Jejak Sejarah Islamisasi Nusantara

  • Whatsapp

Sebuah produk peristiwa, bukanlah berdiri dengan sendirinya diatas pintas sejarah. Yang mana biasanya peristiwa itu lahir dengan problematika zaman.

Berbicara perihal keotentikan pemikiran Islam Wali Songo sebagai lambang Islam Nusantara pasti terjadi problem keotentikan antara data dan fakta. Seringkali dijumpai bahwa pegkaji atau penulis menjeremus perangkap “bagaimana sebaiknya”, bukan “bagaimana semestinya” yang mana hal tersebut juga berdampak terhadap arah legenda dan mitologi (mistik irrasional), bukan hakikat realitas ilmiah yang rasional.

Dalam mempelajari perkembangan pemikiran tasawuf pada era Wali dalam Tanah jawa, perlu semestinya dikemukakan terlebih dulu perihal Islamisasi di Jawa. Yang mana Islamisasi di Jawa tidak dapat dipisahkan terhadap sejarah Islamisasi Nusantara.

Dalam formulasi ajaran mistik Jawa dipertaruhkan ketika mengawali dakwah Islam di Jawa oleh keuletan para wali, sehingga inti ajaran sufisme islam cenderung lebih menekankan aspek batin yang telah mempebanyak dimensi spritual, khazanah pemikiran, serta cerminan hidup masyarakat Jawa.

Pada informasi Islamisasi Jawa di abad 15, para sejarawan bersepakat bahwa kontribusi tasawuf atau mistik dalam Islam begitu primer dalam proses awal islamisasi dalam Jawa. Seperti yang dikemukkan Ridin Sofwan dalam tulisanya islamisasi jawa: penyebar islam dijawa, menurut penuturan babad, bahwa proses awal islamisasi dalam Jawa bisa dibuktikan dari data arkeologi yang berbentuk letak makam para wali di mana pada letat tersebut ada keterangan di batu nisan perihal kesalehan dan lambang kesederhanaan dalam inti ajaran tasawuf.

Selain hal tersebut, tempat di mana mereka (para wali) tinggal merupakan pokok penyebaran Islam awal di Jawa. Dan di sini pada zamanya juga sekaligus terjadi persinggungan inti ajaran spiritual antara asawuf yang berasaskan Islam dengan theosofi Jawa yang berasaskan Hindu.

Hubungan diantara dua pemikiran spiritual itu membuahkan diskursus wacana keagamaan yang particular. Yang di bumbui oleh penerimaan, penolakan maupun akulturasi. Maka dari itu wacana yang mengemuka merupakan pertentangan diantara ajaran tasawuf Islam yang murni, dan disisi lain juga berhubungan dengan tasawuf Islam yang sikretik dengan ajaran spiritual Jawa. Informasi-informasi tentang pergantian kepemimpian dari kerajaan Majapahit (bersifat mistis Hindu) ke kerajaan Demak (bersifat mistis Islam) yang yang bias berjalan secara sejahtera nan damai.

Para sejarawan dalam mengkaji awal masuknya Islam di Nusantara itu berbeda pendapat, sehingga sulit mencari dasar titik temunya hingga hari ini. Sebab asal mula para sejarawan berangkat dalam meneliti serta mendalami masuknya Islam berada pada ranah yang berseberangan.

Sebagian sejarawan mengambil strategi pada terwujudnya kekuatan politik, dan sebagian para sejarawan  mengambil strategi berpacu terhadap bukti-bukti yang telah ditemukan dalam kajian dalam purbakala (eskapasi arkeologis) terhadap inskripsi makam-makam islam di Jawa.

Sebagian sejarawan pertama menetapkan masuknya Islam di Nusantara pada abad ke-13. Yang mana pendapat tersebut dikemukakan oleh N.J. Krom dalam bukunya De Hindoe-Javaansche Tijd, Krom berpijak pada bukti kajian sejarah Aceh tentang berdirinya Kerajaan Samudra Pasai yang menetapkan bahwa kerajaan Islam itu telah ada sejak tahun 1297 M atau abad ke-13.

Pendapat bahwa awal masuknya Islam adalah pada abad ke-13 itu di perkuat oleh H.J. Van den Berg dalam bukunya Asia dan Dunia. Van den Berg menetapkan awal masuknya Islam di Nusantara itu berlandaskan dengan riwayat perjalanan Marcopolo pada tahun 1292 M yang telah menemukan kerajaan Islam di Sumatera.

