Jangan Keliru Menggunakan Kalimat Inna lillahi wa Inna ilaihi Roji’un

Ucapan Inna lillahi wa Inna ilaihi Roji’un acapkali dilontarkan kala ada salah seseorang wafat atau tertimpa musibah. Ucapan tersebut masyhur dikenal sebagai kalimat istirja’, merupakan sebuah ungkapan atau pernyataan bahwa semuanya akan kembali kepada Allah SWT. Konteks umumnya diucapkan tatkala seorang yang beriman menerima ujian ataupun musibah, baik musibah kecil ataupun besar. Karena sejatinya banyak sekali jenis musibah di dunia ini, tidak sebatas hanya berita kematian atau kehilangan saja.

Kalimat istirja’ tersebut jikalau diresapi sesunggunya memiliki makna yang cukup mendalam. Terdapat penegasan bahwa seluruhnya yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT semata. Manusia selaku hamba tidak punya daya upaya apapun atas semua hak dan kehendak yang telah Allah SWT tetapkan. Karena Dia yang Maha memiliki hak dan kehendak atas makhluk ciptaan-Nya di dunia.

Tentu semuanya untuk menguji seberapa besar kadar keimanan dan ketakwaan seorang hamba terhadap-Nya. Oleh karena itu, dengan mengucapkan kalimat istirja’ “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” yang juga merupakan kalimat thoyyibah setidaknya dapat menjadikannya seorang hamba yang lebih sabar menerima ujian dari-Nya, dengan semata-mata mengharapkan pahala dan juga ridho-Nya.

Walaupun kalimat istirja’ tersebut lebih spesifik diucapkan kala mendapati musibah, namun dikarenakan pemahaman konteks musibah tersebut masih sangatlah umum, akhirnya kalimat tersebut terkadang diucapkan tetap dalam konteks musibah, namun berbeda-beda situasi dan kondisinya. Bagaimana maksudnya itu ?

Seperti yang telah dituliskan dalam salah satu karya monumental Imam At-Thabari, yaitu Kitab Tarikh ar-Rusul wal-Muluk, atau biasa dikenal Kitab Tarikh Thabari. Dikisahkan kala itu sang Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, yang merupakan khalifah ketujuh Dinasti Umayyah, jatuh sakit dan hendak menuliskan surat wasiat nama-nama suksesornya setelah dia wafat. Kala itu tradisi penunjukkan suksesor khalifah yaitu berupa dua nama dalam satu paket. Atas masukan dari Raja’ bin Hywah yang merupakan penasihat khalifah kala itu menyarankan agar Khalifah Sulaiman mengutamakan Umar bin Abdul Azis.

Umar merupakan tangan kanan Khalifah Sulaiman dan juga kerabat dekat dari jalur keturunan pamannya yaitu Abdul Azis bin Marwan. Setelah melewati kompromi yang cukup panjang, akhirnya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik menulis dua nama, yaitu Umar bin Abdul Azis dan setelahnya Yazid bin Abdul Malik. Konon langkah ini guna mencegah ambisi Hisyam bin Abdul Malik, yang merupakan saudara sedarah dari Khalifah Sulaiman, untuk naik tahta sebagai khalifah.

Tibalah waktu Khalifah Sulaiman wafat, Raja’ bin Hywah membacakan isi surat wasiat tersebut di depan kalangan keluarga besar Umayyah. Menariknya, terdapat ucapan yang sama namun dengan reaksi yang sangat berbeda. Tatkala nama Umar bin Abdul Azis dibacakan sebagai pengganti khalifah, Umar langsung tertunduk lemas dan spontan berucap. Apa ucapannya ? Ya tiada lain adalah Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Umar memandang ini sebagai musibah besar karena dia terpilih menjadi seorang khalifah yang tanggung jawabnya sangat luar biasa sekali. Cerita ini cukup masyhur sehingga menginspirasi di kalangan aktivis dakwah untuk ikut mengucapkan kalimat istirja’ tersebut kala awal menampuk amanah baru.

Namun disisi lain, uniknya kondisi wajah Hisyam bin Abdul Malik pun ikut tertunduk lemas dan juga spontan berucap kalimat yang diucap pula oleh Umar bin abdul Azis, yaitu Inna lillah wa inna ilaihi roji’un, sebagai ungkapan rasa kekecewaan akibat dirinya tidak terpilih menjadi sebagai suksesor Khalifah. Kalimat yang sama, namun diucapkan dengan kondisi yang berbeda karena reaksi pemahaman terhadap konteks musibah yang berbeda pula.

Apresiasi cukup pantas diberikan bagi siapapun yang mengucapkan kalimat Inna lillah wa inna ilaihi roji’un sebagai kalimat pertama yang keluar dari lisannya ketika menerima jabatan baru. Kalimat yang tujuannya sebagai pengingat bahwa jabatan tersebut merupakan amanah baru yang dibebankan kepadanya. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan atau bahkan dipamerkan. Amanah tersebut bisa menjadi berkah berbuah pahala baginya dan kelak bisa pula menjadi musibah besar tersebab kelalaian dalam menunaikan semua tanggung jawabnya.

Namun yang mengherankan adalah, kalau ada yang tidak menerima amanah ataupun jabatan baru bergengsi lainnya ikut pula mengucapkan Inna lillah wa inna ilaihi roji’un. Asumsi jeleknya, jangan-jangan dia yang mengucapkan itu kondisinya seperti kondisi yang dirasakan Hisyam bin Abdul Malik ? Atau kondisi lainya ketika ada teman maupun kerabat yang menikah, lalu ucapan yang terlontarkan seharusnya adalah barakallah berubah menjadi Inna lillah wa inna ilaihi roji’un ? Sangat patut dipertanyakan kondisi batinnya. Maka dari itu, mari kembali bijak menempatkan kalimat thoyyibah tersebut di tempat dan konteks yang semestinya.

Related posts