Catatan Ngaji Nahwu Sufi eps 5: Keramatnya, Keridhoan-Nya

afi.uinda.gontor.ac.id
banner 468x60

Banyak pesrsepsi masyarakat yang mengatakan bahwa kaum sufi lebih mementingkan hubungan substansial dan hati ketimbangan memperhatikan  aspek legal formal. Misalnya, sebagaian masyarakat menganggap bahwa ukuran diterima atau tidaknya shalat seseorang bagi kaum sufi lebih dilihat apakah shalatnya mampu menjadi instrumen penyujian jiwa atau tidak. Sedangkan bagi kaum fuqoha’, sah tidaknya shalat bergantung pada apakah syarat dan rukunnya terpenuhi atau tidak.

Tidak Pernah Meninggalkan Syariat

Bacaan Lainnya

Kaum sufi menjadi “tertuduh” seolah-olah merekalah yang “merusak” tatanan  hukum peribadatan yang sudah dibangun oleh ulama-ulama syariat. Pertanyaannya, apakah memang seperti itu?. Bahwa kaum sufi tidak memperhatikan aspek legal-formal?.

Menjawab pertanyaan tersebut Syaikh Izzuddin Ibn Abdissaalam mengatakan: قد قعد القوم من الصوفية على قواعد الشريعة التى لاتنهدم دينا وأخري، وقعد غيرهم على الرسوم  (sungguh orang-orang sufi berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariat yang tidak merusak dunia dan akhirat, sedangkan kelompok selain para sufi biasanya hanya memegangi pada aspek legal-formal saja). Syaikh Izzuddin Ibn Abdissaalam ingin mengatakan bahwa kehidupan kaum sufi, terutama tata cara beribadahnya, tidak pernah meninggalkan aturan-aturan syariat. Bahkan kaum sufilah yang mampu mensinergikan antara syariat dengan tasawuf. Karena dengan memadukan dua hal tersebut manusia akan selamat hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Pada saat yang bersamaan beliau juga “mengkritik” orang-orang yang hanya melihat sisi aspek legal-formal dalam beribadah, yang pada gilirannya melaksanakan ibadah hanya sebatas rutinitas, menggugurkan kewajiban dan tanpa ada bekas baik dalam rasa, ucapan mapupun perilaku. Lebih lanjut Syaikh Izzuddin menjelaskan, sebagai bukti adanya keridhoan Allah terhadap laku spiritual para ahli tasawuf adalah memberikan karomah dan perilaku yang khoriqu al-‘adah (di luar kebiasaan manusia pada umumnya).

Jika semua orang alim, bahkan yang tidak mengamalkan ilmunya, mendapatkan ridha Allah, pastilah mereka juga akan mendapatkan karomah. Artinya karomah yang dimiliki para wali adalah bukti keridhoan Allah atas ilmu dan lakunya. Sebagaimana cerita para salikin ketika tertimpa masalah mereka mendapatkan ma’unah dan karomah dari Allah sehingga mereka dapat menjalani dan melalui masalahnnya dengan happy ending.

Karomah-Karomah

Pendiri tarikat syadziliyyah, Abu Hasan al-Sadzili, suatu saat sedang melakukan perjalanan dengan menaiki perahu. Di tengah-tengah perjalanan tersebut, datanglah ombak besar yang menerjang kapalnya dan goncangan dahsyat melanda kapal tersebut. Angin kencang, petir dan hujan lebat juga menjadikan suasana semakin mencekam dan mengkhawatirkan. Pada saat itulah, dengan kebersihan jiwanya, Abu Hasan Al-Syadzili membaca doa-doa, baik yang diambil dari al-Qur’an maupun sunnah dan juga munajat mantra-mantra beliau sendiri.

Doa yang dipanjatkan seorang salik mampu menembus langit dan langsung diijabah oleh Allah, sehingga goncangan kapal akibat badai, angin besar dan ombak seketika itu berhenti dan kapalpun melanjutkan perjalanannya. Maka setelah kejadian itu, doa-doa yang dibaca oleh Abu Hasan al-Sadzily dikenal dengan sebutan hizb bahr, mengingat beliau menyusunnya saat berada di hamparan laut yang luas. Maka sebagian ulama, terutama yang mengikuti jejak beliau yaitu ikut tarekat syadziliyyah, dianjurkan untuk membaca hizb ini minimal sehari sekali. Hizb ini jika dibaca, diyakini mampu membantu menyelesaikan masalah bagi mereka yang tertimpanya, melancarkan rizki dan menjadi wasilah akan datangnya pertolongan.

