Dari Jazm Kita Belajar Kemantapan Hati

Jazm adalah salah satu dari empat jenis i’rab dalam ilmu nahwu. Keempat jenis i’rab yang dimaksud tersebut adalah rafa’, nashab, khofadh dan jazm. Sebagai pengantar sederhana dari penulis bahwa i’rab adalah perubahan akhir kata dalam bahasa Arab baik berupa harakat maupun huruf karena faktor-faktor tertentu. Secara an sich Ibnu Ajurrumi dalam Matn al-Jurrumiyah mengatakan bahwa i’rab jazm memiliki dua simbol. Pertama adalah al-Sukun (tanda sukun sebagaimana kita kenal dalam aksara Arab) dan yang kedua adalah al-Hadzfu (membuang beberapa huruf dalam satu kata Arab).

Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin mengatakan bahwa Jazm adalah simbol kemantapan hati. Titik kemantapan ini dicapai bukan dengan upaya yang cuma-cuma. Tidak pula didapat dengan imajinasi hampa seorang hamba. Namun anugerah kemantapan hati ini diperoleh dengan Ma’rifat al-Haqq (mengetahui kebenaran yang sejati) serta larut dan tenggelam di dalamnya.

Read More

Oleh karena itu bila suatu kemantapan dalam hati telah ditemukan, maka akan muncul gejala-gejala berikutnya yang menimpa seorang hamba. Rupa dari gejala itu adalah hati yang terbebas dari rasa angan yang hampa. Hati yang terlepas dari berbagai jerat kecemasan dan kekhawatiran. Hati yang terlindung dari keraguan dan cekaman bayang-bayang. Kondisi hati yang demikian itu akan termanifestasi dalam diri seorang hamba dalam dua wujud, yaitu al-Sukun dan al-Hadzfu.

Belajar Ketenangan dari al-Sukun

Tanda al-Sukun secara umum yang kita kenal dalam bahasa Arab adalah (ْ). Tanda tersebut yang sering kita temukan dalam ayat-ayat al-Qur’an saat bertilawah. Dalam konteks ilmu nahwu, tanda tersebut adalah simbol manifestasi dari keadaan jazm. Suatu keadaan di mana hati seorang hamba telah beroleh kemantapan. Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin mengatakan bahwa tanda sukun tersebut adalah simbol dari ketenangan seorang hamba.

Lebih lanjut Syaikh al-Kuhin mengatakan bahwa  ketenangan yang dimaksud adalah ketenangan hati dan ketidak tergesa-gesaan di dalamnya. Sama dengan akhlak shalat yang disertai dengan sikap khusyu dan thuma’ninah dalam gerakan-gerakannya. Kondisi yang demikian itu bisa kita dapati permisalannya pada kekokohan gunung. Tidak bergeser ataupun lari meskipun langit yang membentang tanpa tiang ini runtuh. Tetap kokoh berdiri di tempatnya meskipun bumi berguncang-guncang. Begitupun seorang hamba tatkala memiliki sikap tenang atau al-Sukun tidak akan pernah beranjak dari Tuhan-Nya ketika berseliweran waridat atau keinginan-keinginan yang mampu mendestruksi kejernihan batinnya.

Ketenangan lahir seorang hamba terletak pada keletetihan tatkala ber-mujahadah. Hal ini bisa kita rasakan setelah melakukan serangkaian dzikir dan wirid. Atau bahwkan di tengah-tengah saat kita berupaya kera mengendalikan bujuk rajuk hawa nafsu. Sedangkan ketenangan batin bersemayam dalam alam musyahadah. Sebuah penyaksian bagaimana Tuhan menjelma dalam wujud ciptaan-ciptaan-Nya. Menyaksikan bagaimana ia berbicara melalui seluruh makhluk-Nya dalam isyarat ilahiyat. Semua itu sangat mungkin untuk dirasakan oleh hamba-hamba-Nya.

Habis Letih Terbitlah Tenang

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat dan mengetahui bersama bahwa rasa letih itu akan hadir setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang. Namun sekental dan sepekat apapun keletihan itu akan hilang tatkala di ujung perjalanan itu kita berhasil bertemu dengan sang kekasih. Di mana sang kekasih merengkuh segala nafas kita yang terengah-engah. Mengecup mesra doa-doa kerinduan yang kita lamatkan sepanjang perjalanan. Harum tubuhnya membuat diri semakin larut dalam kemabukan cinta yang semakin menghanyutkan jiwa. Pudar musnah pula segala noda-noda penderitaan selama perjalanan yang ditempuh selama ini.

Syaikh Abd al-Qadir al-Kuhin juga mengatakan bahwa indikasi dari hati yang telah menemukan kemantapan itu adalah Musyahadah al-Haqq (penyaksian kebenaran yang sejati). Derajat “menyaksikan” tentu berbeda dengan sekadar “melihat” yang sekilas. Hati yang telah mantap kepada Tuhan akan membuang segala jeratan-jeratan yang dapat menenggelamkannya dalam kesibukan hiruk pikuk duniawi. Berupaya sekuat tenaga memutus rantai yang membelenggunya dari perjumpaan dengan Tuhan. Tidak menyisakan ruang untuk selain Tuhan di relung hati dalam keterpasungan jiwanya di dunia. Sehingga pada akhirnya yang tersisa adalah hati yang menyendiri dengan ketauhidan yang paripurna. Hati yang yang jernih dalam sunyi menikmati kemesraan yang begitu syahdu dengan Tuhan. Meskipun raganya berlalu-lalang di tengah keramaian makhluk-makhluk dunia.

 

Related posts