Nahwu Mistik dan Nahwu Linguistik

nahwu mistik dan nahwu linguistik
nahwu mistik dan nahwu linguistik

Nahwu Mistik dan Nahwu Linguistik. – Nahwu secara bahasa adalah maksud atau tujuan yang mengarah pada kalimat yang benar (al-Qashdu ila shawab al-kalam). Contohnya adalah kalimat “Nahwtu Nahwahu” (aku mengikuti caranya melangkah [yang benar]). Maksud dari kalimat tersebut adalah “Qashadtu Qashdahu” (aku mengikuti tujuannya [yang benar]).

Kalimat seperti contoh di atas dalam bahasa Arab juga adalah termasuk dalam Nahwu karena menunjuk pada kalimat yang benar.

Read More

Adapun Nahwu Mistik (Nahwu al-Qulub) adalah maksud atau tujuan yang mengarah pada ucapan terpuji dengan hati dan ucapan terpuji dalam dialog bersama al-Haqq dengan lisan hati.

Nahwu adalah disiplin keilmuan gramatika Arab yang telah hidup sangat lama dalam khazanah keilmuan Islam. Secara sederhana, ia adalah jenis keilmuan yang dilahirkan untuk memperbincangkan tata bahasa dalam dunia bahasa Arab. Sepanjang nafas trajektori yang dihembuskannya, sampai dengan saat ini, telah banyak karya-karya para ulama bahasa maupun para linguis yang telah menciptakan karya tentang disiplin ilmu Nahwu.

Bagi orang yang hendak mempelajari khazanah keilmuan Islam, pengetahuan akan ilmu Nahwu menjadi salah satu perangkat yang mesti dikuasai. Sebab sampai dengan dewasa ini kitab-kitab atau karya-karya klasik yang sampai di meja-meja pesantren dan langar adalah kitab-kitab dasar pengetahuan Islam berbahasa Arab.

Retasan Sufistik Pada Tata Gramatika

Nahwu Mistik dan Nahwu Linguistik – Kosmopolitansime keilmuan Islam pada abad pertengahan memunculkan berbagai letupan kreatifitas ilmu yang sangat menakjubkan. Nyaris setiap disiplin keilmuan tumbuh dan berkembang dalam setiap halaqoh-halaqoh negeri Muslim. Membahas berbagai topik keilmuan mulai dari ilmu-ilmu agama sampai dengan ilmu-ilmu sains. Setiap ilmu dapat melakukan afiliasi dan kerjasama dengan disiplin keilmuan lainnya.

Diskusi tentang persinggungan Nahwu dan Mistisisme tampaknya sedikit berbeda dengan isu keterpengaruhan Nahwu dan Filsafat. Isu yang terakhir ini lebih bernada menggugat otentisitas Nahwu, sebab pasalnya Nahwu diduga menjadi gelanggang yang dipengaruhi langsung oleh filsafat atau tradisi bahasa Yunani, utamanya adalah pemikiran logika aristotelian. Tesis itupun menuai pro dan kontra di kalangan para pemikir Muslim.

Lain halnya dengan mistisisme, ia tidak hendak mendestruksi konstruksi Nahwu bahkan sampai landasan yang paling fundamental sekalipun. Ia lebih tepatnya memakai teori strukturasi Nahwu untuk membahasakan ajaran-ajaranya. Sebab dalam kasus yang terakhir ini telah lahir satu karya yang mengejawantahkan kedua diskursus keilmuan tersebut.

Imam al-Qusyairi menjadi salah satu intelektual yang melakukan interkoneksi ilmu Nahwu dan Mistisisme. Karyanya yang sampai sekarang masih bisa diakses oleh para akademisi yang bergelut dalam bidang tersebut adalah Nahwu al-Qulub. Seorang al-Qusyairi begitu menikmati pendeskripsian teori mistiknya melalui konstruksi-konstruksi rumus Nahwu.

Langkah yang dilakukan oleh Imam al-Qusyairi tersebut adalah sebuah peretasan akan tubuh ilmu Nahwu. Kejeniusan ulama yang berasal dari Naisabur tersebut membawa wajah lain dari diskursus ilmu Nahwu. Arus baru tersebut membuat diskursus kebahasaan dapat bergandengan dengan diskursus etika religius.

Dari Struktur Linguistik ke Etika Mistik

Nahwu Mistik dan Nahwu Linguistik – Nahwu dalam tataran linguistiknya memiliki orientasi pembenahan kalam atau ucapan. Sejak awal didirikannya diskursus ilmu ini, para pendirinya mengalami kegelisahan akan kesalahan-kesalahan dalam berbahasa atau yang lebih akrab dikenal dengan nama lahn. Hal tersebut menjadi wajar, karena secara kebahasaan struktur huruf Arab memiliki sistem harakat yang sangat dinamis sesuai dengan komposisi kata.

Sementara Nahwu al-Qulub yang digagas oleh Imam al-Qusyairi memiliki orientasi pada etika mistik. Diskursus ini berorrientasi pada upaya mengkonstruk ucapan – ucapan terpuji dari hati. Selain itu, diskursus ini juga memiliki tujuan untuk melakukan dialog dengan Allah Dzat al-Haqq dengan bahasa hati.

Menurut Imam al-Qusyairi, dialog tersebut terbagi ke dalam dua tingkatan. Pertama adalah dialog yang bernama al-Munadah. Di mana seorang hamba melakukan pemanggilan-pemanggilan kepada Allah SWT. Kedua adalah dialog yang bernama al-Munajat, di mana seorang hamba melakukan dialog dengan merasakan kehadiran-Nya. Dialog model pertama adalah ciri dari para ahli zuhud, sedangkan dialog model kedua adalah ciri dari para ahli wajd (ahli ma’rifat) yang telah mengalami perjumpaan dengan Allah SWT.

Artinya dalam hal ini, fungsi utama Nahwu adalah untuk komunikasi yang baik dan benar. Ada yang berdasarkan perspektif kebahasaannya ada yang berdasarkan etika mistiknya. Di samping kita mempelajari kaidah gramatikal Nahwu untuk kepentingan linguistik, kita juga sekaligus mempelajari kaidah etika mistiknya untuk pembenahan laku kehambaan kita dalam menjalani hidup.

 

 

Related posts