Catatan Ngaji Nahwu Sufi Eps 4: “Pertaubatan” Sang Pendekar

Pada pertemuan ke-4, bacaan kami masih melanjutkan penjelasan pentingnya seseorang untuk gandrung  ilmu batin, jika belum bisa gandrung minimal mempercayai atas wujud ilmu tersebut. Terlebih bagi seorang ilmuan, expert, cendekiawan dan para intelektual, ilmu batin akan memandu  kepada kebenaran. Ilmu teoritik seperti teologi, filsafat, sains bahkan fiqh sekalipun lebih dominan hasil racikan logika, penalaran dan eskperimen. Ilmu-ilmu tersebut jika dipakai untuk mendekatkan diri pada sang pencipta hanya akan melahirkan dugaan-dugaan semata dan mungkin jauh dari senyatanya.

Terlebih jika ilmu-ilmu tersebut dikembangkan dengan cara dan tujuan untuk membanggakan diri. Alih-alih bertemu Tuhan, justru ilmunya akan menjadi hijab, penghalang, menuju Tuhan. Tak heran jika si empunya hanya akan senang berdebat, berselisih paham, mencari-cari dalil dan argumen untuk menguatkan serta melegitimasi pendapatnya.  Tinggi ilmunya, luas wawasannya, dalil-dalilnya sudah hafal di luar kepala, tapi gersang hidupnya, gelisah perasaannya, dan yang ada hanyalah kekhawatiran-kekhawatiran.

Read More

Mengolah Ilmu Batin

Syaikh al-Thayyibi dalam hasiyah al-Kasyafnya, sebagaimana dikutip oleh al-Sya’rani mengatakan “Tidak seyogyanya bagi seorang yang luas ilmunya tidak bergaul dengan ahli ilmu batin, karena para ahli batin akan menunjukkan jalan kebenaran, membantu membersihkan jiwa, menjauhkan dari ilmu-ilmu lahir yang hanya karena syahwat kebangaan, dan para ahli ilmu bathin tersebut juga akan mengantarkannya untuk medapatkan ilmu laduni”.

Ilmu bisa didapatkan melalui dua metode, demikian para ulama berpendapat, yaitu; hushuli dan Hudhuri. Hushuli adalah ilmu-ilmu yang didapatkan melalui cara belajar, mendayagunakan nalar, kognitif, eksperimen dan berupa teori-teori. Ilmu ini sangat membantu manusia untuk mempermudah hidupnya, memperlancar komunikasi antar sesama dan bahkan dengan ilmu ini manusia bisa “manaklukkan” dunia-seisinya.

Ilmu hushuli adalah ilmu-ilmu yang Allah berikan kepada manusia dalam rangka mengesakan dan mengagungkan asma-Nya. Namun sayang manusia-manusia yang diberi ilmu dengan cara ini, jangankan mengesakan Tuhan, justru sebaliknya dengan ilmunya manusia menjadi congkak dan bahkan bersikap destruktif.

Manusia dengan ilmu hushuli tidak sedikit yang justru menerjang rambu-rambu hukum alam, sunnatullah, melakukan perusakan alam, kurang peduli terhadap lingkungan bahkan tidak jarang yang saling membunuh karena ilmunya. Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi alih-alih untuk menjaga kelestarian alam yang diciptakan Tuhan, justru dengan ilmunya manusia dengan “sengaja” merusak keindahan alamiahnya.

Keindahan alam semesta  yang merupakan manifestasi keindahan-Nya justru dirusak dengan dalih pemanfaatan. Makhluk lain yang tugasnya bertasbih pada-Nya menjadi tidak nyaman dan sering terusik oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Jika kepintaran manusia karena ilmu hushuli-nya tidak dibarengi dengan kejernihan jiwa dan keikhlasan niat untuk mengembangkannya semata mengagungkan-Nya, maka dikhawatirkan kelak dunia ini akan “kiamat” sebelum waktunya.

Tipe ilmu kedua adalah hudhuri, ilmu yang diperoleh karena kebersihan jiwa, kesungguhan hati dalam bermunajat pada-Nya dan menjauhkan diri dari nafsu bejat yang merongrongnya. Untuk mendapatkannya bukan dengan cara membaca tumpukan buku, belajar logika, filsafat dan retorika, melainkan dengan cara selalu menghubungkan hatinya dengan sang Kholiq. Selalu membasahi bibirnya dengan bertasbih, menghembuskan nafasnya dengan mantra-mantra suci, dan tidak pernah berpaling dari mengesakan-Nya.

Ilmu ini hadir dengan riyadhah, terlebih riyadhoh ruhiyyah dan ruhnya adalah keikhlasan. Sebagaimana Ibnu ‘Athaillah berkata: seluruh aktivitas hanyalah tampilan luarnya laksana robot dan zombie-zombie, maka masukkanlah di dalamnya ruh keihklasan. Betapa sempurnanya jika seseorang bisa memperoleh kedua ilmu tersebut, dia akan bermanfaat bagi orang banyak dan jauh dari kesombongan dan keangkuhan. Ilmunya laksana kapal yang menyelamatkan hidup manusia dari hempasan ombak nafsu angkara murka, melindungi mereka dari angin topan keserakahan dan menghantarkan manusia pada keindahan pantai serta kekekalan hidup.

Pengalaman Pendekar al-Ghazali

Imam al-Ghazali adalah salah satu contoh seorang yang mempu mendapatkan ilmu dengan dua metode tersebut. Sebagaimana diceritakan al-Sya’rani, di saat al-Ghazali pada puncak karirnya, menjadi Rektor Madrasah Nizhamiyyah, dekat dengan penguasa, hartanya  melimpah dan semua orang, baik awam maupun ilmuan, hormat padanya  hatinya bergoncang, sesak dadanya dan galau hidupnya. Dia merasa ilmu yang dimiliki, gelar yang disandang, jabatan yang diduduki ternyata tidak mampu menjawab apa sesungguhnya yang dicari?. Hidup ini untuk siapa?. Dan akan kemana?.

