Kalimat Gombal di Penegakan Covid-19

Sebagai orang orang yang kerap mengamati beberapa percikan nalar dalam  dan di luar berita-berita televisi, penulis mencoba mengetengahkan satu topik ulasan tentang kondisi terbaru covid-19 yang akhir-akhir ini bukan hanya menunjukkan penaikan, namun sudah pada taraf pelonjakan. Dalam majelis rumpi bersama ibu-ibu tetangga di kampung, atau diskusi minimalis bersama suami saat jalan-jalan sore mengelilingi sawah-sawah pinggir desa yang sayhdu banyak obrolan atau bahasan yang tdak sengaja menyambung pada topik atau bahasan perkembangan (penanganan) covid-19 di negara ini.

Virus yang konon “dilahirkan” di Wuhan – Tiongkok pada beberapa waktu lalu itu masih saja menyita atensi dari masyarakat luas.  Dia tampak enggan untuk turun panggung bergantian dengan isu lainnya yang biasa naik podium utama nasional. Pun bila ada isu lain yang muncul sebagai arus mainstream maka tidak akan pernah surut untuk direlevansikan dengan virus covid-19.

Menyasar ke Pilkada 2020

Sebut saja misalnya relevansi dengan isu Pilkada serentak 2020 di negeri ini. Di mana variabel tentang isu covid-19 tidak bisa dinafikan sama sekali. Bahkan menjadi salah satu bahasan hangat di kalangan elit-elit publik. Mahfud MD sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM mengatakan bahwa pelaksanaan Pilkada serentak 2020 tidak bisa ditunda lagi sebab tidak mungkin para pucuk pimpinan daerah dipimpin oleh Plt. Pasalnya petugas Plt tidak bisa mengambil keputusan-keputusan yang straegis.

Hal senada dilontarkan juga oleh Fadjroel Rahman sebagai salah satu tim Juru Bicara Presiden. Fadjroel mengatakan bahwa pelaksanaan Pilkada serentak 2020 ini akan menjadi ajang tarung gagasan yang kreatif. Terlebih yang berkaitan dengan isu-isu aktual tentang penanganan covid-19. Oleh karenanya pemerintah tetap dengan tekadnya untuk terus bersiap menghelat ajang “rutinan” demokrasi ini.

Namun dari keduanya sebagaimana yang dilansir oleh beberapa media berita mainstream akan memberlakukan protocol kesehatan covid-19 yang sangat ketat. Bagi penulis sendiri kata-kata yang terakhir ini adalah kalimat paling gombal dalam kegiatan penegakkan covid-19. Setiap manusia di negeri ini yang hendak mengadakan kegiatan apapun pasti akan memakai kalimat-kalimat ini.

Kegombalan dan Kerja Budaya

Sebenarnya kalimat ini adalah kalimat yang teramat gagah untuk meyakinkan orang untuk bisa terlibat dalam kegiatan yang diusung. Namun seiring berjalannya waktu, kesaktian dari kalimat itu semakin redup dan memudar. Hal ini lebih banyak disebabkan karena orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak benar-benar skriptural dengan aturan yang berlaku. Masker hanya sebatas simbol dan ikon informasi bahwa mereka mengikuti protocol kesehatan dan peduli, begitupun juga dengan tatanan kursi berjarak di beberapa tempat acara seperti di aula atau di hotel yang hanya untuk mengabarkan bahwa mereka menerapkan physical distancing.

Lebih – lebih bila kita mencoba melaukan validasi antara apa yang disampaikan oleh orang-orang pengucap “telah disesuaikan dengan protokol kesehatan covid-19” atau “dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan covid-19” tersebut dengan apa fakta yang muncul di lapangan. Masih banyak orang yang berdesakan di pasar meskipun telah bermasker. Masih banyak orang tak bermasker di pusat-pusat berbelanjaan kota meskipun ada handsanitizr touchless dan cek suhu tubuh. Banyak yang masih berangkat ke kantor padahal dia dalam masa karantina karena memang beberapa dari aktifitas pekerjaannya adalah bergerak dari satu kota ke kota yang lain.

Oleh karenanya kata-kata gombal masa pandemi ini harus segera di-reboot kualitas maknanya. Penegakkan protokol kesehatan covid-19 bukan hanya sebatas kedok agar kegiatan bisa diselenggarakan. Juga bukan gincu agar suatu acara tampak sangat manis. Padahal isinya sama saja jauh dari rasa manis penegakkan protokol. Bahkan cenderung lepas dari skripturalitas aturan yang telah digariskan oleh otoritas kesehatan terkait.

Kerja penegakkan protokol kesehatan adalah juga kerja budaya, tidak bisa dilaksanakan secara instan. Perlu waktu yang tidak hanya dala hitungan berapa kali 24 jam. Namun dengan perlu kebersamaan dalam komitmen dan kesadaran dalam melaksanakan ritualnya. Tentu dengan pendakatan persuasif yang massif dan pengawasan yang tidak menjadi represif. Dalam hal ini bukan saja pemerintah yang menjadi agen percontohan, tapi setiap dari kita adalah role model penegakan protokol kesehatan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita dan lingkungan tempat di mana kita tinggal.

Related posts