Falsifikasi Karl R Popper dan Kritiknya terhadap Metode Verifikasi

banner 468x60

Pemikiran Popper tentang falsifikasi berawal dari problem demarkasi (garis batas) antara ungkapan ilmiah dan non ilmiah. Dalam hal ini ia berupaya mengoreksi gagasan dasar Lingkaran Wina yang membedakan antara ungkapan yang disebut bermakna (meaningfull) dan yang tidak bermakna (meaningless) berdasarkan kriteria dapat atau tidaknya ungkapan itu dibenarkan secara empiris (verifikasi-konfirmasi). Hal ini karena menurut Popper, ungkapan yang tidak bersifat ilmiah mungkin sekali sangat bermakna (meaningfull), demikian juga sebaliknya.   

Metode Falsifikasi ini digunakan Popper untuk menolak gagasan Lingkaran Wina yang sangat menjunjung tinggi metode verifikasi induktif. Menurutnya, verifikasi sangat lemah karena menggunakan logika induksi yang mekanismenya adalah penyimpulan suatu teori umum dari pembuktian fakta-fakta partikular. Verifikasi membutuhkan banyak sampel untuk membuktikan kebenaran teori, dan itupun sama sekali tidak bisa memastikan bahwa teori tersebut benar adanya, karena sampel bagaimanapun juga hanyalah bagian kecil dari keseluruhan objek penelitian.

Bacaan Lainnya

Beberapa kritik yang dikemukakan Popper terhadap prinsip verifikasi yaitu, Pertama, prinsip verifikasi tidak pernah mungkin untuk menyatakan kebenaran hukum-hukum umum. Menurut Popper, hukum-hukum umum dan ilmu pengetahuan tidak pernah dapat diverifikasi. Karena itu, seluruh ilmu pengetahuan alam (yang sebagian besar terdiri dari hukum-hukum umum tidak bermakna, sama seperti metafisika). Kedua, sejarah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan juga lahir dari pandangan-pandangan metafisis. Karena itu Popper menegaskan bahwa suatu ucapan metafisis bukan saja dapat bermakna tetapi dapat benar juga, walaupun baru menjadi ilmiah setelah diuji. Ketiga, untuk menyelidiki bermakna atau tidaknya suatu ucapan atau teori, lebih dulu harus kita mengerti ucapan atau teori itu. Sehingga bagaimana bisa dimengerti jika tidak bermakna, lantas apa yang disebut teori itu ?

Sebagai alternatif bagi metodologi induksi, Popper mengajukan Metodologi Falsifikasi yang menggunakan cara kerja ilmu pengetahuan tidak hanya menggunakan observasi dan pengalaman sebagai dasar di dalam menentukan hukum-hukum ilmu pengetahuan (generalisasi), akan tetapi masih ada prasyarat lain yaitu uji kesalahan (falsifiable) melalui uji kesahihan (testable). Menurutnya falsifikasi adalah untuk mematahkan sesuatu keadaan yang salah, tidak benar. Suatu teori dapat dikatakan salah, jika meminta bantuan pada hasil observasi dan eksperimen tanpa percobaan dan kesalahan (trial and error). Melalui dugaan (conjecture) dan penolakan (falsification) hanya teori yang paling cocok dapat dipertahankan untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh Neopositivisme.

Dari itu, falsifikasi adalah kebalikan dari verifikasi, yaitu pengguguran teori lewat fakta-fakta. Selama suatu teori belum bisa difalsifikasi, maka ia akan dianggap benar. Dengan metode ini penelitian ilmiah akan lebih efisien karena teori langsung dapat dipastikan gugur hanya dengan sebuah fakta.

Sebagai contoh penggunaan metode verifikasi dan falsifikasi untuk menguji sebuah hipotesis yang berbunyi, “Semua burung gagak berwarna hitam”. Bila menggunakan metode verifikasi, peneliti akan mencari data-data yang menyatakan bahwa burung gagak memang berwarna hitam. Dengan data-data yang dikumpulkan tersebut, diyakini bahwa hipotesis “Semua burung gagak berwarna hitam” dinyatakan sebagai benar dan ilmiah. Sementara bila menggunakan metode falsifikasi, peneliti justru akan mencari data yang akan meruntuhkan hipotesis tersebut, membuktikan kesalahannya. Dalam proses observasi terhadap 500 ekor burung gagak, bila terdapat satu ekor saja yang berwarna selain hitam, maka itu dinyatakan cukup untuk memfalsifikasi hipotesis “Semua burung gagak berwarna hitam”. Dengan kata lain, setumpuk hasil observasi, yang digunakan oleh verifikasionist, tidak akan bermakna bila dibandingkan dengan satu data yang berbeda.

Tampak perbedaan antara verifikasi yang menggunakan logika induktif dan verifikasi yang menggunakan logika deduktif yang diterapkan dalam sebuah penelitian. Induksi yang berangkat dari fakta-fakta spesifik tidak memiliki dasar yang kuat untuk dijadikan sebagai penentu hal-hal yang sifatnya lebih umum, sebab kemungkinan untuk terjadinya anomali tetap terbuka. Sebaliknya, falsifikasi dengan logika deduktif bergerak dari umum menuju yang khusus dengan adanya observasi lebih lanjut pada cakupan teori yang umum tersebut. Kemungkinan adanya anomali juga terbuka, namun kekurangan ini akan ditutupi oleh proses falsifikasi yang memang sengaja dilakukan untuk penyempurnaan tersebut.

Contoh penerapan gagasan Karl Popper dalam dunia nyata adalah sebagai berikut, para fisikawan dengan metode verifikasi terhadap sampel-sampel di alam membuat kesimpulan bahwa “Semua zat akan memuai jika dipanaskan”. Teori ini telah menjadi sebuah mitos selama berabad-abad dalam dunia fisika. Namun dalam paradigma filsafat ilmu Popper, teori tersebut tidaklah dianggap sebagai kebenaran mutlak. Namun ia akan dianggap benar dengan keyakinan yang memadai. Kemudian terjadilah penemuan mengenai anomali sifat air. Ternyata dalam rentang suhu 0-4 derajat Celcius, air tidak lah memuai jika dipanaskan. Air justru menyusut seiring dengan kenaikan suhu antara 0-4 derajat Celcius. Penemuan ini kemudian serta merta menggugurkan teori “Semua zat akan memuai jika dipanaskan”. Inilah yang dimaksud dengan falsifikasi oleh Karl Popper.

Dengan adanya penemuan yang menggugurkan teori pemuaian zat tersebut, maka diperolehlah keyakinan bahwa teori yang selama ini dipegang yang berbunyi “Semua zat akan memuai jika dipanaskan” adalah salah. Oleh karena itu, teori tersebut berkembang menjadi berbunyi “Semua zat akan memuai jika dipanaskan, kecuali air dalam rentang suhu 0-4 derajat Celcius”. Perlu diketahui juga bahwa teori kedua ini pun tidak akan dianggap sebagai kebenaran mutlak. Adapun yang dianggap sebagai kebenaran mutlak adalah salahnya teori pertama, bukan benarnya teori kedua. – (bersambung)

Pos terkait