Indonesia Masih Terbelenggu Oleh Penindasan Sosial (Teori Pembebasan Menurut Farid Esack dan Soekarno)

 

 

Ridwan Ardiansyah Wijaya Putra

Jurusan Aqidah dan Filsafat

Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

ridwan11awp@gmail.com

 

Pembahasan

Pemikiran Kontemporer Dalam Islam merupakan salah satu bagian dari studi Keislaman yang membahas tentang pemikiran-pemikiran Islam di era kontemporer pasca era modern yang telah ada disaat zamannya tokoh pemikir seperti halnya Muhammad Iqbal yang terkenal dengan aliran kiri dalam pemikirannya dan juga pemikirannya itupun terinspirasi dari pemikirannya si Nietszche Sang Penghujung Tokoh Filsafat Modern di era Renaissance dan juga Muhammad Arkoun yang terkenal dengan pemikirannya yaitu “Semiotika Arkoun”.

Studi ini tidak hanya membahas tentang Teologi saja, akan tetapi membahas tentang berbagai kajian berupa social dan politik. Adapun topik yang akan dibahas ini berupa penindasan social.

Dalam pandangan Pemikiran Kontemporer Dalam Islam sendiri, penindasan atau kolonialisme ini berupa salah satu upaya untuk menguasai suatu daerah sekaligus menghancurkan agama mayoritas, yaitu agama Islam sendiri di negara yang mayoritasnya berupa Islam. Adapun tokoh Pemikiran Kontemporer Dalam Islam ini membahas tentang hal tersebut, yaitu Farid Esack.

Tidak hanya pada Tokoh Pemikiran Kontemporer Islam saja yang membahas ini, yaitu Soekarno. Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam Sejarah Indonesia sekaligus seseorang yang menggasas berbagai pikiran yang akan menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila, yaitu Nasionalisme, Agamis, dan Komunis.

Kolonialisme

Kolonialisme ini diambil dari Bahasa Latin yaitu kata Colonus yang artinya Petani. Sedangkan menurut Terminologi, Kolonialisme ini merupakan salah satu penjajahan yang bertujuan untuk menguasai system perdagangan disana (https://bobo.grid.id/read/083116072/penjelasan-lengkap-kolonialisme-dan-imperialisme-beserta-contohnya?page=all).

Sebelum dua negara kolonialis ini menjajah maupun menguasai wilayah-wilayah Islam, Prancis dan Inggris mengirimkan beberapa Orientalis untuk mengawasi serta mengamati keadaan di sekitar wilayah tersebut yang memakan dua puluh tahun lamanya. Dari tahapan itulah yang menjadikan cikal bakal sebagai peneliti untuk mengamati benda-benda kuno dan mempelajarinya dan menjadi cendekiawan spionase yang bertujuan untuk membuka jalan bagi Napoleon untuk menyerang Mesir pada tahun 1798.

Tokoh Orientalis yang menjadikan keberhasilan Napoleon untuk menyerang Mesir adalah Silvestor. Dan disamping itu juga telah mempermudah penjajahan Prancis ke wilayah Islam di bagian benua Asia dan Afrika.

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh pihak Inggris, salah satu dari negara Kolonialis di abad ke-19 tersebut. Yang dimana mengirimkan sekelompok para Orientalis untuk mengetahui situasi dan keadaannya. Seperti Edward Lane, William Johnson, dan sebagainya. Selain Prancis, adapun beberapa negara yang menggunakan cara yang sama yaitu mengirimkan beberapa orang Orientalis dalam melakukan spionase sebelum melakukan penjajahan, seperti halnya negara Inggris yang mengutus seorang Orientalis yang bernama Edward Lane, William John, dan lain sebagainya.

Maka tidak heran, jika pergerakan mereka itu muncul di berbagai Lembaga, organisasi kejuruan, kelompok study menerbitkan majalah dan bulletin yang memuat pemikiran dan hasil penelitian yang mereka sebut sebagai “ilmiah” (A. Abdul Hamid Ghurab, Terj. A. M. Basalamah, 1992:73-74).

