Karl R Popper, Kekaguman kepada Einstein hingga Kritiknya terhadap Positivisme August Comte

Karl R Popper, seorang akademisi dan juga seorang fisluf yang terkenal sangat kritis. Ia lahir sebagai seorang berdarah keturunan Yahudi. Dalam riwayat hidupnya pernah terusir atau harus angkat kaki dari tanah kelahirannya, yaitu Austria, sebab pemerintahan Jerman dibawah kekuasaan rezim Fasis Hitler telah menduduki tempat itu. Popper lalu pindah ke Selandia Baru dan mengajar di Universitas Christchurch. Pada tahun 1945, ia pindah ke Inggris untuk mengajar di London School of Economics hingga diangkat menjadi professor pada tahun 1948.

Riwayat Hidup Karl R Popper dan Kekagumannya kepada Einstein

Read More

Lahir pada tanggal 28 Juli tahun 1902 di Wina, Austria, Karl Raimund Popper dengan nama lengkapnya dikenal sebagai filsuf yang sangat berpengaruh di bidang sains dan politik. Ayahnya Dr. Simon Sigmund Carl Popper seorang pengacara yang sangat minat pada Filsafat. Perpustakaannya luas mencakup kumpulan-kumpulan karya filsuf besar dan karya-karya mengenai problem sosial.

Masa remajanya di kota Wina merupakan masa yang cukup menentukan arah perkembangan pribadi dan intelektualnya. Ketika umur 17 tahun, selama beberapa tahun ia menganut komunisme, tetapi tidak lama kemudian ia meninggalkan aliran politik ini, karena ia yakin bahwa penganutnya menerima begitu saja suatu dokmatisme yang tidak kritis dan ia menjadi anti Marxis untuk seumur hidup. Perjumpaannya dengan Marxisme diakui olehnya sebagai satu diantara peristiwa penting dalam perkembangan intelektualnya.

Pada tahun yang sama tahun 1919, Popper mendengar apa yang dikerjakan oleh Einstein dan menurut pengakuannya merupakan suatu pengaruh dominan atas pemikirannya, bahkan dalam jangka panjang pengaruhnya sangat berarti. Dalam suatu waktu Popper mendengarkan ceramah Einstein di Wina. Ia terpukau oleh sikap Einsten terhadap teorinya yang tidak dapat dipertahankan kalau gagal dalam tes tertentu. Ketidaksesuaian antara teori dengan eksperimen akan menentukan apakah teorinya bisa dipertahankan atau tidak. Sikap ini menurutnya berlainan dengan sikap Marxis yang dogmatis dan selalu mencari pembenaran (verifikasi) terhadap teorinya.

Pada tahun 1928 ia meraih gelar Doktor Filsafat dengan suatu disertasi tentang Zur Methodenfrage der Denkp Psychologei (Masalah Metode dalam Psikologi Pemikiran), suatu karangan yang tidak diterbitkan. Pada tahun berikutnya Popper memperoleh gelar Diploma pada bidang Matematika dan ilmu pengetahuan Alam.

Sesudah perang dunia II selesai, Popper diangkat sebagai dosen di London School of Economics, sebuah institut di bawah naungan Universitas London. Di sini ia mempersiapkan suatu buku yang menguraikan perkembangan pemikirannya sejak buku The Logic of Scientific Discovery.  Diantara buku yang diterbitkan antara lain Realism and Aim of Science: Quantum Theory and the Schism in Physics, The Open Sociaty and Its Enemies, The Poverty of Historicism, dan Conjectures and Refutations: The Growt of  Scientific Knowledge yang memberi analisis dan kritik Popper atas pemikiran tiga tokoh yang menurut dia termasuk historisisme, yaitu Plato, Hegel, dan Marx.

Pada tahun 1977, Popper banyak memberikan ceramah dan kuliah tamu di Eropa, Amerika, Jepang dan Australia. Ia banyak mengenali secara pribadi para ahli kimia modern yang besar seperti, Albert Einstein, Neil Bohr, Edwin Schrodinger. Popper meninggal dunia pada tanggal 17 September 1994 di Croydon, London Selatan, dalam usia 92 tahun akibat komplikasi penyakit kanker. Menjelang akhir hayatnya beberapa karyanya diterbitkan dengan bantuan orang lain. Buku yang paling penting dari periode terakhir ini adalah A World of Propensities (1999) di mana ia menguraikan pemikiran definitifnya tentang probabilitas dalam logika dan Ilmu Pengetahuan

Kritik terhadap Teori Positivisme August Comte

Perkembangan filsafat ilmu pengetahuan merupakan objek yang terus berkembang. Dalam kajian epistemologi keilmuan telah membawa kita melintasi beberapa aliran pemikiran. Salah satunya adalah aliran positivisme yang dimotori bapak Sosiolog Modern, August Comte (1798-1857). Aliran pemikiran yang lahir pada abad ke-19 tersebut merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang dikenal pertama kali muncul dalam dunia ilmu pengetahuan, juga dianggap sebagai kritik dan penyempurna bagi teori yang hadir lebih awal.

Positivisme yang menjadikan pengalaman empirik sebagai sumber pengetahuan, menjadi semakin kuat dengan bantuan penerusnya dari Lingkaran Wina yang mengusulkan verifikasi sebagai tolok ukur untuk mengatakan sesuatu memiliki makna (meaningfull) atau tidak bermakna (meaningless). Prinsip Verifikasi ini menyatakan bahwa suatu proposisi adalah bermakna jika ia dapat diuji dengan pengalaman dan dapat diverifikasi dengan pengamatan (observasi). Bila sesuatu teori tidak dapat diverifikasi, maka tidak dapat disebut sebagai pengetahuan, alias tidak bermakna (meaningless).

Masalah ini dikritik secara keras oleh Karl R Popper dalam karyanya berjudul The Logic of Scientific yang menggebrak dunia filsafat sains pada tahun 1934. Karl R Popper mengkritik metodologi sains pada saat itu yang didominasi oleh positivisme, serta mengkritik gagasan penerapan metode induksi dalam ilmu pengetahuan oleh Lingkaran Wina. Disisi lain, Popper memperkenalkan metode barunya yang ia sebut metode falsifikasi sebagai alternatif bagi metodologi induktif. Oleh karena itu, metode yang diajukan oleh Popper ini seolah menjadi antitesa bagi madzhab pemikiran Positivisme dan Lingkaran Wina (Neopostivisme).

Related posts