpaan dengan Dzat Yang Maha Abadi.

 

Kauman, 15 Mei 2020

 

Pos terkait