Di Pintu Al-Mizan al-Kubra

almizan alkubra
al mizan al kubra

Di Pintu Al-Mizan al-Kubra. Imam al-Sya’rani adalah salah satu ulama besar yang tampil dalam panggung keilmuan Islam. Beliau lahir di Mesir dan hidup di rentang tahun 1493 – 1565. Beliau adalah intelektual Islam bermadzhab Syafi’i sekaligus dikenal sebagai seorang ahli Tazkiyatun Nufus.

Beliau menempuh perjalanan yang sangat panjang dalam meniti karir akademiknya. Selain itu, dalam beberapa karyanya beliau mendedah berbagai rupa kesulitan yang dialami selama masa-masa tersebut.

Seorang Imam al-Sya’rani berhasil meguasai beberapa disiplin ilmu seperti, fikih, hadits, tazkiyatun nufus dan lain-lain. Karya yang beliau lahirkan dalam bidang-bidang ilmu tersebut juga terbilang cukup banyak.

Kitab al-Mizan al-Kubra adalah salah satu kitabnya yang cukup populer. Kitab ini pada dasarnya adalah kitab fikih dengan ragam pendapat para Imam Fikih di setiap bahasannya.

Baca: Ke Mana Filsafat Islam Setelah Ibnu Rusyd?

Perhatian Terhadap Syari’at

Di antara sekian banyak Mutashowwifun yang memiliki atensi paling besar terhadap syariat adalah Imam al-Sya’rani. Aspek syari’at di kalangan tema sufistik jarang diangkat oleh para penulis Barat, padahal dalam literatur-literatur Tazkiyatun Nufus yang paling ringan sampai yang paling berat, syari’at menjadi tangga pertama dan tidak tergantikan posisinya.

Syari’at bukan hanya sebatas fiqih. Menyamakan fiqih dengan syari’at adalah bagian dari bentuk penyempitan syari’at itu sendiri.

Khoiruddin Nasution mengartikan syariat, dalam tataran yang lebih luas, dengan seluruh ajaran Islam yang berupa norma-norma ilahiah. Baik itu yang mengatur tingkah laku batin maupun lahir, baik itu perorangan ataupun kolektif.

Imam al-Sya’rani dalam al-Mizan al-Kubra mengatakan, bahwa syriat laksana pohon agung yang tumbuh berkembang, pandangan atau argumentasi para ulama (dalam bidang tersebut) laksana cabang dan daunnya.

Fa inna al-Syari’ata ka al-Syajarati al-‘Azhimati al-Muntasyirati wa Aqwalu ‘Ulamaiha ka al-Furu’I wa al-Aghshani. (al-Mizan al-Kubra, 3).

Mata Air Pengetahuan

Dari sini dapat dilihat, bahwa syariat yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah sumber pengetahuan utama dalam khazanah keilmuan Islam. Bahkan dalam awal kalam mukadimahnya, Imam al-Sya’rani menyebutkan bahwa lautan syariat yang suci dengannya terlahir lautan pengetahuan yang bermanfaat beserta sungai-sungai keilmuan lainnya.

Alhamdulillah al-Ladzi Ja’ala al-Syari’ata al-Muthohhirota Biharan Yatafarra’u minhu Jami’u Bihar al-‘Ulumi al-Nafi’ah wa al-Khuljan.

Sebanyak apapun waktu yang kita punya, serta sedalam apapun kepandaian yang melekat dalam diri, jangan sampai tidak digunakan untuk memahami syariat.

Berdasarkan buku yang ditulis oleh Khoirudin Nasution, aktualisasi dalam mengkaji syariat terdiferensiasi setidaknya ke dalam tiga macam ilmu. Pertama adalah ilmu kalam, yang membicarakn seputar ajaran-ajaran teologis. Kedua adalah ilmu akhlak, yang mencakup tentang penataan jiwa agar menjadi semakin baik. Ketiga ilmu fikih, yang melingkupi hukum-hukum yang berkaitan dengan aktivitas hamba dalam bidang ‘ibadah, mu’amalah, ‘uqubah maupun lainnya.

Bila kita lihat sekarang, sudah tidak terhitung jumlah karya yang lahir dari cabang ilmu-ilmu tersebut. Mulai dari yang berbentuk Risalah ringkas sampai dengan Syarah yang berjilid-jilid.

Bahkan lautan ilmu kalam, ilmu akhlak dan ilmu fikih tidak jarang melahirkan ilmu-ilmu baru dengan corak dan fokus yang berbeda. Ketajaman para ulama dalam menggagahi jengkal-demi jengkal syariat mampu menggerakkan tradisi keilmuan dalam Islam dengan sangat dinamis.

Baca juga: Menuju Teologi Ibnu Taimiyyah

Mereka yang Disebut ‘Alim

Imam al-Sya’rani menempatkan para Mujtahid dan Muqollid-nya pada posisi yang sangat terhormat. Baginya, mereka adalah manusia-manusia yang dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menelaah lebih jauh syariat yang diturunkan kepada Nabi-Nya.

Perbedaan yang muncul di kalangan para ‘alim dalam memahami syariat, dengan argumentasinya masing-masing, adalah hal yang tidak selayaknya untuk dicela. Sama halnya kita yang tidak boleh mencela syariat dari para Nabi Allah yang berbeda dengan syariat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Di samping menempatkan para alim pada posisi yang terhormat, Imam al-Sya’rani juga memberikan definisi yang cukup ketat terhadap mereka yang layak menyandang status ‘alim.

Annahu la yusamma ahadun aaliman illa in bahatsa ‘an munazza’in aqwaali al-‘ulama wa ‘arafa min aina akhdzuha min al-kitabi wa al-sunnati la man raddaha bi thariqi al-jahli wa al-‘udwani.

Mereka yang dinamakan ‘alim adalah seseorang yang mampu memahami pijakan-pijakan para ulama dalam berargumentasi, mengetahui bagaimana mekanisme pengambilan dalil mereka dari al-Qur’an dan Sunnah.

Orang yang berhak menyandang predikat ‘alim adalah mereka yang tidak menolak syari’at dengan metode mereka yang dungu, tidak juga denga  motode mereka yang penuh dengan kelalaian.

Di sinilah babak berikutnya dari kitab al-Mizan al-Kubra akan mendedahkan bagaimana perbedaan demi perbedaan hadir dalam setiap istinbath al-ahkam. Kemudian dengan piawai Imam al-Sya’rani me-ranking pendapat-pendapat tersebut mulai dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *