Kamus al-Munawwir in Memoriam

banner 468x60

Aku singkatkan saja kisahnya saat awal jadi mahasiswi baru di Yogyakarta. Tinggal nyantri di komplek Q, Pondok Pesantren al-Munawwir. Bukan terbilang santri yang sangat mahir dan piawai dalam membaca kitab kuning seperti beberapa temanku yang lain di 3D. Tapi sungguh saja aku sangat bersyukur bisa sempat menikmati hidup di sana bersama manusia-manusianya saat itu.

Perjumpaan pertama dengan kamus al-Munawwir adalah saat jadi santri baru di sana. Hampir semua santri baru mendapat kamus yang jumlah halamannya menembus seribu enam ratus lebih. Bahkan satu komplek Q itu setiap kamarnya bisa dipastikan memiliki kamus legendaris yang ditulis oleh K.H. Ahmad Warson Munawwir itu. Kami memanggil beliau dengan Mbah Warson. Allah yarham alaih.

Bacaan Lainnya

Konon Mbah Warson menulis kamus itu dalam waktu cukup lama sekitar tujuh tahun. Saking “khusyuknya” dalam menulis, beliau sempat terganggu kesehatannya oleh penyakit hemoroid (ambeyen). Namun kesungguhan dan kegigihan telah mengantarkannya sukses menyelesaikan master piece-nya itu. Magnum opus yang dapat dinikmati manfaatnya oleh seluruh khalayak masyarakat,. Utamanya para santri, mahasiswa dan para pengkaji studi Islam – bahasa Arab lainnya.

Pernah terdengar kisah bahwa Mbah Warson ditawari beberapa jabatan politik. Tapi hanya sedikit yang diterimanya, itu pun dengan jangka waktu yang tidak terlalu lama. Beliau termasuk Kyai yang menolak uang politik masuk ke dalam pondok. Beliau mencukupkan hasil penjualan kamus untuk mencukupi keperluan pondok.

Di usianya yang memasuki senja, beliau tidak berhenti mengajar santri-santrinya. Kebanyakan di pengajian pagi dan sore. Kerap Mbah melakukan inspeksi kebersihan dari ruangan ke ruangan. Menegur santri yang terlihat tidak mengindahkan kebersihan. Tentu santri yang mendapat teguran itu akan terasa sangat malu, tak terkecuali dengan aku sendiri.

Tak sampai satu tahun aku melewati hari-hari di komplek Q dengan kehadiran Mbah Warson. Setelah bebrapa hari pasca meninggalnya beliau, barulah aku tahu bahwa sosok sekaligus figur sederhana itu adalah seorang The Great Man. Tentu bertambah rasa kagum dan syukurku yang pernah bertemu dengannya selama hidup meskipun tidak terlalu lama.

Perihal kamus al-Munawwir, tentu sudah banyak penelitian baik itu skripsi, tesis, desertasi atau jurnal yang menangkapnya dalam ruang ilmiah. Tapi bagiku sendiri ia adalah monumen dari momen-momen nyantri di komplek Q. sampai aku menikah dan dikaruniai satu orang anak kecil laki-laki saat ini.

 

Pos terkait