Catatan Ngaji Nahwu Sufi eps 8: Gila di Bumi- Waras di Langit

Pada pertemuan ke-8 kami masih membaca cerita-cerita para salik yang berbuat khoriqu al-‘Adah yaitu perbuatan  “melanggar” norma-norma yang selama ini diugemi oleh kaum awam. Yang dimaksud kaum awam di sini adalah orang-orang yang tidak ataupun gandrung dengan ilmu batin, meskipun mereka adalah orang-orang cerdik-pandai. Perbuatan melawan arus kepercayaan dan pengetahuan yang dilakukan oleh para salik tidak saja terjadi pada hal-hal syari’at-fiqh seperti tata cara beribadah, akan tetapi juga dalam hal tata bahasa Arab (nahwu), sebagaimana tergambar dalam sebuah cerita sebagai berikut.

Suatu ketika ada seorang mukaysifah, orang yang sudah tersingkap batas-batas dunia dan rahasia Ilahi serta mampu melihat keajaiban-keajaiban keagungan-Nya, beliau ketika berbicara kata yang seharusnya menjadi fa’il (berarti harus marfu’), beliau jadikan maf’ul (dibaca manshub). Ungkapan tersebut didengar oleh orang awam seraya mengatakan bahwa ini kesalahan dan tidak benar serta tidak logis. Padalah tidak mungkin orang yang sudah mukasyafah tersebut tidak mengetahui aturan gramatika Arab, tidak mungkin juga dia melakukan kesalahan berbahasa dan juga tidak mungkin dia tidak mengetahui hakikat-hakikat bahasa yang diungkapkan.

Read More

Kekeliruan Gramatika

Bagi seorang yang masih mahjub, tertutup antara dinding duniawi dengan ukhrawi, akan menyalahkan ungkapan-ungkapan yang tidak sesuai dengan gramatika Arab. Hal tersebut disebabkan karena bagi para awam belum mampu menyingkap makna yang indah dan tinggi serta menganggap makna kata hanya tunggal dalam tataran an sich saja.

Selain itu, bisa jadi dikarenakan tinggi dan indahnya bahasa para salik sedang mereka (para awam) menuntut para salik menggunakan bahasa-bahasa yang populis. Sedangkan bagi para salik sudah tidak mungkin lagi menggunakan ungkapan-ungkapan populis mengingat sumber bahasa dan untaian kalimatnya adalah dari sumber rahasia alam, Allah SWT, yang tidak mungkin untuk dilarangnya. Justru melarang para salik menggunakan bahasa-bahasa yang indah dan tinggi maknanya hanya akan menghilangkan makna dan esensi futuh-nya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Tajuddin Abu al-Fadl Ibn Athoillah dalam kitabnya Lathoif al-Minan: beliau bercerita bahwa suatu saat Syaikh Taqiyuddin Muhammad Ibn Ali al-Qusyairi berkata bahwa dahulu di Baghdad, Irak, ada seorang ahli fiqh yaitu al-Jauzi, beliau adalah seorang ulama yang multidisiplin ilmunya karena menguasi lebih dari 12 ilmu, suatu hari beliau keluar rumah menuju madrasahnya seraya bersenandung: Jika sudah lewat tanggal 20 Sya’ban // Puaskanlah minum baik di malam maupun siang // Janganlah minum menggunakan tempat yang kecil //Karena waktu yang kamu miliki sangat sempit // Jika hanya dengan tempat yang kecil niscaya waktumu tidak akan cukup.

Syair di atas, jika dimaknai secara leksikon maka seolah-olah penyairnya menganjurkan untuk makan dan minum sebanyak-banyaknya. Mengingat sudah tanggal 20 Sya’ban yang berarti bulan ramadhan sebentar lagi datang. Di mana bulan tersebut dilarang makan dan minun pada siang hari. Bahkan tidak tanggung-tanggung tempat makan dan minumnya pun tidak boleh kecil agar makan dan minumnya tidak sedikit.