Adapun dampak lain daripada penjajahan atau kolonialisme ini, salah satunya adalah pada social. Ada beberapa dampak sosial akan kolonialisme yaitu:

  1. Adapun pembagian kelas social

Maksud dari pembagian kelas social ini berupa pembagian golongan, contohnya: golongan eropa, timur, dan pribumi.

  1. terjadinya mobilitas social berupa transmigrasi (perpindahan penduduk) demi memenuhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai daerah. Biasanya para perantau dari luar pulau yang rela mengikuti berbagai transmigrasi yang diberikan oleh pemerintah demi bekerja di luar pulau, seperti Pulau Jawa dan sekitarnya.
  2. Munculnya golongan borjuis (majikan) dan proletar (pekerja) karena berdirinya perusahaan di berbagai daerah yang akan menjadikan cikal bakal dari kesenjangan social di Indonesia.
  3. Munculnya kaum elite terdidik yang awalnya untuk memenuhi pegawai kepemerintahan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu hal tersebut akan mempengaruhi arah gerak di Indonesia.
  4. Terjadinya penindasan dan pemerasan secara kejam yang dilakukan oleh pihak Belanda pada pribumi (warga Indonesia).

 

Teori Pembebasan Menurut Farid Esack

Biografinya Farid Esack

Sebelum membahas tentang pemikirannya Farid Esack, alangkah baiknya melihat sekilas tentang biografinya Farid Esack yang akan menjadi cikal bakal lahirnya Teori Pembebasan tersebut.

Farid Esack lahir pada tahun 1959 di Cape Town, Afrika Selatan. Esack lahir di keluarga yang sangat miskin. Ayahnya meninggal dunia ketika usia beliau tiga minggu, sehingga ibunya bekerja keras untuk memenuhi kelima saudara dan kehidupannya. Sedangkan ibunya mengalami penderitaan yaitu sebagai korban dari triple oppression: apartheid, patriarchy, dan capitalism – sehingga ibunya meninggal dunia yang terbilang muda, yaitu berumur ke 52 tahun (Khudori Soleh, 2021: 24). Ketika berumur 7 tahun, ia memiliki cita-cita yang sangat besar, yaitu menjadi guru sekaligus pemimpin agama (cleric or Maulana). Di usianya ke 9 tahun, teman-temannya memilih gangster dan minuman keras, ia lebih memilih bergabung dengan Jamaah Tabligh (Gerakan Islam fundamentalis-revivalis internasional) sebuah kelompok muslim yang tidak berurusan dengan masalah politik, akan tetapi sebagai Gerakan politik bawah tanah yang memiliki rasa persaudaraan yang kuat diantara para jamaahnya. Di dalam organisasinya tersebut (South Africa Black Student Association), Esack paling lantang suaranya dalam menyuarakan perjuangan dan menuntut adanya perubahan social-politik yang radikal bagi masyarakat Afrika Selatan hingga ia di penjara karena telah mengkritik keras akan kewibawaan rezim apartheid pada tahun 1974 (Khudori Soleh, 2021: 25). Setelah ditahan dalam waktu yang tidak lama, Esack dibebaskan dan pindah ke Pakistan untuk melanjutkan studinya.

 

Pemikirannya Farid Esack

Adapun pemikiran Esack ini yang akan menjadikan suatu pembahasan yang sangat menarik untuk dikaji maupun dibahas yaitu berupa Teori Pembebasan. Menurut Farid Esack, Teori Pembebasan ini ditinjau dari beberapa kunci hermeneutika pembebasan, salah satunya adalah berupa Mustadl’afin atau Basis Pembelaan dan Keadilan.

Mustadl’afin merupakan salah satu kunci dari heremenutika pembebasan berhubungan dengan dasar-dasar pembelaan. Mustadl’afin ini juga mengajarkan tentang kita sebagai umat manusia harus membela sesame manusia lainnya terutama pada rakyat yang tertindas oleh penguasa, berupa penderitaan akan kemiskinan dan kelaparan. Dengan berpihak pada kaum-kaum tertindas, Mustadl’afin memberikan dua dampak positif, yaitu: a. Menunjukkan adanya kelemahan ataupun kesalahan dari beberapa tafsir tradisional, baik tradisional maupun modern, jikalau penafsiran mereka justru berpihak pada ketidakadilan. b. Mengakui adanya kesatuan umat manusia tanpa memandang suatu perbedaan yang ada berupa ras, suku dan agama sekaligus menggunakan prinsip kesatuan untuk melawan ketidakadilan salah satunya berupa imperialism atau penjajahan maupun penindasan.

Keadilan ini sebagai salah satu kunci dari Hermeneutika memiliki pemaknaan berupa penafsiran terhadap Al-Qur’an harus mengerahkan pada nilai-nilai perjuangan untuk menegakkan keadilan. Keadilan merupakan suatu orientasi utama dari aktivitas Hermeneutika Pembebasan. Tidak boleh adanya netralitas dalam penafsiran tersebut ketika terjadi adanya ketimpangan, ketidakadilan, kezaliman dalam realitas social yang ada. Sebab, sikap netral dalam suasa seperti demikian itu justru akan menimbulkan atau memperbolehkan ketidakadilan dan kezaliman yang seharusnya dilawan (Khudori Soleh, 2021:65-66).

Teori Pembebasan Menurut Soekarno

Biografi Soekarno

Soekarno merupakan salah satu tokoh nasional sekaligus tokoh pahlawan yang namanya diabadikan hingga sekarang. Karena aksi heroiknya melawan Imperialisme dari Belanda.

Soekarno terlahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo – beliau lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Surabaya dan meninggal pada 21 Juni 1970 di Jakarta.

Bung Karno adalah anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Beliau dari kecil sering sakit dan dirawat oleh kakaknya bernama Raden Hardjodikromo di Tulungagung. Setelah dirawat oleh kakaknya, beliau pulang kepada kedua orangtuanya di Mojokerto pada tahun 1909 saat berusia 8 tahun.[1]

Awalnya beliau terlahir dengan nama Kusno diganti dengan nama Karno dikarenakan nama sebelumnya yang menyebabkan sakit-sakitan (dalam istilah Jawa, huruf vocal “A” diganti dengan “O”. Nama tersebut diberikan oleh bapaknya, Soekemi. Dan nama tersebut terinspirasi dari Adipati Karna, salah satu tokoh pewayangan sekaligus tokoh dalam kisah Mahabharata. Nama tersebut diberikan oleh ayahnya dengan harapan yang besar pada suatu hari nantinya Soekarno akan menjadi Adipati Karna yang kedua, dalam tanda kutip akan menjadikan pahlawan besar bagi rakyat (Anom Whani Wicaksana, 2018:12-13).

 

Pemikirannya Soekarno

Marhaenisme merupakan salah satu gagasan atau ideologi yang tercipta dari Bapak Bangsa, yaitu Bung Karno

Maerhaenisme ini merupakan salah satu anak buah pemikiran dari ideologi Marx sendiri, yaitu pada ide-ide sosialis nya. Marhaen tercipta karena Bung Karno sangat menentang yang namanya Kolonialisme maupun Kapitalisme yang di terapkan oleh bangsa Eropa, terutama Belanda sendiri yang pernah menjajah Indonesia.