Pertanyaan demi pertanyaan itu muncul menghantuinya dan akhirnya dia memutuskan untuk menanggalkan atribut-atribut “keduniawian” itu. Al-Ghazali melakukan perenungan diri, uzlah, kontemplasi dan menjauhkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan. Setelah melakukan perenungan yang mendalam, al-Ghazali memutuskan untuk meninggalkan ilmu-ilmu yang selama ini dia geluti dan beralih pada ilmu batin seraya mengatakan; ضيعنا عمرنا كله فى البطالة، فيا خيبة مسعاي فى تلك الأيام (umurku telah sia-sia dalam kekosongan…ooh betapa ruginya saya pada hari-hari itu).

Ungkapan al-Ghazali itu terdengar se-antero Irak dan Arab pada umumnya. Maka tidak heran, melihat dan mendengar perubahan drastis al-Ghozali tersebut ada sahabatnya yang bercanda padanya; bukankah dengan ilmumu yang kemarin kamu menjadi orator, terkenal, kaya dan disegani banyak orang?!. Bahkan kamu dijuluki hujjatul Islam?!. Mendengar ledekan kawannya tersebut lantas al-Ghozali menjawab; huuuusss…jangan ingatkan aku tentang masa laluku yang suram itu. Al-Ghozali nampaknya benar-benar “bertaubat” atas ilmu-ilmu yang dikuasinya selama ini. Bahkan, dia mengingatkan teman-temannya tentang sebuah riwayat hadis  Nabi Muhammad SAW: إن الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر  secara redaksi bahasa Indonesia kurang lebih artinya “sesungguhnya Allah akan menegakkan agama ini (Islam) dengan seorang laki-laki yang penuh kemaksiatan”. Nampaknya al-Ghozali mengkategorikan orang-orang yang berilmu dengan penuh kesombongan adalah orang-orang fajir.

Mewaspadai Muslihat Fajir

Mengenai hadis tersebut, terdapat sejarah yang melatarbelakangi  turunnya, asbab al-nuzul. Suatu saat tatkala Nabi Muhammad dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, terdapat suatu kaum yang ramai-ramai bersyahadat dan berbait kepada Nabi, hanya satu salah satu tokoh kaum tersebut, enggan untuk mengikuti yang lain akan tetapi jika tidak mengikuti bersyahadat dia khawatir akan kewibawaan dan pengaruhnya. Walhasil, dia ikut berbaiat dan bersyahadat. Syahadat dan baiatnya hanya dilisan, tidak masuk dalam relung jiwanya yang paling dalam.

Meskipun begitu, di saat peperangan diapun maju ke medan perang dengan kegagahannya. Dengan pedangnya yang tajam dan kudanya yang lincah, bahkan musuh-musuhpun takut dan takluk atas keberaniannya tersebut. Ketika terjadi perang Hunain, diapun tidak mau ketinggalan untuk ambil peran dalam peperangan. Maju terdepan dengan kuda dan senjatanya yang sudah siap menghunus tubuh musuh. Celakanya dia tertusuk tombak di dadanya dalam peperangan tersebut.

Tibalah pada malam hari, dia merasa kesakitan atas tusukan tombak tersebut. Meraung-raung kesakitan layaknya anak kecil yang kena duri di kakinya. Meronta-ronta layaknya kuda yang disembelih. Karena ketidak sabaran atas sakitnya itu, kemudian dia melakukan bunuh diri, secara diam-diam, dan akhirnya meninggal dunia. Berita meninggal dunianya sampailah kepada Nabi. Para sahabat Nabi terkejut layaknya disambar petir di siang bolong, saat Nabi berkata: Dia mati dan akan masuk neraka.

Bagaimana dia bisa masuk neraka, sedang dia adalah seorang pemberani di medan perang?!. Ikut berjuang bersama sahabat lain, rajin ibadah, pakaiannya layaknya orang shalih dan hidup semasa Rasulullah?. Ooohhh no…. !, jangan terperdaya dengan tampilannya, dia masuk Islam bukan karena panggilan jiwanya, bukan karena hidayah-Nya, juga bukan karena keikhlasanNya, melainkan karena prestisnya, kedudukan sosialnya dan mungkin juga karena ingin mendapatkan kekayaan.

Betapa hadis Nabi di atas memberikan pelajaran berharga dan mengingatkan kita semua ternyata kita tidak boleh bergembira dulu dengan semarak keislaman. Tontonan TV yang “Islami”, medsos penuh dengan kalam-kalam ilahi, jalan-jalan berseliweran banyak orang dengan baju “takwanya”, bendera-bendera “tauhid” terpampang panjang nan lebar dan pekikan takbir menggelegar di udara, ternyata belum tentu itu sebuah amal shalih. Bisa jadi itu semuanya dilakukan bukan karena Allah dan mengharapkan ridha-Nya. Tapi sebaliknya para pelakunya adalah orang-orang fajir, melakukannya hanya karena popularitas, pujian orang lain, menumpuk pundi-pundi kekayaan,….na’udhubillah min dzalik. Sekelas para sahabat saja bisa tertipu oleh gerakan orang-orang fajir apalagi sekelas kita yang tidak siapa-siapanya sahabat,

Wallahu a’lam bi al-Showab.

 

Kauman, 23 April 2020

 

Related posts