Akan tetapi syair-syair tersebut hanya ilustrasi atau metafora belaka. Artinya ada makna dan pesan spiritual yang hendak disampaikan oleh penyair. Pesan tersebut di antaranya adalah mengingatkan pembaca untuk segera memperbanyak istighfar, bertaubat, bersedekah dan berbuat baik kepada sesama mengingat sebentar lagi bulan mulia akan segera datang. Ini hanya sekelumit contoh bagaimana ungkapan para salik tidak boleh dimaknai dhahir bahasa dan ungkapannya belaka, akan tetapi harus dicari makna bathini sehingga akan medekati makna yang dikehendaki oleh pengucapnya.

Kedamaian dan Makna yang Sembunyi

Suatu ketika ada seorang yang membaca syair di depan Syaikh Makkiyuddin al-Asmar: Andai saja di sisiku ada seorang pembawa kedamaian // Niscaya aku akan dapat menggapainya tanpa menunggu waktu berbuka // Damai adalah keajaiban yang hanya kaulah peminumnya // Maka minumlah meskipun kamu akan berdosa karenanya // Wahai para pencela shahba’ yang bening // Tinggalah kalian di surga dan biarkan aku diam di neraka.

Setiap manusia pastilah merindukan kedamaian, keharmonisan dan ketenteraman. Dengan kedamaian seseorang akan mampu merajut asa, menggapai mimpi dan menggengam dunianya. Namun sayang banyak yang tidak mampu menggapainya. Jangakan menggapainya, cara untuk mendapatkannyapun banyak yang tidak tahu. Jika tidak tahu jalan menggapai kedamaian, maka tidak jarang menempuh jalan pintas yang justru akan menghancurkannya.

Banyak orang menganggap damai itu jika berharta banyak, maka hari-harinya disibukkan dengan menumpuk kekayaan. Bahkan untuk mendapatkannya pun sampai-sampai menggunakan cara yang tidak halal. Akibatnya bukan kedamaian yang didapat, melainkan rasa gelisah, bersalah dan setiap kali was-was yang selalu mengintainya. Sebagian menganggap damai adalah ketika mendapatkan jabatan, maka usaha mati-matian dilakukan demi mendapatkan jabatan yang diincarnya.  Bahkan tidak sedikit untuk mendapatkan jabatan tersebut melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan moral dan prinsip-prinsip demokrasi seperti suap, money politic bahkan sampai tega membuat fitnah untuk rival-rivalnya.

Damai bukan itu semua, bukan jabatan dan juga bukan kekayaan. Damai adalah menghadirkan surga dan taman-tamannya di manapun berada. Damai adalah menjauhkan diri dari sikap keserakahan, tidak melakukan tindakan destruktif dan juga tidak menentang kehendak-Nya.

Syair di atas telah melahirkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Banyak  yang menerima tetapi juga tidak sedikit yang menentangnya. Bahkan dengan terang-terangan ada yang memfatwakan untuk tidak membacanya. Tidak dengan Syaikh Makiyuddin, beliau berangggapan bahwa orang yang menolak membaca syair di atas sebagai kelompok yang masih mahjub, kelompok yang belum mampu membaca dan menemukan hakikat makna dari syair tersebut.

Mendengar Bisikan Hati

Sebuah riwayat menceritakan, suatu ketika ada tiga orang mendengar suara bisikan yang selalu hadir dalam hatinya. Orang pertama mendengar bisikan tersebut berbunyi is’a tara birri (lapangkanlah niscaya kamu akan melihat kebaikanmu). Sedangkan orang kedua mendegarnya al-Sa’atu tara birri (Sekarang, kamu bisa melihat kebaikanmu). Sedang orang ketiga mendengarnya ma ausa’  birri (betapa luasnya kebaikanku). Sumber suaranya sama, bisikan Allah SWT yang ada dalam hati seorang salik. Akan tetapi pendengarnya berbeda maka akan melahirkan pemahaman yang berbeda-beda pula.

Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an يسقى بماء واحد ونفضل بعضها على بعض فى الأكل (mereka diberi minum dengan air yang satu dan kami berikan kelebihan bagi sebagian mereka atas sebagian yang lain dalam apa yang dimakan. Pada ayat lain Allah SWT juga berfirman: قد علم كل أناس مشربهم  (setiap suku benar-benar mengetahui (bagian yang mana) tempat minum mereka masing-masing). Dua ayat tersebut memberi isyarat bahwa meskipun sumber kebenaran itu sama yaitu Allah SWT, namun bisa jadi pemahaman atasnya akan berbeda-beda sesuai dengan kejernihan jiwa dan kesucian hati masing-masing orang.

Kembali kepada cerita tiga orang di atas, dapat disimpulkan bahwa orang pertama yang mendengarkan bisikan jiwanya dengan mengatakan is’a tara birri, mencerminkan dia baru pada fase seorang murid yang sedang bangkit untuk menerima ilmu bathin dan “tarekat” dengan kesungguhan jiwanya. Adapun orang kedua yang mendengar bisikan al-Sa’atu tara birri, dia seorang salik yang seluruh waktunya tidak menginginkan terputus dari wushul kepada Allah SWT, hal tersebut tercermin dari ketenangan sikap dan jiwanya. Sedangkan orang ketiga yang mendengar bisikan ma ausa’ birri adalah seorang arif yang sudah musyahadah yaitu selalu melihat keindahan dan kemulian dari apa yang dia lihat, apapun yang dilihatnya adalah cerminan dari jamaliah Allah SWT.

Syaik Muhyiddin Ibn Arabi pernah berkisah, suatu saat beliau diundang untuk menghadiri jamuan makan malam bersama para tokoh-tokoh masyarakat di sebuah kampung yang terletak di Mesir. Tuan rumah menghidangkan aneka makanan untuk dinikmati seluruh tamu yang hadir. Ada salah satu tempat makanan terbuat dari kaca dan tampaknya tempat tersebut adalah tempat baru yang belum pernah dipakai kecuali pernah satu kali dipakai untuk tempat kencing yang punya.

Para tamu dengan lahapnya menikmati hidangan yang ada di tempat tersebut. Dengan pendengaran dan penglihatan bashiroh para tamu, termasuk Ibn Arabi, mendengar tempat tersebut berkata: sejak Allah memuliakan saya dengan dijadikan tempat makanan yang dihidangkan kepada orang-orang mulia, saya tidak rela jika menjadi tempat pembuangan air seni kembali. Kemudian tempat tersebut tetiba saja pecah. Melihat kejadian tersebut Ibn Arabi bertanya kepada yang lain; “Apakah kalian mendengar apa yang dikatakan tempat makanan itu?”. Serentak mereka menjawab; “Iya, kami mendengar”. Ibn Arabi menimpali jawaban mereka, bahwa apa yang mereka dengar bukanlan yang diucapkan tempat makanan tadi. Lalu Ibn Arabi ditanya; “Gerangan apa yang dikatakannya?”. Ibn Arabi menjawab: “Jika hati kalian sudah dimuliakan Allah SWT dengan iman dan gandrung akan ilmu bathin, maka hatimu tidak akan pernah rela jika kamu melakukan maksiat kepada Allah SWT dan (membiarkan) hatimu cenderung pada kehidupan dunia.

Itulah sebuah ilustrasi betapa menemukan makna yang tersurat, termasuk menemukan makna simbol-simbol gramatik menjadi penting sebagai jalan menuju Allah SWT, agar tidak terjebak pada simbol-simbol belaka yang jauh dari hakikat kebenaran.

Kauman, 10 Mei 2020

 

 

 

Related posts