Catatan Pinggir Ngaji Nahwu Sufi (eps.1)

Catatan Ngaji Nahwu #1

Oleh: Muhajir

Read More

Bismillah wa Alhamdulillah, tadi malam (13/04/2020) mulai jam delapan hingga jam sembilan, kami memulai ngaji online via lark meeting. Media ini sengaja kami pilih dan pakai, di samping karena gambar dan suaranya tidak kalah dengan media lain, akan tetapi juga murah mengingat segmen ngajinya adalah mahasiswa yang perlu disantuni.

 

Ngaji (lagi)

Ngaji ini kami desain ngaji ala pesantren yang dulu kami biasa dilakukan. Hanya saja bedanya, mengartikan kata per kata tidak pakai bahasa Jawa. kedudukan I’rab setiap kata tidak “diartikan”, maksudnya tidak pakai kata sambung utawi, iku, kelawan, ing dan lain-lain. Tapi kami mengartikan dan menjelaskannya menggunakan bahasa Indonesia. Mengingat audiennya tidak saja berasal dari Jawa, mungkin juga tidak sedikit yang belum familiar dengan ngaji yang menggunakan model pesantren yaitu bandongan.

Maksud kami menyelengarakan ngaji online ini selain untuk menghilangkan “kebosanan” dalam bekerja, belajar dan beribadah di rumah, juga bagian dari ikhtiar untuk melestarikan budaya ngaji. Maklum saja, sekarang banyak orang yang kurang seneng ngaji tapi sukanya  pengajian. Kalau ngaji itu ada kitab yang dibaca, temanya urut sesuai dengan tema yang ada di kitabnya, permasalahannya fokus, pesertanya terbatas (hanya yang sadar-sadar saja) dan yang lebih penting tidak liar alias tindak ngomong ngalor-ngidul tanpa kendali. Sedangkan pengajian lebih mengandalkan kelihaian penceramahnya dalam mengolah kata, membuat joke, terkadang juga harus mampu mengeluarkan air mata saat bicara kesedihan. Jamaahnya banyak bahkan membludak. Intinya jamaah harus sering ketawa dan menangis jika diperlukan.

Ngaji kami ini dilaksanakan setiap hari Senin dan Rabu dari jam delapan sampai jam sembilan malam. Dengan harapan akan khatam sampai akhir Ramadhan nanti. Kitab yang kami baca, sesungguhnya kitab yang sudah lama, bagi kalangan pesantren mungkin juga tidak asing. Hanya saja, karena tema dari kitab ini unik. Disebut unik karena biasanya kitab itu hanya membahas satu tema. Misal kitab ta’lim al-muta’allim berarti membahasa etika. Kitab sulam al-Taufiq berarti membahas fiqh. Kitab alfiyah berarti membahas nahwu, tapi tidak demikian untuk kitab yang kami baca ini. Kitab yang kami baca adalah منية الفقير المتجرد وسيرة المريد المتفرد (Munyatul-l-Faqir al-Mutajarrid wa Siratu-l-murid al-mutfarrid) karya Syaikh Muhammad Abdul Qadir al-Kuhin.

Dilihat dari nama kitabnya orang bisa langsung menebak bahwa kitab itu berisi tentang tasawuf. Memang tidak salah. Akan tetapi kitab tersebut juga identik dengan kitab nahwu, mengingat kitab tersebut adalah syarah, penjelasan, atas matan al-Jurumiyyah, yaitu kitab nahwu klasik yang siapapun orangnya di Indonesia ini, terlebih di pesantren-pesantren. Jika ingin belajar nahwu tidak boleh tidak alias pasti ngaji kitab ini. Kitab yang tidak tebal, bahasanya sederhana, akan tetapi teori gramatika arabnya komplit. Bahasa ekstrem saya, jika anda hendak paham nahwu, maka cukupkan diri anda mengaji kitab al-jurumiyyah. Kesimpulannya, kitab karya al-Kuhin ini adalah kitab nahwu-sufi atau biasa saya menyebutnya kitab teosofi gramatika Arab.