Sedangkan sebagian sejarawan kedua menetapkan masuknya Islam di Nusantara pada abad ke-7 M atau sekitar zaman Mataram Hindu Wangsa Sanjaya di Jawa Tengah hingga masa Kerajaan Airlangga di Jawa Timur. Yang mana pendapat ini seperti yang dikemukakan oleh para beberapa sejarawan asing dianta anya Van Leur dalam bukunya “Indonesian Trade and Society” dan T.W. Arnold dalam bukunya “The Preaching of Islam”, dst. Maupun sejarawan Muslim Nusantara sepertihalnya Haji Agus Salim dalam bukunya “Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia”, H.M. Zainuddin dalam bukunya “Tarrih Aceh dan Nusantara I”, Hamka dalam bukunya “Sejarh Umat Islam IV”.

Pada tanggal 17-20 Maret 1963 di Medan lalu diadakan lagi tahun 1969 di Minangkabau dapat dirumuskan dalam dua kajan perihal masuknya Islam ke Indonesia. Hasil seminar itu meskipun telah dirumuskan oleh sejumlah besar peneliti sejarahwan dalam forum akademik yang besar, akan tetapi hal tersebut adalah hipotesa sejarah

Yang mana pada hakikatnya kekuatan hipotesa tersebut datanya hanya akan tetap dianggap kuat jika selama tidak ada data lain yang lebih akurat yang bisa diuji kebenarannya dalam forum resmi kajian sejarah yang berhasil menggugurkan, maka hasil itu layak dijadikan pedoman.

Dalam rumusan sejarah menurut sumber-sumber yang diketahui itu bahwa Islam dalam pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah (abad ke-7/ke-8 Masehi) dan langsung dari Arab. Dan daerah pertama yang dikunjungi oleh Islam adalah pesisir Sumatera. Dan setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja islam yang pertama di Aceh, dalam proses pengislaman selanjutnya orang-orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.

Dan penyiaran agama di Indonesia dilakukan dengan cara damai. Sebab para mubaligh Islam yang terdahulu selain berfungsi sebagai penyiar agama, juga sebagai saudagar. Jadi datangnya Islam ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.

Dari dua rumusan pendapat para sejarawan perihal awal masuknya Islam abad ke-13 atau ke-7 M. dapat dipadukan dalam sebuah pemahaman yang kronologis bahwa masuknya Islam di Indonesia telah terjadi semenjak abad ke-7 M di tengah-tengah masyarakat Nusantara yang membentuk koloni-koloni muslim yang belum terorganisir secara terstruktur menyebar di berbagai wilayah pantai dan pusat perdagangan, lalu penyebarannya berkembang secara intensif terjadi sekitar abad ke-13 Masehi dalam bentuk kerajan di Aceh.

Jadi Islam pada awalnya berkembang luas dari satu pulau ke pulau lain secara terus-menerus dengan akwahnya para ulama, dan juga dengan strategi perdagangan yang dipelopori oleh pedagang Arab sehingga timbul wilayah bandar dagang lebih dahulu terkena imbas penyebaran Islam.

Dalam penyebar luasan strategi itu dijalankan para oramg Arab, Persia, India dan Cina lalu diteruskan oleh masyarakat Indonesia (local) khususnya pemimpin ketika sudah membuat kerajaan dan para ulama lokal (Wali dalam tanah jawa).

DAFTAR PUSTAKA

Fansuri Hamzah, Dikutip Dari Mark R Woodward, Islam Jawa: Kealehat Normative Versus Kebatinan, Yogyakarta: LkiS, 1999.

Harun Hadiwidjoyo, Kebatinan Islam Dalam Abad Enambelas, Jakarta: Gunung Mulia, 1985.

Ibrahim Boechari, Sidi., Sadjarah Masuknya Islam dan Proses Islamisasi di Indonesia, Jakarta: Publicita, 1971.

Sjamsudduha, Penyebaran Dan Perkembangan: Islam, Katolik dan Protesan di Indonesia Telaah Sejarah dan Perbandingan, Surabaya: Penerbit Usaha Nasional, cet II. 1987.

Pos terkait