Syaikh al-Shoqli dalam kitabnya anwar al-Qulub fi al-Ilmi al-Mauhub membagi 4 kategori manusia dalam merespon ilmu bathin, tasawuf, yaitu; Pertama, orang yang istimewa yakni orang-orang yang percaya bahwa ilmu tasawuf adalah bagian dari ilmu agama yang eksistensinya dibutuhkan oleh manusia. Kedua, orang super istimewa yaitu orang-orang yang memahami ilmu tasawuf dan mengamalkannya. Ketiga, orang excellent yaitu orang-orang yang mampu menjelaskan ilmu tasawuf dengan baik kepada khalayak serta dibarengi dengan perilaku yang menunjukkan atas penguasaan ilmunya tersebut. Orang ketiga ini, menurut al-Shoqli, laksana bintang di langit yang sulit dijangkau. Artinya betapa sulitnya menjadi orang dengan kategori yang ketiga ini, karena harus memenuhi persayarat-persyaratan tertentu.

Tidak semua orang mampu dan menerima keberadaan orang-orang yang memiliki kesadaran untuk belajar ilmu batin, maka Syaikh al-Shoqli  menganjurkan untuk berbuat basyiroh¸ mengabarkan kabar gembira bagi orang-orang yang melihat orang lain belajar ilmu bathin. Sedangkan bagi mereka yang sudah memahami ilmu bathin ini, maka kewajiban yang lain adalah memberikan apresiasi dan mendukungnya. Bagi orang yang sudah mampu menjalankan laku ilmu bathin, maka muliakanlah. Agar tidak menjadi bagian yang keempat, yaitu orang yang menghujat, mem-bully dan meremehkan ilmu bathin, maka hendaknya menghindarkan diri dari orang-orang yang berperangai tersebut.

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang bergerak tanpa adanya sekat-sekat ruang dan waktu, ilmu tersebut akan selalu terejawantahkan sesuai kondisi zaman, tempat dan tantangannya. Ilmu bathin juga ada pada setiap kelompok maupun kelas sosial, hanya saja bentuk dan ekspresinya yang berbeda-beda. Tidak seperti ilmu-ilmu lain yang relevansinya terbatas pada masa dan tempat tertentu, sebagaimana dalam ilmu fiqh, lahirnya perubahan pendapat, qoul qodim dan qoul jadid, adalah bukti adanya sekat, batasan dan dimensi waktu serta ruang.

Ilmu tasawuf tidak mengenal dimensi tersebut, ilmu ini akan selalu mencari bentuk dan kontekstualisasinya dalam setiap relung zaman dan makan (tempat).  Jumhur ulama’ mengatakan bahwa ilmu tasawuf adalah ilmunya para shiddiqin, orang-orang  terpercaya. Bagi mereka yang belajar, bergaul dan berjalan atas ilmu tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, muqorrobin.

Memiliki Sikap Husnuzhon

Syaikh al-Qutb Sayyid Abdullah Ibn Abu Bakar al-Aidrus, menjelaskan tahapan pertama seorang murid agar mampu menerima ilmu dari gurunya adalah bersikap  husnuzhon , berbaik sangka, kepada guru dan ilmu yang diajarkannya. Nampaknya sikap husnuzhon ini yang berkurang akhir-akhir ini. Tidak sedikit murid baik di sekolah bahkan sampai Perguruan Tinggi kurang memperhatikan sikap ini, sehingga tidak aneh terdengar di berita-berita mass media baik cetak maupun elektronik, seorang murid menyepelekan gurunya. Bahkan sampai pada perilaku mem-bully dan berani pada gurunya.

Begitu juga di Perguruan Tinggi, tidak sedikit mahasiswa yang berprasangka negatif atas kemampuan dosennya. Bahkan tidak jarang ada yang merendahkan dosennya di depan teman-temannya. Atas nama egalitarianisme, kesetaraan, dan bahkan berdalih atas kesamaan di mata hukum beberapa mahasiswa mengolok-olok dosennya baik secara langsung maupun lewat medsos. Jika demikian yang terjadi, lalu dari mana akan lahir keberkahan ilmu?. Dari mana akan muncul kemuliaan ilmu?. Dan dari mana akan lahir generasi yang beradab?. Bukankah الادب قبل العلم, adab before knowledge?.

Maka sungguh betul langkah pertama dalam berilmu, menurut kaum sufi, adalah memperbaiki akhlak dan salah satu sumber akhlak yang mulia adalah husnuzhon berbaik sangka pada guru. Sikap ini selain akan membuka pintu-pintu ilmu, juga akan menjadi sumber bashiroh, penghilatan dengan mata hati dan memperbaiki laku hidupnya. Bagi pemiliknya, sifat husnuzhon juga akan mendatangkan kemulian, kebahagiaan  dan pada akhirnya nanti akan menjumpai kematian dengan husnul khotimah. Dengan meninggal secara husnul khotimah insyaallah akan dimasukkan dalam surga Allah. Itulah buah dari bersangka baik kepada guru.

 

Kauman, 28 April 2020

 

Pos terkait

1 Komentar

  1. benar sekali..tidak sedikit para Salik yang “kelihatannya” masuk kategori excellent tetapi masih memandang syari’ah sebagai level terrendah beribadah.. dan bahkan dengan bangga mengatakan bahwa jika seseorang sudah mencapai derajat ma’rifatullah, maka syari’at tidak lagi diperlukan.. duhh #mumet ini

Komentar ditutup.