Hubungan Bahasa Dengan Otak

banner 468x60


Manusia sebagaimana umumnya melakukan interaksi dan berkomunikasi antar sesama lainnya. Interaksi tersebut menggunakan bahasa agar dipahami oleh yang diajak berinteraksi. Sehingga bahasa merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang memungkinkan manusia untuk mengelola pikirannya ataupun mengendalikan pengaruh luar terhadap pikirannya.

Pada umumnya seseorang tidak merasakan bahwa menggunakan bahasa merupakan suatu keterampilan yang luar biasa rumitnya. Pemakaian bahasa terasa lumrah karena memang tanpa diajari oleh siapa pun seorang bayi akan tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan bahasanya. Dari umur satu sampai dengan satu setengah tahun seorang bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk bahasa yang telah dapat diidentifikasikan sebagai kata. Bisa dibaca artikel Proses Psikolinguistik Manusia yang telah membahas bagian ini sebelumnya.

Kegiatan berbahasa berlangsung secara mekanistik dan mentalistik, artinya kegiatan berbahasa berkaitan dengan proses mental dan otak manusia. Dari itu, studi linguistik perlu dilengkapi dengan studi antardisiplin, yaitu antara linguistik dan psikologi yang lazim disebut psikolinguistik. Obyek psikolinguistik adalah bahasa yang berproses dalam jiwa manusia. Terdapat adanya timbal balik antara hubungan bahasa dengan pikiran atau otak, bahwa bahasa membentuk pikiran dan juga sebaliknya pikiran pun membentuk bahasa yang diucapkan.

Pengertian Bahasa dan Pikiran/Otak

Menurut Sumarmo Markam, bahasa dalam pengertian sempit adalah sarana komunikasi antar individu yang diucapkan. Dalam pengertian luas, bahasa ialah sarana komunikasi antar individu yang pada umumnya mencakup tulisan, isyarat, dan kode-kode lainnya.

Bahasa merupakan bagian penting pada proses-proses kognitif. Sulit membayangkan bagaimana sebuah peradaban tanpa adanya bahasa. Bahasa merupakan sistem kognitif manusia (diatur oleh rumus-rumus) yang unik, dapat dimanipulasi oleh manusia untuk menghasilkan sejumlah kalimat bahasa linguistik yang tidak terbatas jumlahnya, sehingga pada akhirnya dipakai oleh manusia sebagai alat berkomuniasi dan mengakumulasi ilmu pengetahuan.

Dalam organ tubuh terdapat bagian yang befungsi mengendalikan semua gerak dan fungsi tubuh manusia, termasuk berbahasa, yaitu otak atau pikiran. Akar kata dari pikiran, yaitu berasak dari kata pikir yang berarti akal budi. Kemudian kata tersebut mendapat surfiks-an menjadi kata pikiran.

Pengertian Psikolinguistik dan Neurolinguistik

Psikolinguistik merupakan interdisipliner terdiri dari psikologi, yaitu ilmu yang berfokus pada pembahasan kejiwaan manusia, dan linguistik, yaitu ilmu yang berfokus pada pengkajian bahasa secara alamiah. Orang memberikan definisi yang berbeda-beda meskipun pada esensinya sama. Chaplin mendefiniskian sebagai kajian tentang bahasa dan komunikasi yang dihubungkan dengan individu yang menggunakannya. Sedangkan Harley menyebutnya sebagai suatu studi tentang proses-proses mental dalam pemakaian bahasa. Sementara Clark menyatakan bahwa Psikologi Bahasa berkaitan dengan tiga hal utama, yaitu komprehensi, produksi, dan pemerolehan bahasa. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam berbahasa.

Adapun Neurolinguistik merupakan rangkaian disiplin ilmu linguistik, neurologi, dan psikologi. Fromkin dan Rodman mendefinisikan Neurolinguistik sebagai kajian mengenai landasan biologis bahasa dan mekanisme otak yang berperan dalam pemerolehan dan penggunaan bahasa. Neurolinguistik merupakan satu sains baru sebagai kerjasama diantara Neurologi, Ilmu Kedokteran (perobatan) yang mengkaji sistem syaraf dan penyakit-penyakitnya, dengan linguistik. Kerjasama ini muncul karena ternyata penyakit dalam bertutur adalah termasuk bidang kajian neurologi dan juga linguistik. Jadi neurolinguistik, sebagai sains baru, mengkaji struktur dalam bahasa dan ucapan serta mekanisme serebrum (struktur otak) yang mendasarinya.

