Info Gaji Khulafa al-Rasyidin Pertama

Beberapa hari ini atau setidaknya dalam satu pekan menuju Hari Raya Idul Fitri ini banyak orang yang di-riweuh-kan dengan THR. Di Indonesia keberadaan THR menjelang hari raya menjadi satu paket budaya dengan tradisi mudik. Keduanya lahir di tengah-tengah masyarakat dan menjadi trend tersendiri dalam waktunya yang khas. Sehingga bila Idul Fitri tanpa kehadiran keduanya bagaikan sayur tanpa garam atau bagaikan malam tanpa bintang.

Saking mentradisi dan melekatnya dengan kehidupan sosial masyarakat, kekecewaan kerap terpantik keluar manakala seseorang tidak dapat mendapat keduanya atau bahkan salah satunya. Covid-19 telah membuat beberapa penyesuaian terhadap kedua tradisi tersebut. Pemerintah telah mengeluarkan aturan pelarangan mudik sehingga tidak sedikit keluarga yang berkemungkinan besar tidak dapat berkumpul bersilaturahim bersama seperti biasanya. Meskipun tidak sedikit orang-orang yang nekad menyewa jasa travel atau secara mandiri pulang dengan melalui celah-celah jalan agar tidak terciduk oleh petugas check point.

Read More

Adapun yang terakhir, yang berkaitan dengan THR atau Tunjangan Hari Raya turut juga mendapat dampaknya. Di beberapa kantor atau tempat kerja terpaksa THR tidak dikeluarkan bahkan yang lebih parah melakukan PHK masal. Sedang di beberapa tempat lain ada yang tetap diberikan namun besarannya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya bahkan ada yang dibayar dengan diangsur kepada para pekerjanya.

Ekspresi kekecewaan dari para pekerja tentu tidak terelakan lagi. Apa yang biasa mereka dapatkan setiap tahunnya ternyata tidak dapat terulangkan pada kali ini. Kekecewaan karena hanya mendapat THR yang tidak penuh. Kekecewaan karena volume amplop dan lembaran yang ada di dalamnya tidak sesuai atau bahkan lebih dari sebelum-sebelumnya. Memang sangat memilukan di tengah kebutuhan rumah tangga atau keluarga yang terus menanjak. Namun yang perlu diketahui adalah bahwa pemilik kantor atau pemiilik tempat kerjapun tidak terelakan juga bingungnya.

Dalam situasi yang sedemikian rumit ini, memang yang dibutuhkan adalah sikap saling pengertian satu sama lain. Pun yang jangan sampai larut adalah suasana Ramadhan yang religius berubah menjadi Ramadhan yang penuh dengan sensasi pragmatisme duniawi. Jangan sampai kelezatan ubudiyyah di tengah dahaga dan lapar puasa berubah menjadi ubudiyyah yang hambar dan nyaris tanpa ada bekas dalam ruhani dan titi laku hidup.

Syaikh Maulana Muhammad Zakariya al-Khandalwi rahmatullah alaih mengetengahkan satu kisah menarik tentang gaji yang diberikan Baitul Mal kepada Abu Bakar al-Shiddiq. Tulisan beliau dalam kitab Fadhail al-A’mal mengatakan bahwa suatu ketika saat tidak berselang lama Abu Bakar dilantik menjadi khalifah, Ia pergi ke pasar untuk berdagang kain seperti sebelum-sebelumnya. Namun Ketika sampai di pasar ia bertemu dengan Umar dan mendapat complain darinya.

Umar menegur bahwa bila seorang Abu Bakar berdagang di pasar maka siapa yang menjalankan tugas kekhalifahan. Abu Bakar menangkis bahwa ia berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Lalu Umar mengajaknya bertemu dengan Abu Ubaidah bin Amir al-Jarrah untuk membicarakan gaji yang dapat diperoleh Abu Bakar dari Baitul Mal. Sang Aminul Ummah  (kepercayaan umat) Abu Ubaidah memberikan gaji sebagaimana upah orang muhajirin kelas biasa. Artinya  golongan muhajirin yang tidak miskin dan juga tidak kaya.

Setelah kejadian tersebut Abu Bakar fokus dengan urusan kekhalifahan. Bahkan dalam lanjutan kisah tersebut Abu Bakar banyak mengembalikan atau menurunkan jumlah nominal gajinya dengan berperilaku hidup zuhud dan qona’ah bersama keluarganya. Laku Abu Bakar yang demikian dikomentari oleh Umar dengan berdoa memohon kepada Allah SWT untuk bisa mengikuti jalan amal Abu Bakar meskipun terlihat sangat sulit.

Kita tidak dilarang untuk menuntut atau mengklarifikasi suatu hal atas nama kejelasan bahkan rasa keadilan sekalipun. Namun yang harus diwaspadai adalah jangan sampai kesibukan atas tuntutan tersebut melupakan kita pada doktrin keikhlasan dan rasa syukur. Pada Abu Bakar kita bercermin dan berkaca untuk menetra ulang akhlak ruhani kita atas realitas dunia yang fana.

 

Related posts