Islam: Hakikat Belajar

  • Whatsapp
gambar dikutip dari https://shiq4.files.wordpress.com/2017/08/wp-1502119976431.jpg?w=640

Dalam sejarah agama islam, penyelenggaraan pendidikan diawali oleh Rasulullah SAW dan para Khulafa ar-Rasyidin. Rasulullah saw telah menjadikan mengajar membaca dan menulis sebagai syarat pembebasan bagi setiap tawanan perang Badar pada waktu itu. Rasulullah SAW senantiasa menanamkan kesadaran pada sahabat dan pengikutnya akan urgensi ilmu. Selain itu Rasulullah SAW juga secara konsisten mendorong umat untuk senantiasa mencari ilmu. Hal ini dapat kita buktikan dengan adanya banyak hadis yang menjelaskan tentang urgensi dan keutamaan (hikmah) ilmu dan orang yang memiliki pengetahuan.

Seiring perkembangan jaman, Institusi pendidikan Islam mulai berkembang. Salah satu institusi pendidikan islam yang menggunakan sistem pendidikan ‘modern’ yaitu Universitas Al Azhar. Universitas ini didirikan oleh Daulat Bani Fatimiyyah di Kairo, Mesir pada periode Abu al-Manshur Nizar al-Aziz (975 M-996 M). Dalam pelaksanaannya universitas ini dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium. Selain itu di universitas ini pula mulai diberlakukan kurikulum pengajaran formal. Dalam kurikulum Al Azhar formal diajarkan disiplin-disiplin ilmu agama dan juga disiplin-disiplin ilmu ‘umum’ (aqliyyah).

Adapun ilmu agama yang terdapat dalam kurikulum Al Azhar antara lain tafsir, hadits, fiqh, qira’ah dan teologi (kalam). Sedangkan ilmu akal yang ada dalam kurikulum al-Azhar antara lain filsafat, logika, kedokteran, matematika, sejarah dan geografi.

Berdasarkan historis perkembangan ilmu dalam dunia islam dari jaman Rasulullah SAW hingga jaman modern, mengukuhkan bahwa belajar merupakan hal yang harus terus dijalankan. Bahkan terdapat pendapat yang mengatakan bahwa belajar merupakan aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu malakukan kegiatan belajar.

Dalam kitab suci umat islam, kata al ilm dan turunannya diulang sebanyak 780 kali. Seperti yang termaktub dalam wahyu yang pertama turun kepada baginda Rasulullah SAW yakni Al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memandang bahwa aktivitas belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berupa menyampaikan, menelaah, mencari, dan mengkaji, serta meneliti. Secara faktual, begitu pentingnya ilmu pengetahuan sehingga mewajibkan kepada umat dalam menuntut ilmu (belajar), sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

  طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ

_رواه إبن عبد البر_

“menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”(HR. Ibnu Abdil Bari)

Selain itu, agama islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Dalam prosesnya orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan segala masalah yang muncul di kehidupan dunia. Bahkan dengan ilmu manusia dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya. Allah SWT sangat membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena setiap apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya. Dengan berbekal ilmu yang dimiliki, insya allah mampu mengangkat derajat di mata Allah SWT.

Dalam perspektif psikologi belajar, belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan pengajar kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh pengajar.

Pada akhirnya menurut prespektif agama islam belajar merupakan hal yang wajib untuk dilakukan. Utamanya orang orang yang beriman. Melalui proses belajar secara konsisten pula manusia dapat terus meningkatkan keimanannya dan semakin muncul rasa cinta kepada Allah SWT. Bahkan manusia bisa digolongkan ke dalam makhluk yang mulia.

 

Referensi:

https://republika.co.id/berita/oibo2w313/sejarah-lahirnya-alazhar

Widodo Supriyono, Abu Ahmadi,  Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004)

 

Pos terkait