Kalam Nahwu dan Fondasi Tazkiyatun Nafs

al-Kalam wa al-Ushul fi Nahwi al-Qulub
al-Kalam wa al-Ushul fi Nahwi al-Qulub

Sebagaimana yang telah kita pahami bersama bahwa dalam diskursus ilmu Nahwu biasanya diawali dengan bab Kalam. Secara linguistik Arab, yang namanya al-Kalam terdiri dari tiga elemen yakni Isim (kata benda), Fi’il (kata kerja) dan Hurf (kata sambung dan semacamnya).

Imam al-Shanhaji mengatakan bahwa al-Kalam adalah lafazh yang tersusun memiliki faidah (bisa dimengerti) dan tujuan. Saat salah satu dari unsur tersebut tidak terpenuhi maka tidak cukup paripurna juga keabsahannya sebagai al-Kalam. Tiga elemen tersebut akan didedah dengan cukup lebih pada bahasannya tersendiri di depan.

Read More

Ibnu ‘Aqil tatkala memberikan Syarah atas nazham alfiyah yang ditulis oleh Imam Malik al-Andalusi juga mengetengahkan definisi yang hampir sama. Ulama dengan nama lengkap Syaikh Abdullah Bahauddin bin Abdullah bin Abdurrahim bin Abdullah bin Aqil Al-Hasyimy ini menuliskannya dengan sangat ringkas dan padat pada kitabnya tersebut. Bahwa al-Kalam adalah kata (al-Lafzhu) yang mengandung dua shifat atau karakter, yakni al-Ifadah (kebermaknaan) dan al-Tarkib (ketersusunan).

Tiga Perangkat Dasar

Imam al-Qusyairi mengatakan bahwa menurut para ahl al-isyarah fondasi ruhani terdiri dari tiga elemen. Pertama adalah aqwal (ucapan), penulis mencoba menafsirkan aqwal yang dimaksud oleh Imam al-Qusyairi mengandung dua makna, ucapan yang bermakna pengetahuan atau ilmu dan ucapan yang bermakna lamat-lamat dzikir.

Tidak ada ilmu atau pengetahuan yang tidak memiliki dimensi qouliyat. Bila kita menilik dalam tradisi keilmuan muslim generasi awal. Bahkan bisa jadi sampai dengan saat ini. Tradisi lisaniyat atau tradisi oral begitu kuat tumbuh menjadi metode dalam transmisi-transmisi pengetahuan. Tradisi menulis masih dalam rupa yang sangat sederhana sebab belum sampainya kertas-kertas Tiongkok atau India ke dataran Arabia.

Benda-benda seperti batu, kulit binatang dan belulang menjadi media dalam penulisan. Hal ini sebagaimana terjadi dalam tradisi penulisan ayat-ayat al-Qur’an oleh sahabat Nabi Muhammad SAW pada generasi awal. Ziauddin Sardar mengatakan bahwa pertama kali kertas tiba dan diperkenalkan ke dunia Islam pada abad ke-8 M di Samarkand, Irak. Teknologi industri kertas mulai berkembang dengan pesat di dunia Islam, setelah terjadinya Pertempuran Talas pada 751 M.

Setelah kertas mulai berkembang, barulah ilmu yang tadinya hanya berdimensi qouliyat dapat berubah format pada dimensi kitabiyat. Meskipun demikian, tatkala transmisi itu kembali digalakkan, teks-teks kitabiyat tersebut tetap harus dibunyikan oleh para pengampunya di ruang-ruang pembelajaran.

Adapun aqwal yang bermakna lamat-lamat dzikir lebih mengarah pada perawatan ruhani yang memakai media qouli. Pun tradisi ini tumbuh dalam diri para salik untuk terus mengingat Tuhannya. Beberapa lembaga tarekat atau ordo sufi melakukan formulasi dzikir-dzikir tersebut menjadi lebih sistematis.

Aktualisasi Ilmu

Dalil naqli yang dituliskan oleh Imam al-Qusyairi untuk menopang argumentasi aqwal di atas adalah salah satu hadits Nabi sebagai berikut.

عن عمر بن الخطاب وابنه عبد الله وأبي هريرة رضي الله عنهم مرفوعاً: أُمِرْتُ أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، ويُقيموا الصلاة، ويُؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءَهم وأموالَهم إلا بحق الإسلام وحسابُهم على الله تعالى .صحيح متفق عليه

Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb dan putranya Abdullah dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhum- secara marfū’, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka kembali pada Allah -Ta’ālā-.”  Hadis shahih – Muttafaq ‘alaih

Supirso mengatakan bahwa kalimat tauhid dalam hadits tersebut adalah simbol dari keimanan dan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain tauhid menjadi paradigma yang dipakai dalam membaca realitas dan melahirkan laku-laku religiusitas.

Perangkat Af’al ini menjadi fondasi kedua dalam perangkat yang menjadi elemen ruhani. Manifestasi dari Af’al ini dapat dilihat dari serangkaian ibadah yang telah digariskan dalam ilmu-ilmu syari’ah – bukan hanya sekadar ilmu fiqih- seperti shalat, puasa, zakat, haji, tidak mendengki, menguasai diri, meredam amarah – dendam, menolong sesama dan lain-lain.

Kondisi Spiritual Pemberian Allah SWT

Fondasi ruhani berikutnya menurut ahl al-isyarah yang dikutip oleh Imam al-Qusyairi adalah ahwal. Syaikh Abu Nashr al-Sarraj dalam kitab al-Luma’ bahwa ahwal adalah sesuatu yang berasal dari kejernihan dzikir yang terletak dalam hati, atau hati yang berada dalam kejernihan dzikir tersebut.

Imam Junaid al-Baghdadi mengatakan bahwa hal adalah sesuatu yang terjadi secara mendadak yang tempatnya berada di dalam hati nurani. Kondisi tersebut juga tidak dapat konstan dalam waktu yang cukup lama, dalam artian ia berubah-ubah.

Imam Abu Sulaiman al-Darani juga mengatakan perihal definisi dari ahwal. Beliau mengatakan bahwa jika interaksi dengan Allah SWT telah menembus ke dalam hati, maka anggota tubuh hamba tersebut akan terasa nyaman dan ringan.

Makna ringan dari yang disampaikan oleh Imam al-Darani tersebut adalah ringan dalam melaksanakan mujahadah-mujahadah  dan amal-amal kebaikan. Di mana tingginya frekuensi dalam menunaikan amaliyah kebaikan tersebut menjadi satu hal yang membudaya dalam dirinya. Sehingga puncak dari budaya ruhani tersebut adalah tercapainya kelezatan dalam beramal dan sirnanya rasa letih dalam menunaikannya.

Dari sini kita dapat melihat bahwa seluruh laku kita dalam menimba ilmu (aqwal) dan melamatkan dzikir-dzikirnya, aktualisasi kita akannya(aqwal) dalam laku-laku syari’at (af’al) kebaikan akan mengantarkan kita pada kondisi spiritual (ahwal) yang penuh dengan kelezatan ruhani. Baik Imam al-Qusyairi ataupun Imam al-Sarraj, keduanya sama-sama bersepakat bahwa ahwal adalah pemberian dari Allah SWT yang amat manis kepada hamba-Nya.

Related posts