CORAK PEMIKIRAN DAN SAINS DALAM TRADISI ISLAM DAN BARAT (Metodologi Analisis Perbandingan)

Kita ketahui bahwa sains merupakan peranan penting bagi umat manusia. Penemuan, penelitian, pembelajaran dalam sains tak luput dari peran agama didalamnya, khususnya agama Islam. Transformasi peradaban ilmu pengetahuan dari umat Islam ke barat merupakan sebuah proses dari dominasi barat sebagai pusat keilmuan dunia sampai saat ini.

Jika ditinjau dari sejarah, masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah merupakan masa keemasan dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan pada masa itu. Ilmu agama maupun non agama banyak dijumpai di Baghdad dan Cordova yang merupakan dua tempat kejayaan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan yang berada di Timur dan Barat

Kemunduran kota baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan membangkitkan kesadaran Eropa, kemudian toleransi kuat dari arab juga menimbulkan banyak kitab-kitab berbahasa Arab diterjemahkan dalam bahasa latin, faktor kekalahan Islam pada perang salib pun semakin mendominasi peradaban barat. Renaissance atau abad pembaharuan yang muncul pada abad ke 14 di Eropa melahirkan kajian-kajian ilmu berdasarkan akal dan observasi. Revolusi industri merupakan bukti dari dominasi peradaban barat terhadap sains, efek dari Renaissance telah melahirkan sikap mental manusia yang percaya akan kemampuan diri sendiri atas dasar rasional dan sangat optimis untuk menguasai masa depannya, sehingga manusia menjadi kreatif dan inovatif. Namun kembali, sikap tersebut tidak mengindahkan adanya unsur tuhan yang berkuasa di balik ciptaan-nya.

Sebagaimana kita ketahui, peradaban barat dalam bidang sains saat ini masih mendominasi dunia, tetapi keadaan ini seringkali salah dipahami, meskipun peradaban barat modern telah menghasilkan banyak ilmu dan temuan-temuan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka pun juga telah menghasilkan ilmu yang merusak, khususnya dalam segi ketuhanan. Sains barat bersumber pada akal dan pancaindera, tak dapat dipungkiri bahwa keadaan itu membuat cabang dari pemikiran-pemikiran rasionalisme, empirisme, atheisme mewarnai peradaban barat yang modern. Westernisasi ilmu telah menjauhkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, ataupun telah mengalihkan Wahyu sebagai sumber Islam

Adapun perbandingan-perbandingan dari sisi islam dan barat modern diuraikan menjadi beberapa poin sebagai berikut

  • Perbandingan berdasarkan metodologi pemikiran.

Bagi umat Islam sendiri, pengembang pemikiran terhadap ilmu yaitu Nabi Muhammad SAW yang mempunyai metode berpikir Bayani (pemikiran berdasarkan kitab suci), Burhani (pemikiran berdasarkan akal dan logika), dan Irfani (pemikiran berdasarkan perasaan dan perenungan) Sementara metodologi yang diterapkan barat modern, didasari dengan pemikiran rasionalisme, empirisme, dan atheisme.

  • Perbandingan berdasarkan tujuan

Tujuan utama daripada sains menurut islam yaitu kebenaran bukan hanya sekedar menjelajahi penelitian dan penemuan yang asalnya tidak diketahui menjadi sebuah hal yang diketahui, melainkan juga mengetahui kebenaran akan hal yang diteliti bersumber dari kekuasaan Sang Pencipta. Oleh karena itu pengetahuan bukan hanya sebuah teori yang bersifat materi saja, tapi juga menimbulkan dampak yang bersifat tersirat dalam hati. Berbeda dalam sisi dunia bagian barat, khususnya Eropa, sains dipandang hanya sekedar sains yang meliputi penelitian dan penemuan dan dipandang hanya sekedar realitas alam saja, tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Sungguh berbeda dengan Islam yang memandang sains dengan akidah

  • Perbandingan berdasarkan sumber dan hakikat ilmu

Bagi umat Islam ilmu yang didapat bersumber dari Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, sehingga sekecil kebenaran yang ditemukan sudah pasti dari Allah SWT. Sementara barat modern berpendapat bahwa keberhasilan mereka atas kebenaran didasari oleh diri mereka sendiri yang didasari sifat logis dan empiris.

  • Perbandingan berdasarkan nilai etika

 Umat Islam mempunyai syariat dan tatanan hidup, baik hidup secara individu maupun sosial, dimana etika dan adab selalu diutamakan begitu juga atas sains. Perbedaan yang mencolok dari kaum barat ialah penerapan pengkajian dan penelitian yang tidak mengindahkan nyawa makhluk hidup, seperti objek penelitian kepada hewan yang diteliti secara tidak manusiawi demi sebuah penelitian.

Perbedaan pandangan sains dari sudut Islam dan barat menimbulkan banyak persepsi dan argumen yang berujung ketidaksetaraan pendapat, namun hal ini bisa dikaitkan dan disimpulkan satu sama lain. Menurut penulis, kesuksesan sains barat tidak luput dari kemajuan sains Islam pada masa Dinasti Abbasiyah yang dapat menguasai peradaban ilmu, meskipun kejayaan tersebut memudar seiring runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Perbandingan antara tradisi Islam dan barat didasari oleh pemikiran metodologi, sumber dan hakikat ilmu, tujuan ilmu, dan juga nilai etika yang mempunyai perbedaan yang sangat mencolok.

Jika digambarkan, Sains islam merupakan akar yang tertanam di tanah dengan kokoh dan kuat, kemudian sains barat sebagai pohon yang tumbuh dari akar tersebut tumbuh besar bercabang dan berbuah, namun diantara buah tersebut ada yang membusuk sebagai gambaran segelintir penemuan dan penelitian sains yang menimbulkan sisi negatif atas kelangsungan hidup manusia.

Related posts