Dinamika Generasi Muda dalam Menemukan Kembali Nilai-nilai Keislaman di Pedesaan

dinamika generasi muda muslim
dinamika generasi muda muslim

Dinamika Generasi Muda dalam Menemukan Kembali Nilai-Nilai Keislaman di Pedesaan. Usia muda merupakan fase perkembangan yang sangat produktif untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Namun untuk mewujudkan semua itu membutuhkan pengawalan yang intens bagi generasi muda. Karna pada hakikatnya di samping usia muda merupakan usia yang produktif, di lain sisi juga masih sangat rentan. Utamanya rentan terhadap pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitar.

Namun akhir-akhir ini berita yang berkaitan dengan problematika generasi muda sudah tidak menjadi hal yang tabu lagi. Khusunya bagi pendengaran masyarakat secara luas. Bahkan bagi sebagian masyarakat hal tersebut katakanlah sudah ‘lumrah’. Seperti maraknya kasus pergaulan bebas, minum-minuman keras, obat-obat terlarang, menjadi beberapa contoh kasus yang menjerat sebagian generasi muda muslim.

Read More

Tentu semua itu menjadi hal yang sangat memperhatinkan. Pasalnya generasi muda adalah tumpuan utama dalam membangun bangsa dan agamanya. Apa jadinya bila justru menggadaikan masa depanya sendiri dengan kesenangan-kesenangan semu yang merugikan. Persoalan di atas, tentu tidak terjadi dengan begitu saja.

Salah satu faktor mengapa fenomena tersebut terjadi adalah karena anutan sistem pendidikan ala Barat. Suatu sistem pendidikan yang sesungguhnya ‘alergi’ terhadap nilai-nilai spiritual.

Kedudukan Generasi Muda

Dinamika Generasi Muda dalam Menemukan Kembali Nilai-Nilai Keislaman di Pedesaan. Generasi muda muslim semestinya merupakan generasi yang beriman kepada Islam sedalam-dalamnya. Mereka menjadikan keimanan tersebut sebagai landasan dalam pembentukan keperibadiannya. Baginya, akidah Islam merupakan satu-satunya landasan dalam menilai segala realitas yang ada.

Mereka adalah manusia-manusia dengan wawasan global, baik dari sisi akademik maupun dari sisi spritual. Kehadiran berikut eksistensinya menjadi generasi yang sangat diidam-idamkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Tentu dengan lahirnya generasi yang memiliki kereteria tersebut diharapkan dapat membawa perubahan segala aspek yang mendukung kemajuan bangsa dan agama.

Baca juga: Merayakan Demokrasi dalam Konteks Nilai-nilai Islam

Melihat pemaknaan di atas, generasi muda atau kaum muda memiliki peran yang krusial sebagai agent of change pada masa-masa yang akan datang. Hal ini senada dengan penegasan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits, yang artinya: “Saya wasiatkan para pemuda kepadamu dengan baik, sebab mereka berhati halus. Ketika Allah mengutus diriku untuk menyampaikan agama yang bijaksana ini, maka kaum mudalah yang pertama-tama menyambut saya, sedangkan kaum tua menentangnya”.

Arus Dinamika

Dinamika generasi muda dalam menemukan kembali nilai keislaman di pedesaan merupakan perjalanan spiritual dan intelektual yang menggugah. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, generasi muda pedesaan seringkali menghadapi tantangan dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai keislaman. Terlebih nilai-nilai tersebut adalah nilai yang menjadi warisan nenek moyang mereka.

Salah satu cara yang mereka tempuh adalah melalui pendidikan Islam. Jalur ini dipercaya menjadi kunci utama dalam mengembalikan kearifan lokal dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai agen perubahan, generasi muda perlu memahami bahwa keislaman tidak hanya bersifat ritual. Lebih dari itu, pengetahuan Islam juga mencakup akhlak, budi pekerti, dan sikap yang sesuai dengan ajarannya.

Baca juga: Ketahanan Pangan Ketahanan Nasional

Dalam upaya menemukan kembali nilai-nilai keislaman, generasi muda perlu meneladani figur-figur islami yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Keteladanan ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga relevan dengan konteks kehidupan saat ini. Pendidikan Islam di pedesaan harus memberikan ruang bagi pemahaman dan aplikasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga generasi muda tidak hanya mengerti konsep keislaman secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam tindakan nyata.