 

Pentingnya Kitab Nahwu Sufi

Sebagai pengantar ngaji, saya menjelaskan argumentasi tentang pentingnya membaca kitab munyah al-Faqir ini, yaitu; Pertama, sebagaimana diungkapkan Abul Abbas al-Mursyi, mursyid thoriqoh syadziliyyah, bahwa untuk menuju Tuhan bisa menggunakan jalan ilmu apapun, karena secara epistemologi seluruh ilmu berasal dari Tuhan. Selama ini, jika seseorang ingin mempelajari tasawuf dan hendak suluk, ngelmu laku, maka hanya dibatasi dengan membaca kitab-kitab tasawuf seperti ihya’ ulumiddin karya al-Ghazali, al-Hikam karya Ibn Athoillah, Futuhat al-Makkiyah karya Ibn Arabi dan lain-lain. Begitu juga jika hendak berguru mengikuti jejak para salik, maka hanya kepada orang-orang yang selama ini bergelut dalam disiplin tasawuf.

Intinya, perjalanan spiritual hanya milik mereka yang gandrung akan dunia tasawuf. Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang disiplin ilmunya bukan tasawuf?. Apakah tidak bisa melakukan suluk?. Tidak bisa disebut sufi?. Bagaimana dengan ilmu nahwu?. Apakah tidak bisa dijadikan tangga menuju Tuhan?. Apakah para pengkajinya tidak cukup modal untuk wushul?. Kitab karya al-Kuhin  telah memberikan jawabannya.

Kedua, nahwu atau gramatika bahasa Arab selama ini hanya dikenal dengan ilmu alat (instrumental knowledge). Karena ilmu ini sebagai piranti untuk mengetahui kedudukan sebuah kata dalam kalimat dan untuk mengetahui cara membaca huruf terakhir dari kata tersebut. Ilmu nahwu dikesankan sebagai ilmu teoritik-eksakta, bersifat obsolut, pasti dan final. Nahwu bagi kebanyakan orang dikelompokan dalam episteme bayani. Di mana kebenaran harus mengikuti kaedah yang sudah baku dan tertulis sejak puluhan abad silam. Padahal sejatinya dibalik ilmu nahwu terdapat makna simbolik atau isyari.

Ilmu nahwu dikonstruksi tidak saja atas dalil atau argumen mekanik. Lebih dari itu, ilmu ini disusun atas jalan kesadaran spiritual yang dalam,  kebeningan hati, dan kecerdasan ilahi. Maka, ilmu nahwu sebagai sebuah disiplin ilmu yang sudah mapan, sebetulnya juga lahir dengan basis episteme burhani.

Ketiga, para pengarang kitab-kitab nahwu seperti Ibnu Malik, Imam asl-Shonhaji dan bapak ilmu nahwu Abul Aswad Ad-du’ali, saat meletakkan dasar-dasar pikiran gramatiknya tidak pernah lepas dari laku spriritual. Sebagai seorang ilmuan mereka meletakkan teorinya berdasarkan nalar al-diny al-aqlani.

Sebagai contoh tatkala Ibnu Malik menulis selesai menulis bait-bait nahwunya dalam kitab monumentalnya, alfiyah, yang berjumlah seribu bait dan hendak membuat bait sebagai pengantar, beliau mengatakan وتقتضي رضا بغير سخطي# فائقة ألفية ابن معطي (Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan# kitab alfiyah ini, lebih unggul dari kitab Ibn Mu’thi). Maka seketika itu hilanglah hafalan seribu bait alfiyah Ibnu Malik. Setelah itu Ibnu Malik mengalami syak, gunjangan jiwa, kegalaun hati dan akhirnya tersadar bahwa hilangnya hafalan tersebut karena sikap kurang hormat pada gurunya yaitu Ibnu Mu’thi.

Sambil memperbanyak istighfar kemudian beliau menulis dua bait pujian, penghormatan kepada gurunya tersebut seraya mengataka وهو بسبق حائز تفضيلا…… (beliau, Ibnu Mu’thi, lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal……). Setelah itu seribu bait yang lupa tadi mampu dengan mudah diingat lagi. Itulah ilmu, yang kecintaan padanya harus didahului terlebih dahulu cinta pada si empunya. Cinta kepada guru didahulukan sebelum cinta kepada ilmu. Cerita dramatis-spriritualis juga dialami oleh pengarang al-Jurumiyyah¸ sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya Syaikh al-Kuhin.