Hubungan Antara Bahasa dan Otak dalam Tinjauan Psikolinguistik

Beberapa ahli mencoba memaparkan bentuk hubungan antara bahasa dan pikiran. Atau dalam kajian yang lebih sempit terkait bagaimana bahasa mempengaruhi pikiran manusia. Mungkin disaat berkomunikasi, setiap manusia mempunyai respon dan ekspresi berbeda setiap kata atau ujaran yang dilontarkan. Sehingga bisa dikatakan bahasa mempengaruhi proses jiwa dan mental manusia selaku penutur maupun pendengarnya.

Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memahami ujaran. Dapat dikatakan bahwa psikolinguistik adalah studi tentang mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat memproduksi ataupun memahami ujaran. Dengan kata lain, dalam penggunaan bahasa terjadi proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode menjadi pikiran.

Psikolinguistik juga bisa dikatakan sebagai studi mengenai manusia sebagai pemakai bahasa, yaitu studi mengenai sistem-sistem bahasa yang ada pada manusia. Sistem-sistem bahasa tersebut dapat menjelaskan cara manusia dalam menangkap ide-ide orang lain dan bagaimana ia dapat mengekspresikan ide-idenya sendiri melalui bahasa, baik secara tertulis ataupun secara lisan. Dalam hal ini kaitannya dengan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh seseorang, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup Psikolinguistik yaitu seputar pemerolehan bahasa, pemakaian bahasa, pemroduksian bahasa, pemrosesan bahasa, proses pengkodean, hubungan antara bahasa dan prilaku manusia, dan hubungan antara bahasa dengan otak. Psikolinguistik meliputi pemerolehan atau akuisisi bahasa, hubungan bahasa dengan otak, pengaruh pemerolehan bahasa dan penguasaan bahasa terhadap kecerdasan cara berpikir, hubungan encoding (proses mengkode) dengan decoding (penafsiran/pemaknaan kode), hubungan antara pengetahuan bahasa dengan pemakaian bahasa dan perubahan bahasa.

Manusia sebagai pengguna bahasa dapat dianggap sebagai organisme yang beraktivitas untuk mencapai ranah-ranah psikologi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Kemampuan menggunakan bahasa baik secara reseptif (menyimak dan membaca) ataupun produktif (berbicara dan menulis) melibatkan ketiga ranah tadi.

Ranah kognitif yang berpusat di otak merupakan ranah yang  terpenting. Ranah ini merupakan sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yaitu ranah efektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa). Tanpa kemampuan berpikir mustahil seseorang tersebut dapat memahami dan meyakini faedah materi-materi yang disajikan kepadanya. Adapun ranah afektif adalah ranah psikologi yang meliputi seluruh fenomena perasaan seperti cinta, sedih, senang, benci, serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Sedangkan ranah psikomotorik adalah ranah psikologi meliputi segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah diamati baik kuantitas maupun kualitasnya karena sifatnya terbuka.

Hubungan Antara Bahasa dan Otak dalam Tinjauan Neurolinguistik

Menurut Whitaker, penentuan daerah-daerah tertentu dalam otak dalam hubungannya dengan bahasa itu didasarkan pada tiga bukti utama. Pertama, ialah unsur-unsur keterampilan berbahasa tidak menempati bagian yang sama dalam otak. Keterampilan berbahasa, seperti berbicara, menyimak, membaca, dan menulis, dan struktur linguistik seperti ciri sintaksis dan semantik, bentuk leksikal dan gramatikal, memiliki daerah khas dalam otak. Kedua, ialah bahwa bahasa semua orang menempati daerah yang sama dalam otak. Ketiga, ialah terdapat hubungan antara kemampuan bahasa dengan belahan otak.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa otak bukanlah satu gumpalan jaringan syaraf yang memiliki tugas yang sama pada semua bagian otak dalam mendukung semua tindakan manusia. Daerah yang berbeda dalam otak memiliki struktur yang berbeda dan setiap struktur memberikan sumbangan tersendiri untuk setiap perilaku yang dilakukan manusia. Untuk lebih terperinci akan dijelaskan bahwa otak memegang peran yang sangat penting dalam berbahasa.

