Gejolak Besar Pasca Pembaharuan Islam Abad ke-19

Gejolak-Pembaruan-Islam
Gejolak Pembaruan Islam

Gejolak Besar Pasca Pembaharuan Islam Abad ke-19. Dunia mengalami perkembangan dari masa ke masa baik dari segi politik, sosial, hukum dan lainya. Hal ini tentunya berawal dari Gerakan dari pihak luar . Mereka menginginkan modernisasasi karena berpikir bahwa kehidupan harus menyesuaikan masa sekarang. Adapun masa dahulu bagi mereka sulit berbaur bahkan tidak relevan dengan perkembangan saat ini.

Perubahan ini juga memunculkan pertanyaan yang cukup menggelitik. Bagaimana resolusi konflik mengakomodasi konsekuensi perubahan yang melahirkan beragam bentuk dan pola konflik serta memberikan metode penyelesaiannya[1]

Menurut Susanto, munculnya pemikiran pembaharuan dalam Islam dipengaruhi oleh dua masa, yakni masa pra modern dan masa modern. Masa Pra Modern ditandai adanya kecenderungan munculnya gerakan atau upaya yang dilakukan secara personal. Sedangkan masa modern yaitu adanya proses peleburan dalam wadah organisasi hingga upaya kolaborasi dengan penguasa (pemangku kebijakan).

Hal ini membuat para pembaharu menyadari satu poin penting. Bahwa pemangku kebijakan merupakan hal yang urgen dalam mendorong sekaligus ikut menentukan suksesi gerakan perubahan[2].

Dimulainya Arus Gejolak

Gejolak Besar Pasca Pembaharuan Islam Abad ke-19. Meskipun demikian, terdapat kerusuhan yang luar biasa yang dilakukan oleh penjajah dari pihak luar. Di mana mereka memiliki hasrat menggebu dalam merubah peradaban islam. Agenda mereka di antaranya adalah menghilangkan sistem yang telah mapan sebelumnya dalam berbagai bidang seperti bidang hukum, politik, dan pemerintahan.

Bahkan budaya Islam sangat terpojok dengan perubahan yang terjadi.  Khilafah Usmaniyyah (1299–1923) yang notabe simbol kekuatan politik Islam dengan wibawa yang sangat besar mengalami kesulitan mengendalikannya. Kekaisaran Islam modern ini tidak mampu membendung perubahan tersebut. Terlepas dari itu semua, negara Arab dan Afghanistan menjadi negara yang cukup terhindar dari perubahan tersebut sebab wilayah keduanya terisolir.

Terdapat dua aliran pembaharu yang turut andil dalam mengembangkan pemikiran modern Islam. Kelonpok pertama adalah aliran pembaharu kaum fundamental yang berusaha memperkuat polarisasi antara norma dan kenyataan. Kemudian kelompok ini mempertahankn pola tersebut dengan tetap teguh pada asal trasendensi dan keshahihan mutlak.

Walhasil mereka menolak nilai-nilai modern yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam[3]. Hal ini mengakibatkan kritik tersendiri bagi para kalangan pembaharu. Utamanya bagi mereka yang menganggap bahwa pertumbuhan zaman membutuhkan pemikiran baru untuk menyesuaikan zaman.

Sedangkan aliran yang kedua lebih mengarah kepada kaum intelektualis. Mereka menawarkan pandangan baru terhadap Islam yang sesuai konteks kebutuhan zaman melalui pendekatan, metode dan capaian ilmu kemanusian modern.  Oleh karena itu, aliran ini berupaya untuk memadukan ajaran Islam dengan nilai-nilai modern yang liberal.

Mereka berpendapat bahwa Islam adalah agama yang progresif dan terbuka terhadap perubahan. Semangat spiritual dalam mengembangkan aliran ini bahkan mengorbankan sebagian besar hal pokok dari tradisi Islam.

Dua Sungai Pemikiran

Secara mendasar kedua aliran sungai pemikiran tersebut bertentangan dan masing-masing memiliki pengaruh yang besar terhadap  dunia Islam. Kedua aliran tersebut mengalami kontak konfrontatif yang cukup keras selama puluhan tahun (sepanjang abad ke-20). Fitnah yang berlansung lama tersebut memicu munculnya sikap pembaruan terhadap Islam.

Diskursus tentang purifikasi Islamsemakin menonjol dan tidak dapat dihindari. Arah ini yang dikenal dengan sebutan “kembali pada norma (al-Qur’an dan Hadits?) “.

