Fanatisme yang Bikin Pengetahuan Jadi Mandeg

lenteraterang.blogspot.com

Saya awali dari dua film fenomenal yang mungkin beberapa orang sudah mewakafkan waktu untuk memasang dua bola mata menatap layar adegan-adegannya. Pertama adalah film Agora yang menceritakan tentang Hypathia. Ia adalah seorang matematikawan, filsuf dan astronom perempuan Mesir Romawi pada akhir abad ke-4. Akhir dari film itu adalah seorang Hypathia harus meninggal dengan cara mengenaskan karena fanatisme buta agama yang terjadi pada masyarakat yang ada di sekitarnya.

Kedua adalah film The Physician yang menceritakan tentang seorang pemuda inggris yang berguru ilmu medis pada Ibnu Sina di Isfahan. Sebelum mencapai kata “the end”, Ibnu Sina dikisahkan mengalami kejadian yang hampir sama dengan yang dialami oleh Hypathia. Bermula dari murid inggrisnya yang bernama Rob Cole membuka jeroan jenazah seorang warga Isfahan yang beragama Zoroaster. Ia melukis bagian demi bagian alat-alat vital yang ada dalam tubuh manusia dengan melihat jasad yang dibelah tersebut.

Tindakan tersebut jelas sangat dilarang oleh otoritas agama saat itu sehingga tindakannya itu membawa dia dan gurunya, Ibnu Sina, disidang dihadapan para pemuka agama yang ditampilkan sangat fanatis. Aktifitas keilmuan yang dilakukan di Madrasah Ibnu Sina dipandang sebagai aktifitas penuh bid’ah. Ujungnya semua harta pengetahuan di Madrasah dibakar dan dimusnahkan. Sedang Ibnu Sina dikabarkan meninggal dengan meminum racun karena tidak mau meninggalkan madrasahnya. Sedang Rob Cole melanjutkan hidup sebagai dokter pengelana.

Ini memang bukan ajang kritik film, tapi dari dua ilustrasi tersebut kita menangkap subsatnsi bahwa dalam pentas sejarah, yang namanya fanatisme buta pada agama kerap meringkus gerak keluwesan pengetahuan. Bagi saya pengetahuan (al-Ilm) adalah wujud tajalli Tuhan di dunia dari nama-Nya al-‘Aliim (Dzat Yang Maha Mengetahui). Pengetahuan yang tersebar di jagat semesta menantang ruh kehambaan kita untuk menemukan cahaya Tuhan di dalamnya. Di samping values praktis yang dibawa oleh pengetahuan tersebut.

Saya rasa begitupun dalam bahasa Arab. Kehadiran dua madzhab besar Bashrah dan Kuffah dalam pentas Nahwu telah mengajarkan pada kita bahwa bahasa Arab berkembang dengan pemikiran yang tidak tunggal. Tidak juga muncul dalam diskursus Nahwu bahwa Imam Sibawaih bertengkar dengan Imam al-Kisai hanya karena yang satu Bishriyyun dan yang satunya Kufiyyun. Terlebih keduanya sama-sama saudara seperguruan di halaqah al-Farahidi. Lebih-lebih pertengkaran karena faktor aliran ahli kalam.

Tentu kita tidak bisa bayangkan bila hanya karena perbedaan teologis dua kubu atau lebih saling menjatuhkan larangan untuk bertukar pengetahuan satu sama lain. Tentu tidak bisa kita bayangkan  bila karena ketidaksamaan dalam menyikapi isu aktual membuat kita tidak bersilaturahmi pengetahuan satu sama lain lagi. Bila yang demikian terjadi maka fanatisme telah berhasil meraup keuntungan peringkusan pengetahuan dan mengkerdilkan manusia itu sendiri. Semoga kita dijauhkan dari hal yang demikian.

 

Related posts