IMPLEMENTASI NASIHAT DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA JENJANG SEKOLAH DASAR

  • Whatsapp
Gambar dikutip dari http://monkeybiznessfranchising.com/2019/05/my-two-cents-on-advice/

Penanaman nilai-nilai keagamaan sejak dini, sangat lah penting. Mengingat usia anak pada jenjang pendidikan formal pertama merupakan usia pembentukan karakter/akhlaq, seperti yang dikatakan oleh aliran empirisme, bahwa anak itu ibarat kertas putih yang kosong dan belum ditulisi oleh apapun. Nilai-nilai keagamaan dapat tersampaikan dengan baik dengan menggunakan metode nasihat. Metode nasihat memiliki pengaruh yang besar untuk membuat peserta didik faham tentang hakikat sesuatu dan memberinya kesadaran tentang prinsip-prinsip keagamaan.[1]

Metode nasihat dalam pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah dasar (SD) harus difokuskan melalui “uswah (teladan)”. Segala perkataan dan perilaku atau adab guru senantiasa terjaga, sehingga memberikan pengalaman langsung kepada murid terhadap adab berbicara dan berperilaku. Dalam proses pembelajaran, ketika guru menemukan murid yang berbicara dan berlaku tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman, hendaknya guru langsung memberikan teguran, peringatan dan penjelasan bahwa perbuatan yang telah dilakukan tidak baik. Tujuan dari penindakan langsung adalah agar murid memahami bahwa tindakan yang telah dilakukan itu tidak baik serta enggan untuk mengulangi perbuatan tersebut.

Selain itu, penggunaan metode nasihat dalam pembelajaran pendidikan agama islam harus diiringi dengan peringatan. Dalam rangkaian memberi nasihat sekaligus memberi peringatan. Nasihat dan peringatan yang diberikan kepada murid harus dilakukan dengan bijak dan lemah lembut agar tidak menakutkan sehingga dapat diterima dengan baik.

Teknik penyampaian metode nasihat banyak sekali macamnya, salah satunya yaitu teknik penyampaian dalam bentuk cerita. Pada dasarnya murid SD suka mendengarkan cerita-cerita atau kisah-kisah. Dalam pendidikan agama Islam kisah-kisah digunakan untuk membawakan ajaran-ajarannya di bidang akhlaq, keimanan dan lain-lain. Tujuannya adalah setelah murid menyimak cerita, mereka mampu mengambil hikmah atau nilai positif yang harus ditanamkan dalam diri mereka. Selain itu, melalui metode cerita, murid diharapkan mampu meniru tokoh yang baik dan menghindari perilaku tokoh yang buruk. Dalam proses pendidikan agama Islam, metode ini dapat digunakan sejak anak usia dini sampai dewasa. Melalui cerita para nabi dan syuhada atau para pemimpin, guru mampu menumbuh kembangkan semangat murid dalam belajar dan meneguhkan jiwa serta pendirian murid dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam surat Hud ayat 120.

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (هود :١٢٠) 

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”(Q.S 11: 120)

Metode nasihat penting dalam proses pembentukan sikap, kepribadian, dan perilaku anak. Meskipun nasihat merupakan metode yang efektif dalam membina sikap, kepribadian, dan tingkah laku anak, guru maupun orang tua harus berhati-hati dalam menggunakan metode ini. Bagi para guru, sebaiknya metode nasihat tidak terus menerus digunakan, sebab akan membosankan anak. Jika anak merasa bosan dengan penyampaian nasihat gaya metode nasihat, dikhawatirkan anak akan acuh terhapat nasihat sehingga perubahan yang diinginkan sulit tercapai.

Referensi:

[1] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 2012).

Pos terkait