Ini Karya-Karya al-Jabiri dan Penulis Indonesia yang Turut Membincangkannya

Al-Jabiri telah menghasilkan banyak karya tulis, baik yang berupa artikel koran, majalah atau berbentuk buku dengan berbagai jurusan ilmu, politik, filsafat atau sosial. Buku pertamanya adalah Nahnu wa al-Turats kemudian al-Khithab al-‘Arabi al-Mua’sir Dirasah Naqdiyyah Tahliyyah, kedua buku ini memang sengaja dipersiapkan oleh al-Jabiri sebagai pengantar bukunya ‘Naqd al-’Aql al-‘Arabi (kritik nalar Arab).

Kitab-Kitab al-Jabiri

Read More

Al-Jabiri dikenal sebagai salah satu penulis prolifik dan ensiklopedis. sebelum meninggal dunia padahari Senin, 3 Mei 2010 pada usianya yang ke-75, berikut adalah di antara daftar kitab atau buah karya Muhammad Abid al-Jabiri yang pernah berdasarkan catatan Wardatun Nadhiroh;

Al-‘Ashabiyyah wa ad-Dawlah: Ma’âlim Nazhariyyah Khaldûniyyah fî Târikh al-Islâmî (1971), Adhwâ` ala Musykil at-Ta’lîm bi al-Maghrib (1973), Madkhal ila Falsafah al-‘Ulûm (1976), Min Ajli Ru`yah Taqaddumiyyah li Ba’dh Muskilâtinâ al-Fikriyyah wa at-Tarbawiyyah (1977), Nahnu wa Turâts: Qirâ`ah Mu’âshirah fî Turâtsinâ al-Falsafî (1980).

Al-Khithâb al-‘Arab al-Mu’âshir: Dirâsah Tahlîliyyah Naqdiyyah (1982),  Takwîn al-‘Aql al-‘Arabî (1984), Bunyah al-‘Aql al-‘Arabî (1986), as-Siyâsât at-Ta’lîmiyyah fî al-Maghrib al-‘Arabî (1988), Iskaliyyât al-Fikr al-‘Arab al-Mu’âshir (1988), al-Maghrib alMu’âshir: al-Khushûshiyyah wa al-Huwiyyah, al-Hadâtsah wa at-Tanmiyyah.

Ibn Rusyd: Sîrah wa al-Fikr (1998), al-‘Aql al-Akhlâq al-‘Arabî: Dirâsah Tahlîliyyah Naqdiyyah li Nuzhm al-Qiyâm fi Tsaqâfah al-‘Arabiyyah (2001), Madkhal ila al-Qur`ân al-Karîm: Fî Ta’rîf bi al-Qur`ân (2006), Fahm al-Qur`ân al-Hakîm: at-Tafsîr al-Wâdhih Hasba Tartîb an-Nuzûl (2008).

Pembincang-Pembincang dari Indonesia

Di Indonesia setidaknya ada dua tokoh besar yang terus secara serius mengkaji dan menghidupkan proyek intelektual Muhammad Abid al-Jabiri. Kedua tokoh itu adalah Ahmad Baso dan Aksin Wijaya. Ahmad Baso pada tahun 2000 menerbitkan salah satu buku terjemahan al-Jabiri dengan judul Post Tradisionalisme Islam.

Namun pada tahun 2017 buku ini kembali diterbitkan dengan edisi yang lebih diperkaya. Ia juga mengubah judul bukunya menjadi Al-Jabiri, Eropa dan Kita. Di dalamnya Ahmad Baso mengaku terpesona dengan konsep Al-Jabiri tentang al-Washl (continuity) dan al-Fashl (discontinuity).

Menurutnya konsep al-Jabiri tersebut memiliki kesamaan denga prinsip NU yakni Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdz al-Jadid al-Ashlah (Memelihara [tradisi] lama yang baik dan mengambil [tradisi] baru yang lebih baik).

Adapun Aksin Wiijaya menjadi salah satu cendekiawan Indonesia yang turut meramaikan pengetengahan pemikiran al-Jabiri. Salah satu karya yang diterjemahkan oleh Aksin dari buah karya Muhammad Abid al-Jabiri adalah kitab al-Kasyfu ‘an Manahij al-‘Adillah fi ‘Aqaid al-Millah aw Naqdu ‘Ilmi al-Kalam Dhiddan ‘ala at-Tarsim al-Aydiyulugi lil-‘Aqidah wa Difa-an ‘an al-‘Ilmi wa Khurriyah al-Ikhtiyar fi al-Fikri wa al-Fi’li/ Ma’a ad-Khal wa Muqaddimatan Tahliliyatan wa Syuruh lil-Musyraf ‘alal-Masyru’.

Menurut Aksin buku ini adalah salah satu ikhtiar keilmuan al-Jabiri untuk memberikan prolog terhadap salah satu buku Ibnu Rusyd. Dari sini terlihat bahwa al-Jabiri menjadi lokus yang terus menjaga dan menghidupkan konektifitas ulama-ulama Maghrib dari tiap zamannya.

Adapun buku yang dimaksud adalah buku yang berisi pandangan teologi Ibnu Rusyd dengan judul al-Kasyfu ‘an Manahij al-‘Adilh fi ‘Aqaid al-Millah. Sebagai penrjemah Aksin juga memberikan terjemahan yang cukup baik dalam karya ini.

Di samping kedua nama tersebut ada juga nama Imam Khoiri yang justru telah mempersembahkan penterjemahan karya utama Muhammad Abid al-Jabiri. Buku utama yang telah diterjemahkan tersebut adalah karya al-Jabiri yang berjudul Takwi>n al-‘Aql al-‘Arabi yang dalam edisi Arabnya diterbitkan oleh Markaz Dirasat al-Wihdah al-‘Arabiyah di Beirut pada tahun 1989. Adapun karya terjemahan Imam Khoiri diterbitkan oleh penerbit IRCiSoD pada tahun 2014.

Lebih lanjut Imam mengatakan bahwa nama Muhammad Abid al-Jabiri mulai menjadi tidak asing lagi di telinga para intelektual muslim Indonesia. Pasalnya beberapa karya al-Jabiri yang aslinya berbahasa Arab telah banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hal ini tentu membuat akses menuju pemikiran al-Jabiri semakin mudah.

Di samping itu yang tidak kalah penting adalah proyek pemikirannya yang ia sebut sebagai “Kritik Nalar Arab” yang menyita cukup banyak atensi para pengkaji Islam. Di mana untuk menjelaskan proyek besarnya tersebut al-Jabiri telah menuangkannya dalam dua karya besar yakni Takwi>n al-‘Aql al-‘Arabi (Formasi Nalar Arab) dan Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirsaha Tahliliyyah Naqdiyah li Nudzum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-‘Arabiyah (Struktur Nalar Arab: Studi Kritik Analitik atas Sistem-Sistem Pemikiran dalam Kebudayaan Arab).

 

Related posts