Ide Marhaen ini tercipta pada tanggal 1 Juli 1932, yang dimana sudah di tulis atau dibahas “Dalam Fikiran Rakjat” yang berbunyi “Pada satu waktu, saya sampai kepada suatu saat memerlukan satu nama umum bagi semua yang kecil-kecil ini. Ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya nelayan dan lain-lainnya. Semuanya tidak ada yang besar, melainkan kecil-kecil. Lantas, saya beri nama kepada semuanya itu marhaen!” (Anom Whani Wicaksana, 2019:265)

Adapun pandangan Soekarno akan Indonesia dalam dialog nya seperti berikut: “Indonesia, bagi kita, Saudara-Saudara, adalah segenap alam yang menghikmati kita ini. Kita mendengarkan Indonesia, kalau mendengarkan burung titiran melagukan nyanyiannya yang merdu. Kita mendengarkan Indonesia, Saudara-Saudara, kalua mendengarkan gelombang lautan Hindia bergelora membanting di pantai. Kita mendengarkan Indonesia, kalau minum daripada sumur-sumur di desa. Kita merasa di dalam alam Indonesia, kalau melihat bunga-bunga di jalan.

Menurut Bung Karno, Indonesia merupakan salah satu anugerah luar biasa yang telah diberikan oleh Tuhan. Kekayaan dan keindahan ala mini melebihi kondisi-kondisi berbagai negeri lainnya di dunia. Indonesia merupakan salah satu karya yang telah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa yang wajib di syukuri oleh semua orang. Akan tetapi, Soekarno tidak memberhalakan atau menyembah Indonesia. Kecintaan akan Indonesia yang membuat Soekarno untuk selalu berusaha untuk menyatukan semua unsur yang ada di negeri ini.

 

Berbagai unsur yang dipakai oleh Soekarno akan pemikirannya adalah Teori Sosialis ala Marx. Yang mengatakan bahwasanya manusia itu sama, setara dengan manusia-manusia lainnya. Tidak ada yang namanya kesenjangan social, yang dapat menghancurkan sisi kemanusiaan yang ada pada diri setiap manusia. Teori tersebut yang akan menjadikan Pancasila menjadi Tri Sila dan hingga menjadi Eka Sila – yaitu Trisila terdiri dari sosio-nasionalis, sosio-demokratis, dan ketuhanan dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 (https://mediaindonesia.com/opini/321964/soekarno-trisila-dan-pancasila).

 

Penutup

Bisa disimpulkan bahwasanya Farid Esack dan Soekarno ini secara tidak langsung berhaluan kiri. Karena, pemikiran-pemikirannya ini berdampak besar bagi negaranya berupa perjuangan melawan penindasan maupun penjajahan. Akan tetapi, yang membedakan antara Farid Esack dengan Soekarno ini adalah pada kisahnya Farid Esack tersebut melawan Apartheid yang merupakan salah satu pemerintah di Afrika. Sedangkan kisahnya Soekarno ini berjuang mati-matian untuk melawan Penjajah Belanda hingga Belanda bisa di usir dari Indonesia.

Demikian Jurnal yang sudah dijelaskan tersebut. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan baik kata-kata yang kurang pantas untuk dibaca maupun kesalahan pada letak tulisan pada Artikel ini. Semoga pada artikel ini bisa diambil pelajaran agar jangan sesekali melupakan sejarah. Karena, sejarah itu sangat penting untuk di pelajari, agar tidak dapat melakukan kesalahan yang dilakukan pada masa lalu, dan bisa dijadikan suatu pelajaran yang berharga.

Daftar Pustaka

Ma’ufur, Mustholah, 1995. Orientalisme: Serbuan Ideologis dan Intelektual. Jakarta: Pustaka Pelajar.

  1. Abdul Hamid Ghurab, Terj. A. M. Basalamah, 1992. Menyingkap Tabir Orientalisme. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Che Anom Whani Wicaksana. Sukarno: Biografi Lengkap Negarawan Sejati. Yogyakarta: C-Klik Media.

https://mediaindonesia.com/opini/321964/soekarno-trisila-dan-pancasila.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] https://www.gramedia.com/literasi/ir-soekarno/#:~:text=Ir.%20Soekarno%20atau%20akrab%20dipanggil,dan%20Ida%20Ayu%20Nyoman%20Rai.

Related posts