 

Dalam Pertemuan Perdana

Pada pertemuan perdana ini, kami membaca beberapa bagian. Yaitu pengantar redakturnya, biografi Syaikh al-Kuhin, biografi Ibnu Ajibah dan biografi Imam al-Shonhaji serta pengantar dari penulis kitab. Dalam pengantarnya, redaktur kitab mengatakan bahwa matan al-Jurumiyyah adalah sebaik-baik matan kitab nahwu. Maka tidak aneh ketika banyak ulama mensyarah, meringkas dan bahkan membuat bait dari kitab tersebut.

Selain itu, tidak sedikit para ulama mensyarah matan al-Jurumiyyah mengulasnya dengan menggunakan perspektif tasawuf sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Ajibah dan dilanjutkan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Kuhin. Menurut pengakuat redaktur bahwa kitab ini,  منية الفقير المتجرد وسيرة المريد المتفرد, belum pernah dicetak atau masih berbentuk makhtuthot, sulit untuk dibaca dan dia mendapatkannya di Libya. Dari sinilah timbul keinginannya untuk mentahqiq (verifikasi) dan menjelaskan ulang isi kitabnya.

Pada bagian selanjutnya di jelaskan secara singkat biografi Syaikh Abdul Qadir al-Kuhin, yang mengarang kitab منية الفقير المتجرد وسيرة المريد المتفرد ini. Nama lengkapnya Abdul Qadir al-Kuhin Ibn Ahmad Ibn Abi Jidah Ali Ibn Abdul Qadir, yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Muhammad al-Kuhin. Lahir dan besar di kota Fez, yaitu sebuah kota di Maroko serta meninggal di Madinah pada tahun 1254 H/1838 M. Kepakaran beliau sebetulnya dibidang hadits. Terbukti karya-karyanya banyak di bidang itu antara lain; Nawafil al-Ward, Ifadah Dzawi al-Isti’dad Ila Ma’alim al-Riwayah wa al-Isnad, al-Maslak al-Dari Sayrh Akhor Tarjamah al-Bukhori dan lain-lain.

Selanjutnya redaktur menulis biografi Ibnu Ajibah. Nama lengkap beliau Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ajibah al-Hasani al-Idrisi al-Syadhili al-Fasi Abu al-Abbas. Beliau seorang sufi sekaligus seorang mufasir yang ahli dalam banyak ilmu. Dilihat dari namanya beliau juga lahir di kota Fez Maroko. Lahir pada tahun 1160 H dan meninggal pada 7 Syawwal 1224 H. Di antara karya-karyanya adalah Iyqodh al-Humam fi Syarh al-Hikam li Ibn Athoillah, al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, dan al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarh al-Mabahits al-ashliyyah. Terakhir kami membaca biografi pengarang kitab matan al-Jurumiyyah. Nama lengkapnya Muhammad Ibn Muhammad Ibn Dawud al-Shonhaji, terkenal berkat kitabnya al-Jurumiyyah yang kitab tersebut telah banyak di syarh para ulama lain. beliau lahir dan meninggal di kota yang sama yaitu kota Fas Maroko. Lahir tahun 672 H/1273 dan meninggal tahun 723 H/1323 M.

Kitab منية الفقير المتجرد وسيرة المريد المتفرد adalah berdiri di atas dua kitab sebelumnya yaitu kitab karya Ibnu Ajibah dan Imam al-Shonhaji yang ketiga ulama besar tersebut lahir di kota yang sama yaitu Fez Maroko.

Itulah beberapa catatan  pembuka dari program ngaji online, dengan berharap semoga mejadi bagian hembusan angin yang menyegarkan dan menghilangkan panasnya kebodohan.

Related posts

2 comments

  1. subhanallah, tambah ilmu ..maturnuwun sahabatku pak muhajir…

Comments are closed.