Hubungan Manusia dengan Dunianya (1)

Manusia bukanlah makhluk yang terisolasi, melainkan berada dalam relasinya dengan yang lain, baik dengan benda mati, binatang, tumbuh-tumbuhan, sesama manusia, bahkan dengan Tuhan.

Manusia sebagai subjek yang mampu menyadari diri, menghendaki tindakannya, tentu saja mempunyai kebebasan mengambil sikap dalam hubungannya dengan yang lain.

Dalam kebebasan, sebenarnya manusia bisa bersikap dan bertindak dalam hubungannya dengan yang lain dengan bebas menurut kehendak masing-masing.

Namun yang kita lakukan belum tentu baik kita lakukan. Suatu tindakan yang mungkin dilakukan, mungkin tidak layak dilakukan. Sebagai contoh, kita mungkin bisa melakukan kejahatan seperti pemerkosaan, perampokan, dan lain-lain, tapi hal tersebut apakah baik atau layak untuk dilakukan?

Nampaknya apa yang baik dan layak jika kita melakukannya terhadap makhluk infra-human (hewan, tumbuhan) tidak baik dan tidak layak jika kita melakukan kepada sesama manusia. Misalnya, sikap kita terhadap infra-human bisa memaksakan kehendak kita, namun pemaksaan demikian tidak layak ditujukan kepada sesama manusia.

Maka, dalam penentuan sikap dalam hubungan dengan yang lain tulisan ini akan membahas relasi yang diperkenalkan oleh Martin Buber, seorang filsuf yang pertama kali menyusun antropologi secara konsisten berdasar atas dialog dan hubungan antar manusia.

Manusia dalam Dunianya

Manusia pasti selalu berhubungan dengan tiga hal dalam dunia ini:

  1. Berhubungan dengan alam, juga termasuk benda-benda;
  2. Berhubungan dengan manusia; dan
  3. Berhubungan dengan Yang Absolut, di mana kaum beragama menyebut-Nya dengan Tuhan. (Martin Buber, I and Thou, 2008: 6)

Hubungan yang dilakukan oleh manusia dengan ketiga hal tersebut berkaitan erat dengan realitas. Realitas menurut Martin Buber adalah in between (ruang antara) yang terbuka, yaitu ketika manusia berhubungan dengan alam, sesama dan Tuhan dibangun atas dasar hubungan timbal balik. Dia menyebutnya dengan term aktualitas, yaitu kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang dibangun oleh individu.

Manusia adalah makhluk yang mampu memasuki hubungan hidup dengan ketiganya, baik secara individu maupun kelompok, serta dengan suatu misteri keberadaan yang secara samar-samar nampak tetapi sekaligus mengatasinya.

Manusia baru dapat dipahami secara nyata dan utuh hanya jika dipahami sebagai yang ada dalam dunia dan dalam hubungan hidup dengan yang lain.

Bila dibandingkan dengan binatang, binatang ditentukan oleh lingkungan dan kebutuhannya yang melekat dalam kodratnya. Sedangkan manusia, walau tidak bisa dielakkan bahwa dunia juga ikut andil dalam kehidupan manusia, manusia tetap mampu menentukan pilihannya dan mengatasi keperluannya.

Hal itulah yang membuat dasar bahwa manusia itu bebas. Eksistensi manusia menyatakan diri sebagai suatu korelasi antara manusia dengan dunianya. Manusia dapat menentukan korelasi ini. Manusia menyadari bahwa dirinya bebas dalam menentukan sikapnya sendiri terhadap dunia sehingga eksistensi manusia adalah dinamis, bukan statis.

Keberadaan manusia tidak terikat dengan dunia. Hal ini merupakan hasil perkembangan umat manusia yang berabad-abad lamanya. Setelah itu, manusia mengarahkan diri dan mengadakan hubungan dengan dunia.

Tindakan mengadakan hubungan dengan dunia, tidak dengan bagian, tidak dengan sejumlah bagian, namun dengan dunia sebagai keseluruhan dan kesatuan.

Konsepsi keseluruhan dan kesatuan menurut asal-mulanya identik dengan konsepsi dunia bgai manusia yang menghadapinya.  Dia yang menghadapi dan mengamati dunia serta melangkah untuk mengadakan hubungan dengannya akan menyadari keseluruhan dan kesatuan sedemikian rupa sehingga ia mampu mencapai ‘yang ada’ sebagai keseluruhan dan kesatuan.

Seseorang tidak akan mendapatkan hal itu jika orang itu hanya menjaga jarak dan tidak terlibat. Itu hampak baginya sebagai objek, hanya merupakan suatu kumpulan sifat-sifat yang dapat ditambah sekehendak hatinya, bukan sebagai keseluruhan dan kesatuan.

Dasar hubungan manusia dengan dunia merupakan suatu ungkapan struktur eksistensinya. Dua sikap manusia yang dipakai Martin buber dalam bukunya I and Thou (1958) yakni aku-engkau dan aku-itu/dia menunjukkan bahwa kodrat eksistensi manusia itu berganda.

Kata dasar ini adalah suatu kombinasi; yang pertama adalah sebagai wujud personal dan realisasi di mana menunjukkan suatu hubungan timbal-balik. Sedangkan yang kedua adalah wujud sikap obyektifikasi dan orientasi yang menunjukkan hubungan pribadi ke barang, subjek ke objek. Maksudnya adalah menggunakan, menguasai dan mengontrol.

Lanjutan……

Related posts