Fonologi dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Dalam kajian linguistik, para linguis sangat menyadari bahwasanya bahasa merupakan sistem ujar. Oleh karena itu, objek utama dalam kajian linguistik adalah bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk ujar. Semua cabang-cabang kajian linguistik, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, dan lain sebagainya, dalam kajiannya berkiblat pada korpus data yang bersumber dari bahasa lisan walaupun yang dikaji sesuai dengan konsentrasinya masing-masing. Adapun yang berkonsentrasi terhadap persoalan bunyi ujar yaitu fonologi.

Fonologi sebagai cabang kajian Linguistik

Read More

Secara singkat, fonologi, merupakan cabang linguistik yang mengkaji lebih mendalam terkait perosalan bunyi-bunyi ujar yang merupakan material bahasa. Oleh fonologi, kajian bunyi-bunyi ujar ini dapat dipelajari dengan dua sudut pandang, yaitu fonetik dan fonemik

Fonetik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia tanpa memperhatikan fungsinya sebagai pembeda makna. Pada pembahasan fonetik ini, bunyi-bunyi ujar hanya dipandang sebagai media bahasa sementara, tak ubahnya seperti benda atau zat.

Sedangkan fonemik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda makna. Bunyi-bunyi ujar dipandang sebagai bagian dari sistem bahasa yang merupakan unsur-unsur bahasa terkecil. Dari itu, fonemik memandang bahwa bunyi-bunyi ujar merupakan bagian dari sistem bahasa lazim. Adapun objek kajian fonemik adalah fonem. Untuk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu, (1) Udara, (2) Artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak, dan (3) Titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.

Sebagi contoh sedikit, bisa mengambil contoh huruf bunyi [i] pada kata [intan], [angin], dan [batik]. Tentu diantara ketiganya tidaklah sama. Begitu juga bunyi [p] pada kata inggris <space>, <pace>, dan <map>, juga tidaklah sama. Ketidaksamaan bunyi [i] atau bunyi [p] pada deretan kata-kata di atas itulah sebagai contoh objek dan sasaran fonetik. Dalam kajiannya, fonetik akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi serta menjelaskan sebab-sebabnya. Sebaliknya, perbedaan bunyi [p] dan [b] yang terdapat pada kata [paru] dan [baru] adalah menjadi contoh sasaran kajian fonemik. Sebab perbedaan bunyi [p] dan [b] itu menyebabkan berbedanya makna kata [paru] dan [baru] itu.

Ilmu fonologi sangatlah penting untuk mengkaji perkembangan bahasa dari waktu ke waktu. Adapun demikian, sangatlah penting mempelajari perolehan fonologi pada khususnya dan perolehan bahasa pada umumnya. Karena dengan pengkajian ini, pakar-pakar akan dapat menentukan beberapa teori bahasa secara tepat

Kaitannya dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Seperti yang telah diketahui, bahwa fonologi adalah kajian yang berkaitan dengan bunyi. Pada dasarnya setiap bahasa mempunyai ciri khasnya masing-masing pada aspek bunyi ujarannya. Tentu diantaranya yang mempengaruhi adalah kondisi budaya dan masyarakat setempat. Karena sejatinya bahasa adalah suatu hasil kesepakatan dari sebuah kumpulan masyarakat pada suatu tempat. Begitu juga halnya bahasa Indonesia, bahasa Arab, maupun bahasa Inggris yang terkadang berbeda-beda dalam ujarannya di setiap daerah.

Pada dasarnya, setiap orang mempunyai kemampuan untuk menguasai beberapa bahasa, termasuk bahasa Arab, walaupun dorongan atau motivasi dalam mempelajarinya terkadang berbeda-beda di setiap daerah maupun individunya. Dari itu, sebagai pembelajar maupun pengajar bahasa Arab haruslah mengetahui cara-cara strategis dan menarik untuk memberikan pembelajaran bahasa Arab kepada orang kedua atau peserta didik. Namun hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran bahasa Arab pada tingkat pemula adalah aspek fonologi atau bunyi (ashwat). Disamping juga bahasa arab adalah sebagai bahasa kedua sangat berbeda jauh dari bahasa Ibu.

