Imam al-Kisai dan Mozaik Pemikiran Filosofis Pendidikannya

  • Whatsapp

Tatkala tengah menulis artikel tentang Imam al-Kisai di edisi sebelumnya, penulis menemukan sebuah artikel yang sangat menarik perihal figur Imam Nahwu Madzhab Kufah ini.

Mozaik kisah ini ditautkan pada buku yang ditulis oleh Ali bin Abdul Aziz al-Syibl yang berjudul Masyayikh Syaikh Muhammad ibn Utsaimin rahumahumullah wa Atsaruhum fi Takwinihi, sebagaimana judul buku tersebut kisah yang dituturkan oleh si penulis disandarkan pada Syaikh al-Utsaimin lalu disandarkan pada Syaikh ‘Abd al-Rahman bin al-Sa’di.

Bacaan Lainnya

Syaikh al-Sa’di mengatakan bahwa Imam al-Kisa’i yang dikenal sebagai imam penduduk Kufah dalam studi Nahwu dahulu ia mempelajari ilmu tersebut namun tidak kunjung berhasil. Hal ini sebenarnya cukup wajar karena berdasarkan tuturan dari Imam al-Dazahabi dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala mengatakan bahwa Imam al-Kisa’i belajar Nahwu saat usianya sudah mulai memasuki fase lanjut.

Tatkala tengah dirundung kesulitan dalam mempelajari Nahwu tersebut, suatu ketika sang Imam menjumpai seekor semut yang tengah membawa makanannya sembari menaiki sebuah tembok.

Setiap kali naik semut itu pun terlihat jatuh. Namun meskipun demikian, semut-semut itu terus bersabar dan tetap berjuang hingga akhirnya berhasil lolos dari rintangan-rintangan tersebut dan mampu naik ke atas melewati tembok tersebut.

Kemudian Imam al-Kisa’i pun bergumam bahwa semut-semut itu bersabar dan tetap terus berjuang sampai ahirnya mampu mencapai tujuan. Maka ia pun perlahan menguatkan kesabaran dan terus berjuang dalam menimba ilmu Nahwu hingga akhirnya berhasil menjadi seorang imam/ulama teladan dalam bidang Nahwu dan tata kaidah bahasa Arab.

Kesungguhan belajar Imam al-Kisa’i telah mengantarkan dirinya pada sosok figur intelektual yang begitu kaya dengn berbagai macam pengetahuan. Utamanya adalah dalam bidang tatas bahasa atau Nahwu dan Qira’at. Popularitas figur intelektualnya mengantarkan Imam al-Kisa’i menjadi salah satu ulama yang dipercaya mengajar anggota keluarga khalifah di istana di samping ia menyemai pengetahuannya untuk khalayak umum.

Sejak masa al-Mahdi dari khalifah Abbasiyyah, Imam al-Kisa’i sudah diminta untuk mengajar anaknya al-Rasyid. Begitupun tatkala al-Rasyid mempercayakan anaknya al-Amin dan al-Makmun kepada Imam al-Kisa’i untuk belajar berbagai pengetahuan agama.

Kisah Imam al-Kisa’i di atas sejatinya adalah salah satu mozaik liku-liku para salaf al-shalih dulu dalam menimba pengetahuan. Kisah yang hampir serupa kita dapati pula dalam kisah Ibn Hajar al-Asqalani tatkala menimba pengetahuan. Dari keduanya kita belajar bahwa untuk mendapuk pengetahuan yang paripurna dibutuhkan tekad yang kuat dengan mental yang tak mudah remuk. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk senantiasa mengais ilmu-ilmu-Nya. Aamiin.

Pos terkait