Kedua aliran tersebut menyita perhatian yang besar dari publik. Arus fundamentalisme dengan arah pemikiran dan langkah politisnya yang keras menyita perhatian cukup banyak dari para peneliti akademik. Sebaliknya, arus kritis – liberal malah membuat citra pemikiran Islam lebih dikenal di lingkungan Barat daripada di negara asalnya.

Baca: Mohammed Arkoun, Dekonstruksi Sebagai Metode Reinterpretasi

Seiring berjalanya waktu, opini publik menyuarakan penolakan keras terhadap fanatisme dari kaum Islamis. Bahkan beberapa kalangan sempat memperbandingkan dengan reformasi Kristen. Di mana hal tersebut memberikan kesan bahwa islamisme sebagai padanan protestanisme. Hanya bedanya Islamisme tidak menghasilkan kemakmuran khususnya dalam bidang ekonomi sebagaimana ungkapan dari Ernest Geller.

Mengakomodasi Dua Kutub

Di sisi lain, penelitian kontemporer sering mempersoalkan perihal gerakan-gerakan tersebut. Apabila merujuk pada sejarah muslim, maka didapati pemikiran untuk membawa realitas kembali pada gerakan-gerakan pemurnian yang muncul secara siklis.

Kemudian apabila kita melihat perubahan mendalam yang mempengaruhi masyarakat modern akan didapati hal yang berbeda.  Di sinilah istilah sekularisasi muncul, di mana agama diyakini menjadi faktor yang mesti dipisahkan dari domain publik. Lambat laun paham ini menstimulus akan kemunduran agama dan kurangnya kepercayaan pada ajaranya.

Perubahan ditujukan membentuk suatu peradaban yang baik. Pengembangan pemikiran menjadi suatu hal yang nisacaya dalam berdialektika dengan kondisi yang ada. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk pemertahanan eksistensi tanpa mematikan ajaran pokok.

Hal ini senada dengan kaidah yang berbunyi المحافظة على القديم الصالح والخذ بالجديدالاصلح (memelihara dan menjaga nilai atau ajaran lama yang baik, dan mengambil nilai atau ajaran baru yang lebih baik). Hemat penulis, dalam menyikapi dua arus sungai pemikiran besar tersebut dapat dengan menggunakan kaidah di atas. Yakni mempergunakan pemikiran fundamental dengan menyaring pemikiran-pemikiran baru yang bermunculan.

Sayyid Jamaluddin al-Afghani, seorang tokoh pembaharu Islam, mempunyai pandangan tentang Islam yang sangat komprehensif. Menurutnya, Islam mencakup segala aspek kehidupan, baik itu Ibadah, hukum maupun sosial. Persatuan umat islam harus diwujudkan kembali.

Menurutnya juga, kekuatan umat Islam bergantung pada keberhasilan membina persatuan dan kerjasama. Al-Afghani menginginkan umat Islam meraih kemajuan dan bekerjasama mewujudkan Islam yang maju dan dinamis[4] serta adaptif terhadap perkembangan zaman. Mengingat karakter Islam shalih li kulli zaman wa makan akan tetap membuatnya relevan.

Baca juga: Refleksi Teori Popper dan Relevenasinya dalam Kajian Keislaman

Hal tersebut dapat menjadi solusi bagi perseteruan dua arus sungai pemikiran di atas. Semangat ini pun seharusnya dapat terus disuarakan agar nantinya perjuangan dan keyakinan akan persatuan umat tetap menggema. Peran penting dari pembaharu pemikiran Islam khususnya Sayyid Jamaluddin al-Afghani menjadikanya tercatat dengan tinta emas sejarah[5]

 

Daftar Bacaan

[1] Sudira, I. N. (2017). Resolusi konflik dalam perubahan dunia. Global: Jurnal Politik Internasional19(2), 156-171.

[2] Zulkifli, Z., Tungga Bhimadi, K., Lenawati, A., Munirah, M., Arditya, P., & Siyono, S. (2023). Pemikiran Modern Dalam Islam.”.

[3]Abdou Filali Ansary , pembaruan islam dari mana hendak ke mana, Bandung : Mizan., 2009 cetakan pertama

[4] Sukmalia, D. (2019). Kiprah dan Kontribusi jamaluddin Al-Afghani dalam Pemikiran Modern Islam. Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid22(1).

[5] Ibid

Muhammad Alby Muwaffil Hammam, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Related posts

1 comment

Comments are closed.