Otak manusia itu memiliki berat 1300 sampai 1400 gram, tapi mengandung kira-kira 100 miliar neuron (sel syaraf). Minda (the mind) merupakan aktifitas kolektif dari bagian-bagian atau daerah-daerah otak. Untuk memahami minda manusia, kita harus mengetahui aktivitas-aktivitas dari daerah-daerah otak. Menurut Chomsky, dengan mengetahui aktivitas-aktivitas dari daerah-daerah otak ini, akan dapat diketahui dan dipahami bahwa hakekat bahasa merupakan komponen minda yang unik dan tersendiri.

Secara garis besar, sistem otak manusia dapat dibagi menjadi tiga, yakni (1) otak besar (cerebrum), (2) otak kecil (cerebellum), (3) batang otak. Bagian otak yang paling penting dalam kegiatan berbahasa adalah otak besar. Bagian pada otak besar yang terlibat langsung dalam pemrosesan bahasa adalah korteks serebral. Korteks selebral adalah bagian yang tampak seperti gumpalan-gumpalan berwarna putih dan merupakan bagian terbesar dalam sistem otak manusia. Bagian ini mengatur atau mengelola proses kognitif pada manusia, salah satunya tentu saja adalah bahasa.

Korteks serebral terdiri atas dua bagian, yakni belahan otak kiri (hemisfer kiri) dan belahan otak kanan (hemisfer kanan). Hemisfer kanan mengontrol pemrosesan informasi spasial dan visual (melihat, memperkirakan, atau memahami ruang atau benda secara tiga dimensi). Sementara hemisfer kiri mengontrol kegiatan berbahasa, disamping tentu saja proses kognitif yang lainnya. Koordinasi diantara keduanya dimungkinkan karena adanya struktur yang menyatukan kedua belah hemisfer ini, yakni korpus kalosum. Struktur yang berbentuk mirip tulang rawan ini berperan dalam menyampaikan informasi diantara kedua hemisfer.

Simpulan

Sudah menjadi kodratnya bahwa bahasa merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang memungkinkan manusia untuk mengelola pikirannya dan mengendalikan pengaruh luar terhadap pikirannya. Berpikir mungkin dapat dipahami seperti berbicara dengan diri sendiri di dalam batin dan orang lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Akan tetapi, bila apa yang dipikirkan itu hendak diberitahukan kepada orang lain, maka isi pikiran tersebut harus dinyatakan dan diungkapkan dalam bentuk tanda isyarat atau dengan kata-kata. Bahasa baik lisan ataupun tertulis adalah alat untuk mengungkapkan isi pikiran.

Oleh karena itu, antara pikiran dan bahasa ada suatu timbal balik. Berpikir dengan jelas dan tepat menuntut pemakaian kata-kata yang tepat pula. Begitu juga pemakaian kata-kata yang tepat sangat membantu untuk berpikir dengan lurus dan benar. Bahasa laksana alat pemikiran, apabila sungguh-sungguh dikuasai dan dipergunakan dengan tepat akan sangat membantu untuk memperoleh kecakapan berpikir dengan lurus. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa “berpikir lurus menuntut pemakaian kata-kata yang tepat.”

Hendaknya dalam mengutarakan sesuatu dari pikiran haruslah menggunakan tatanan bahasa yang sistematis dan teratur. Agar menghasilkan kebenaran dan tidak sesat sejak dalam pikiran. Oleh karena itu, apabila berbahasa atau berbicara melibatkan pikiran, maka ketika akan berbicara dengan siapapun dan mengenai apapun alangkah eloknya dipikirkan terlebih dahulu. Karena dari bahasa yang dituturkan juga akan memperlihatkan secara tidak langsung kepribadian penutur bahasanya. Wallahu a’lamu bis-showab.

Pos terkait