Ihwal Nahwu dalam Takwin al-Aql al-Arabi karya al-Jabiri

Al-Jabiri dalam Takwin al-Aql al-Arabi memiliki tiga konsep kritik nalar Arab yakni Nalar Bayani, Nalar Burhani dan Nalar Irfani. Sudah cukup banyak tulisan yang membahas ketiga konsep nalar yang menjadi struktur epistemologi tersebut.

Dalam kesempatan ini penulis tidak hendak mengupas ketiganya, namun hanya mengulas sedikit perihal nahwu yang masuk dalam rumpun Nalar Bayani.

Read More

Konsep Nalar Bayani (Nizam al-Ma’rifi al-Bayani) dalam pandangan al-Jabiri adalah disiplin-disiplin ilmu yang menjadikan ilmu bahasa Arab sebagai tema utamanya. Beberapa dispilin ilmu tersebut di antaranya adalah Balaghah atau stilistika (ilmu keindahan bahasa), Nahwu (gramatika bahasa Arab), Fiqih dan Ushul Fiqih sertaKalam (teologi). Semua disiplin ilmu tersebut dibentuk dari satu kesatuan sistem yang mengikat landasan-landasan penalarannya.

Al-Jabiri mengatakan bahwa dalam menelaah unsur-unsur pembentuk nalar Arab, Bahasa Arab memiliki peranan yang sangat penting. Kadar kecintaan orang Arab terhadap bahasanya begitu tinggi, sehingga karena saking tingginya sampai pada titik pensakralan. Di sinilah kehadiran Nahwu sangat berperan dalam memetakan dan memperngaruhi mekanisme Nalar Bayani sekaligus sebagai produk dari nalar tersebut.

Menurut al-Jabiri bila Yunani memiliki mukjizat filsafat, maka orang Arab memiliki mukjizat bahsa Arab. Sistem Bahasa dengan karakteristik yang dijelaskan di atas, tampak jelas pada era kodifikasi Bahasa (tadwin).

Bahasa Arab yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari diubah menjadi bahasa resmi dan ilmiah. Selain itu bahasa yang hanya diucapkan oleh lisan ikut dituliskan dalam Bahasa leksikon atau kamus-kamus. Salah satu ilmuan yang menjadi actor intelektual dalam proyek ini adalah al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H/791 M).

Segala persoalan tentang Nahwu telah dibukukan dan disusun oleh al-Farahidi dengan cukup sistematis. Beberapa teori yang telah disusun oleh al-Farahidi di antaranya adalah teori kaidah ‘amil dan ma’mul, kaidah sima’i, ta’lil dan qiyas (turunan, argumentasi, analogi) serta penjelasan penting tentang mengenai ciri khas Bahasa Arab, struktur dan susunannya.

Selanjutnya al-Jabiri mengatakan bahwa acuan bahasa Arab yang dibakukan pada masa tadwin tersebut bukanlah bahasa Arab yang dipakai Al-Qur’an. Akan tetapi para Nuhat (grammarian) pada masa tadwin cenderung mengambil Arab Badui sebagai acuan pembakuannya.

Argumentasi para ahli gramatika perihal ini adalah karena Al-Qur’an memiliki tujuh cara dalam membacanya yang terjadi perselisihan antara satu dengan lainnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka rujukannya adalah kosa kata yang dipakai oleh Arab Badui.

Era kodifikasi tersebut membuat wajah Bahasa Arab menjadi Bahasa yang ilmiah. Bahasa dengan kecermatan logis dan rasionalitas tingkat tinggi. Hal ini mengakibatkan kerap tidak bertemunya antara signified (al-Lafzh) dengan signifier (al-Ma’na). Hal ini karena Bahasa Arab telah mengacu kepada rumusan logika bersama sistem wazn-nya sedangkan realitas interaksi penutur dengan alam berjalan sangat dinamis.

Ahmad Baso mengatakan bahwa lebih lanjut Bahasa Arab hasil kodifikasi yang mengacu pada kosakata Arab Badui mengakibatkan alam pikiran dan lingkungan sosial yang melingkupi Bahasa tersebut ikut memberikan pengaruh terhadap cara berpikir orang-orang yang menggunakan Bahasa tersebut.

Secara singkat al-Jabiri mengatakan bahwa terdapat dua karakter pokok dalam Bahasa Arab yakni sifatnya yang ahistoris dan karakter inderawinya.

Derivasi kata dari kalkulasi matematis al-Farahidi dengan sistem wazn bisa saja membuat satu kata menjadi banyak variannya. Namun jumlah tersebut lahir dari rumusan rasio bukan dari tuntutan perkembangan zaman, di sinilah sifat ahistoris bahasa Arab berada.

Sedangkan karakter inderawinya adalah karakter masyarakat Badui yang hidup dalam alam berikut skema berpikir mereka ikut terangkut dalam bahasa Arab.

Konsekuensi paling nyata dalam tata kebahasaan adalah bahwa kata yang tidak terindeks dalam alam secara pendengaran dan rumusan matematis wazn di atas maka disebut sebagai kata serapan dalam bahasa Arab.

Dari hal yang demikian itulah dalam Nahwu ditemukan beberapa konsep seperti tasybih (emulasi) dan qiyas (analogi). Di mana kedua konsep tersebut kerap dipakai dalam menyusun forma-forma kata dan kalimat. Bahkan sampai pada tataran keindahan bahasa. Dua mekanisme itu yang pada tahap selanjutnya diangkut oleh Imam al-Syafi’i dalam diskursus fiqih dan Imam al-Ay’ari ikut pula membawanya dalam disiplin ilmu kalam.

Related posts