Ketika seorang anak kecil belajar bahasa Ibu, kondisi otaknya bersih dan belum mendapatkan pengaruh bahasa-bahasa lain. Oleh karena itu, hasilnya cenderung dapat berhasil dengan cepat menguasai bahasa ibunya, baik lisan, tulis, dan bahasa berpikirnya. Maka normal saja mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan bahasa Arab sebagai bahasa baru. Karena harus menyesuaikan dengan sistem bahasa Ibu ke dalam bahasa Arab. Maka hal pertama yang perlu diajarkan secara kesinambungan adalah latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab dan fokus pada kesalahan dalam pengucapannya.

Adapun aspek dasar dalam pembelajarannya adalah cara mengucapkan abjad Arab dengan fashih dan benar (makhraj huruf hijaiyah), baik ketika sendiri sebagai abjad maupun setelah dirangkai dan diberi harakat. Oleh karenanya, pada masa awal belajar, pembelajar pemula akan sering dan terus berucap, berujar untuk melafadzkan huruf, kata atau kalimat dalam bahasa Arab. Tujuannya adalah agar dalam pengucapannya sesuai dengan aturan bahasa yang telah ditetapkan.

Juga dalam bahasa Arab terdapat beberapa komponen bahasa yang pertama kali dihadapi pembelajar pemula. Sebagai contoh kesulitan yang ditemui dalam bahasa Arab adalah terdapat pengucapan mad, syiddah, alif lam syamsiyyah, dan alif lam qomariyah. Juga terdapat kemiripan bunyi-bunyi yang makhraj-nya berdekatan, adanya bunyi tanwin, dan masih banyak laginya yang sangat berlainan jauh dari bahasa Ibu (Indonesia/daerah).

Bersyukurnya di Indonesia sedikit terbantu dengan adanya motivasi mempelajari bahasa Arab untuk mempelajari agama Islam, terkhusus membaca dan mempelajari al-Qur’an dan al-Hadits. Karena aspek-aspek makhraj dan lainnya sudah paling dasar dipelajari dalam ilmu tajwid sebagai langkah awal untuk membaca al-Qur’an. Itupun permasalahannya masih belum selesai, karena diketemukan ada perbedaan kesulitan pengucapan makhraj di setiap daerahnya.

Sudah menjadi tugas para pengajar bahasa Arab untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mengkategorikan beberapa bunyi yang didapati dapat menyulitkan pembelajar pemula. Sebagaimana yang ditulis oleh Syaiful Mustofa dalam karyanya Strategi Pembelajaran Bahasa Arab Inovatif, beberapa contoh kesalahan bunyi bahasa Arab/fonem, diantaranya kata qolbu yang salah ucap menjadi kalbu, kata ‘imâroh yang salah ucap menjadi imâroh, atau juga kata nadzoro yang menggunakan huruf “dzo” menjadi nadzaro, dan masih banyak lagi kesalahan-keselahan kecil lainnya.

Dari semua kesulitan yang acapkali dihadapi oleh pembelajar bahasa Arab pemula tentu akan menambah pekerjaan rumah tersendiri bagi pengajar bahasa Arab. Adapun sebagai langkah pertama yang harus dilakukan oleh pengajar sebelum mengajarkan bunyi adalah mengetahui dengan persis bunyi-bunyi yang dapat menyulitkan pembelajar peserta didik. Baik berdasarkan bacaan atau pengalaman dan penelaahan guru sendiri. Kemudian mencoba membandingkannya dengan sistem tata bunyi bahasa Ibu (indonesia/daerah). Cara ini biasa disebut dengan studi antar bahasa atau “studi kontrastif” atau “analisis kontrastif”.

Related posts