Dukungan dan Tantangan

Peran orang tua dan pendidik menjadi sangat penting dalam membimbing generasi muda menghadapi dilema antara tradisi dan modernitas. Selain itu, penguatan komunitas dan pembangunan sarana prasarana keagamaan di pedesaan dapat menjadi faktor pendukung. Dengan memadukan warisan lokal dan ajaran Islam, generasi muda dapat menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat. Bahkan sampai pada taraf masyarakat yang berakhlak, berbudaya, dan tetap menjaga identitas keislaman di tengah arus perubahan zaman.

Selain itu, dalam dinamika mencari kembali nilai-nilai keislaman, generasi muda di pedesaan juga dihadapkan pada tantangan globalisasi. Tantangan ini membawa dampak perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi. Oleh karena itu, pemahaman agama Islam perlu disesuaikan dengan konteks zaman tanpa kehilangan esensi nilai-nilai yang diemban.

Generasi muda kudu dapat memadukan antara kearifan lokal dengan nilai-nilai universal Islam. Sehingga mereka tetap relevan dalam berinteraksi di dunia yang semakin terhubung secara global.

Pentingnya membangun kesadaran identitas keislaman pada generasi muda juga tercermin dalam kemampuan mereka menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dalam masyarakat. Pendidikan Islam di pedesaan harus mendorong pengembangan kepemimpinan yang berbasis pada nilai-nilai keadilan, toleransi, dan keberagaman. Agar dapat menjadi pelopor untuk menjaga nilai-nilai keislaman sebagai landasan moral dalam pengambilan keputusan dan tindakan mereka.

Mengoptimasi Berbagai Sektor

Selain itu, peran teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman yang sesuai dengan tuntutan zaman. Generasi muda perlu diberdayakan untuk menggunakan teknologi dengan bijak, sehingga mereka dapat menjadi agen dakwah yang efektif. Khususnya pada era digital sekarang ini. Pendidikan Islam di pedesaan juga harus cakap literasi digital. Hal ini agar mereka dapat memilah informasi dan mengonsumsi konten yang mendukung nilai-nilai keislaman.

Dalam menghadapi arus globalisasi dan modernisasi, generasi muda pedesaan memainkan peran penting. Mereka berperan sebagai pelaku utama dalam melestarikan dan menghidupkan kembali warisan keislaman yang menjadi bagian integral dari identitas mereka.

Pendidikan Islam di pedesaan juga punya peran strategis dalam membimbing generasi muda. Tentu agar mereka tidak hanya memahami konsep keislaman secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam ranah praktis. Hal ini bukan saja sebagai upaya pelestarian budaya lokal, tetapi juga sebagai kontribusi positif dalam membentuk karakter mereka. Karekter generasi muda yang tangguh, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Namun, dengan kesadaran identitas keislaman yang kuat, pemimpin yang bertanggung jawab, dan pemanfaatan teknologi dengan bijak, generasi muda dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat mereka. Pendidikan Islam yang holistik, mencakup aspek tradisional dan modern, akan membekali mereka dengan keahlian dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menghadapi dan membentuk masa depan yang lebih baik.

 

Referensi

Albanna, Hasan, dkk/ (1992). Pemuda Militan. Solo: Pustaka Mantiq.

Arifin, H.M. (1993). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Budiyono, Y. H., & Harmawati, Y. (2017). Penguatan pendidikan karakter melalui nilai-nilai keteladanan guru dan orang tua pada siswa sekolah dasar. In Prosiding Seminar Nasional PPKn III (pp. 1-12).

Edi, Abdullah dan Toto Suharto. (2006). Revitalitas Pendidikan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Efendi, Z. (2014). Profil Rasulullah Saw Sebagai Pendidik Ideal Dan Kontribusinya Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Jurnal Fitrah, 8(2).

Fadjar, A. Malik. (1998). Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. Jakarta: LP3NI.

Hasan, I. (2017). Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Al-Qur ‘an (Telaah Surah     Al-Fatihah). At-Tazakki: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Islam Dan    Humaniora, 1(2), 56-76.

Manan, S. (2017). Pembinaan akhlak mulia melalui keteladanan dan pembiasaan. Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim, 15(1), 49-65.

Marzuki. (2017). Pendidikan Karakter Islam. Jakarta: Amzah.

Moekti, Hari. (1998). Generasi Muda Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Muhammad Thirafi Haidi Asy Syafii, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

 

Related posts