Catatan Ngaji Nahwu Sufi Eps 10; Basmallah adalah Mantranya Para Salik

banner 468x60

Ngaji episode ke-10 adalah permulaan kami membaca isi dari kitab Munyatu al-Faqir. Setelah sebelumnya dari episode ke-1 sampai ke-9 membaca muqodimah sang pengarang. Mula-mula kitab ini membahas basmallah mulai dari kandungan makna, rahasia dibaliknya dan manfaat melanggengkan membacanya.

Keutamaan Basmallah

Bacaan Lainnya

Menurut pengakuan Syaikh al-Kuhin, Ibn Ajibah dalam kitabnya, tidak membahas secara detail tentang bacaan basmallah. Hanya saja beliau menukil sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menerangkan bahwa “…segala risalah Allah, ajaran Allah dan pesan ketauhidan Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nabinya terkumpul dalam al-Qur’an. Seluruh kandungan al-Qur’an terhimpun dalam surat al-Fatihah, seluruh kandungan yang ada di dalam al-Fatihah terhimpung dalam kalimat bismillah, dan setiap kandungan yang ada dalam bismillah terhimpun dalam huruf Ba’, serta seluruh makna yang terkandung dalam huruf Ba’ terhimpun dalam titik yang di bawah huruf tersebut….”.

Titik adalah awal mula dari penciptaan alam semesta dan merupakan representasi jamaliah Allah SWT. Dia Yang Maha Jamal tidak akan pernah tampak jamailah-Nya bila tidak menciptakan titik-titik kehidupan. Dari titik itulah muncul alam, selain wujud-Nya, baik alam ruhy berupa para pembantu-pembantu-Nya, yaitu para malaikat dan setan, serta alam semesta berupa materi seperti bulan, matahari, bumi dan planet-planet lain serta seabrek penghuninya. Tidak berhenti di dua alam tersebut, Allah SWT juga menunjukkan jamaliah-Nya dengan menciptakan gerak, ucapan dan akal seperti binatang dan manusia. Tugas kodrati para makhluk Allah SWT tersebut adalah untuk bertasbih, bertahmid dan memuja-muji  atas asma-Nya Yang Maha Indah.

Rahasia basmalah tentu tidaklah sekadar tampak pada hurufnya, struktur kalimatnya dan keindahan ungkapannya. Akan tetapi rahasianya juga terletak pada keajaiban-keajaiban bagi orang yang mendawamkan dalam mengucapkannya dan mematrinya dalam sanubari. Bagi para salik, basmalah itu laksana kalimat kun bagi Allah. Jika Allah hendak bertitah dan menampakkan tajaliyah-Nya cukuplah dengan berfirman kun, maka kaum salik bils hendak tercapai maksudnya dan mencukupkan diri dengan melantunkan mantra bismillahirrahmanirrahim, maka akan wujud asa mereka.

Diceritakan dalam sebuah kisah, ada seorang perempuan zahidah yang lisannya tidak pernah kering mengagungkan asma-Nya. Hatinya tidak pernah putus hubungan dengan Rabb-Nya. Ketika hendak memulai aktifitas apapun selalu mengawali dengan mengucapkan basmallah. Suatu waktu, suaminya terheran-heran dengan kebiasaan sang istri tersebut. Karena penasaran dengan ritual istrinya, sang suami mencari dompet uang yang biasa istrinya taruh di bwah bantal tempat tidurnya. Begitu mendapati dompet tersebut, ia bergegas menuju sumur untuk membuang dompet kesayangan istrinya itu. Berniat untuk menguji “kesaktian” sang istri, ia kemudian pura-pura meminta uang, yang uang tersebut biasanya ditaruh oleh istrinya di dompet bawah kasur.

Begitu mendengar permintaan sang suami, dia kemudian bergegas menuju tempat dompet yang biasanya dijadikan tempat persembunyian. Sambil diawali dengan membaca basmallah dia buka bantal untuk mengambil uang dari dompetnya. Sang suami sudah memprediksi bahwa sang istri tidaklah akan sangggup menuruti permintaannya karena dompet tersebut sudah dibuang olehnya sendiri. Namun sungguh mantra basmallah telah menunjukkan keagungannya. Dengan bacaan basmallah seorang istri tadi mendapati dompet dan isinya dalam keadaan utuh. Tidak bergeser dan tidak juga bertambah maupun berkurang uang yang ada di dalamnya. Sang suami heran bukan kepalang begitu tahu bahwa istrinya mendapati dompet di bawah bantal tempat tidurnya, padahal dia telah membuangnya  ke dalam sumur.

Merutinkan Basmallah

Sayyid Husain Ibn Abdul Syakur al-Madany dalam kitabnya al-Fuyudhot al-Husna min Musyahadati al-Habib al-Asna mengatakan bahwa mengucapkan basmallah tidaklah sekadar ucapan di bibir yang tidak mengandung makna dan penghias lisan yang tidak berfaedah. Akan tetapi bacaan basmalah adalah kunci pembuka rahasia-rahasia ghaib dan kunci bagi terbukanya hikmah  ibadah. Basmalah juga sebagai pengurai dari kejumudan dan kebekuan dari makna dan penyingkap rahasia makna.

Terpancarnya cahaya-Nya, indahnya alam semesta dan  tersusunnya alam yang materi maupun non-materi adalah karena basmalah serta tidak ada makhluk satupun di planet bumi maupun planet lain, yang lepas dari genggaman basmalah. Basmalah juga merupakan argumentasi yang logik dan komprehensif atas wujudnya Dzat Yang Wujud. Kitab suci apapun dibuka dengan basmallah, karena lafadz tersebut menjadi pembuka atas ilmu-ilmu Allah SWT sehingga ilmu-Nya menjadi rasional, detail dan terperinci.

Allah dalam surat al-Hijr: 21 berfirmn bahwa “….tidak ada sesuatu apapun kecuali khazanah-khazanah (pemahaman) nya ada pada Kami. Dan tidaklah Kami menurunkan kita ini kecuali dengan ukuran yang diketahui….”. Ayat ini menyatakan dengan tegas, bahwa semua rahasia ilmu ada dalam genggaman dan kuasa-Nya. Bagi para salik kunci untuk membuka seluruh rahasia ayat-ayat Allah SWT adalah dengan basmalah.

Hal ini juga dipertegas dengan sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda; “….setiap perkara yang tidak diawali dengan membaca basmalah adalah terputus….”. Para sufi menafsirkan kata aqtho’ (terputus) adalah ketiadaan rahmat Allah SWT  dalam aktifitas yang dikerjakan. Jika tidak ada rahmat Allah SWT, maka implikasinya adalah keterputusan atas atau nihilnya barokah Allah SWT. Dengan ungkapan lain, rahmat dan barokah Allah SWT tidak akan pernah mengalir pada setiap aktivitas yang tidak dibacakan basmalah padanya.

Basmalah juga merupakan ungkapan “qur’ani” sekaligus ungkapan yang biasa diucapkan alam semesta beserta isinya. Jika manusia tidak membiasakan mengucapkan basmalah, maka hendaknya dia malu dengan alam yang dia jadikan tempat tinggal sekaligus bercengkrama di atasnya. Sebaliknya, beruntunglah bagi orang-orang yang membiasakan diri mengucapkan, menjaga dan memberi hak-haknya dengan cara menjadikan basmalah sebagai imam atas laku hidupnya. Sebagaimana firman Allah dalam al-Isra’; 71 يوم ندعوا كل أناس بإمامهم  “….pada hari kami memanggil setiap kelompok dengan Imam mereka….”.

Siapapun yang menjadikan basmalah mantra setiap aktivitasnya, makan mantra tersebut akan menjadi imam yang kelak akan menuntutnya masuk surganya Allah SWT. Sungguh berbahaya bagi manusia yang tidak memiliki imam dalam setiap amalnya, karena ketiadaan imam berarti tiada akan penolong, pelindung dan pemandu saat nanti sowan menghadap Tuhan alam semesta. Bagi seorang salik, basmalah adalah media untuk selalu wushul pada Allah, bagi seorang murid basmalah adalah kunci pembuka atas ilmu-ilmu Allah.

Biasakan menbaca basmalah niscaya dia akan memberimu pertolongan.

 

Kauman, 18 Mei 2020

 

About Post Author

Pos terkait