Istidlal dalam Ilmu Mantiq

ilmu manthiq
ilmu manthiq

Istidlal dalam Ilmu Mantiq. Istidlal ialah memindahkan pikiran dari perkara-perkara yang sudah diketahui kepada perkara-perkara yang belum diketahui dengan menggunakan yang sudah diketahui itu sebagai wasilah untuk mengetahui yang belum diketahui.

Kata istidlal berasal dari kata Arab, akar kata istidlal adalah dari kata ‘’istadalla’’ yang berarti mengambil dalil atau kesimpulan yang di ambil dari petunjuk yang ada. Sedang arti dalil sendiri adalah petunjuk. Petunjuk yang digunakan untuk mendapat satu kesimpulan.

Read More

Memahami Istidlal

Istidlal merupakan pembahasan terpenting dalam ilmu mantiq, karena mengambil kesimpulan yang benar ialah menjadi fungsi utamanya. Seseorang baru dikatakan mengerti ilmu mantiq ketika ia sudah dapat mengambil kesimpulan yang benar melalui teknik-teknik pengambilan kesimpulan mantiqi yang baku dan diakui. Kesimpulan yang benar itu dikatakan kesimpulan mantiqi (logis) karena penarikannya sesuai dengan kaidah-kaidan mantiqi (logika).

Dalam diri manusia terdapat berbagai potensi kemampuan yang dimiliki. Dari segala kemampuannya itu, tidak semua manusia mampu memberikan pengertian, deskripsi, dan analisa yang tepat dari sesuatu hal. Kebanyakan dari mereka, menggunakan perspektif yang berasal dari tanggapan panca indra semata. Setelah tanggapan panca indra tersebut diproses, maka terbentuklah keterangan-keterangan bebas yang berdiri sendiri dan terpisah dari yang lain. Dengan menggunakan keterangan-keterangan bebas yang sudah diketahui itu, kita dapat sampai kepada keterangan tentang sesuatu yang belum diketahui. Jalan pikiran semacam ini disebut penyimpulan (Istidlal).

Pengertian istidlal menurut para ahli. Menurut Abi Hilal al-Anskari Istidlal adalah mencari pengertian sesuatudari sisi lainnya. Menurut Muhammad Nur Al-Ibrahimi Istidlal adalah memahami sesuatu yang konkret untuk menemukan sesuatu yang abstrak dengan menggunakan sesuatu yang konkret itu sebagai media untuk menemukan sesuatu yang abstrak.

Baca juga: Pandangan Masyarakat Era Millenial Terhadap Ilmu kalam

Istidlal merupakan pembahasan yang terpenting dalam kajian hukum Islam, karena mengambil kesimpulan yang benar adalah menjadi fungsi utamanya.

Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Al-Qur’an, kemudian Sunnah, lalu Ijma selanjutnya Al-Qiyas. Dan jika ia tidak menemukan pada Al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas, maka hendaklah mencari dalil lain (Istidlal). Dan Istidlal itu sendiri dapat dipakai untuk membangun argumentasi untuk menyampaikannya pada suatu kesimpulan.

Pembagian Istidlal

Istidlal terdiri dari dua macam yaitu Qiyasi dan Istiqra’i. Secara etimologi, Qiyasi berarti ukuran atau mengembalikan sesuatu kepada persoalan pokoknya. Adapun menurut terminologi, Istidlal Qiyasi adalah upaya akal-pikir untuk memahami sesuatu yang belum diketahui melalui yang sudah diketahui dengan menggunakan kaidah-kaidah berpikir (logika) yang telah diterima kebenarannya.

Qiyas dalam ilmu mantiq adalah ucapan atau kata yang tersusun dari dua atau beberapa qadhiyah, manakala qadhiyah-qadhiyah tersebut benar, maka akan muncul dari padanya dengan sendirinya qadhiyah benar yang lain yang dinamakan natijah. Tetapi perlu dicatat bahwa, bila qadhiyahnya tidak benar, bisa saja natijahnya benar. Tetapi benarnya itu adalah kebetulan.

Contoh: (a) Anda mengutamakan kepentingan negara. (b) Setiap yang mengutamakan kepentingan negara adalah pembela tanah air. (c) Anda pembela tanah air.

Qiyas dibagi menjadi 2 macam yaitu qiyas iqtirani dan qiyas istitsna’i. Istiqra’i (induktif) secara lughawi, istiqra’i berarti penyelidikan dan penelitian sesuatu. Sedangkan secara istilah, Menurut Al-Jurjani adalah menetapkan sesuatu atas keseluruhan berdasarkan adanya sesuatu pada banyak fakta. Sedangkan menurut Muhammad Nur Ibrahim adalah penalaran yang didasarkan atas pemeriksaan fakta-fakta secara teliti dan mengkajinya secara cermat sehingga dapat ditarik suatu keputusan umum secara rasional.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa istidlal istiqra’i adalah proses berpikir dengan cara menarik kesimpulan umum berdasarkan fakta-fakta setelah terlebih dahulu dilakukan percobaan-percobaan dan penelitian yang cermat serta tepat.

Istilah lain untuk istidlal istiqra’i adalah penarikan kesimpulan secara induktif (istinbathi). Contoh: Besi, melalui percobaan-percobaan memanaskannya ternyata memuai. Percobaan ini dilakukan berulang-ulang di berbagai tempat dan waktu yang hasilnya sama, yaitu memuai.

Kesimpulan umum lantas ditarik bahwa besi, jika dipanaskan memuai. Percobaan dilanjutkan kepada benda lainnya dan semuanya sama, jika dipanaskan memuai. Akhirnya ditarik suatu generalisasi yang menjadi kesimpulan umum bahwa semua benda padat, jika dipanaskan, memuai.

Pembagian Lanjutan

Istidlal lstiqra’i terbagi menjadi dua, yaitu Istidlal Istiqrai Tam dan Istidilal Istiqra’i Naqish. Istidlal Istiqrai Tam Yaitu jika penarikan kesimpulan umum (generalisasi) berdasarkan hasil penelitian itu berlaku kepada semua individu atau satuan dari fakta-fakta yang ditetapkan suatu keputusan. Contoh: Jumlah hari pada setiap bulan Qomariyah tidak lebih dari tiga puluh hari.

Istidilal Istiqra’i Naqish Yaitu jika penarikan kesimpulan umum (generalisasi) berdasarkan hasil penelitian tetapi tidak berlaku kepada semua individu (masih terdapat individu yang dikecualikan karena penetapan umum tersebut tidak diberlakukan kepadanya). Contoh: Setiap orang yang sedih atau sakit, ia akan menangis.

Istidlal merupakan pembahasan terpenting dan tujuan tertinggi daripada ilmu mantiq, karena dengan istidlal itu pikiran dipindahkan dari perkara-perkara yang sudah diketahui kepada yang belum diketahui sehingga ia memperoleh apa yang dicari dan mengetahui apa yang dimaksud.

Baca juga: Bahasa Ilmiah Sebagai Seni Berkomunikasi Ilmiah

Muhammad Fikri, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Related posts