Karya Tulis Imam al-Kisai dan Jejak Warisnya pada Pemikiran Nahwu Kufah

Imam al-Kisai

Imam al-Kisai sebagai figur ulama muslim yang terkenal setidaknya dalam dua panggung pengetahuan spektakuler yakni Nahwu dan Qira’at memiliki banyak karya yang dapat dikaji oleh para generasi penerusnya.

Khadhr Musa Muhammad Hammud dalam bukunya yang berjudul al-Nahwu wa al-Nuhat al-Madaris wa al-Khashaish mengatakan bahwa Imam al-Kisai telah menulis atau Menyusun kitab yang cukup banyak. Di antaranya adalah Ma’ani-l-Qur’an, al-Mukhtashar fi al-Nahwi, al-Qira’at, al-‘Adad, Ikhtilaf al-‘Adad, Maqthu’ al-Qur’an wa Maushuluh, al-Nawadir al-Kabir, al-Nawadir al-Ashghar, al-Mashadir dan lain-lain.

Bila dicermati dari sluruh contoh nama-nama kitab yang telah ditulis oleh al-Kisai, maka kita akan melihat bahwa seluruh katalog kitab-kitab tersebut banyak yang bergenre Nahwu dan Qira’at. Hal ini semakin meneguhkan kepakaran beliau dalam kedua bidang pengetahuan tersebut.

Menjadi sangat mengagumkan tatkala kita membaca keterangan yang diketengahkan oleh Sa’di al-Afghani dalam bukunya yang berjudul Min Tarikh al-Nahwi bahwa Imam al-Kisai mulai belajar Nahwu saat usianya sudah memasuki usia sudah cukup berumur lanjut.

Guru beliau

Mulanya ia belajar kepada Imam Yunus dan Imam al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi di Bashrah, namun kemudian ia pergi ke lembah Najd dan Hijaz untuk mendalami bahasa Arab langsung kepada para penuturnya.

Sekembalinya Ia dari Hijaz, Imam al-Kisai bermaksud menemui gurunya yakni Imam al-Khalil namun ternyata gurunya sudah meninggal. Takdir menuntunnya ke Baghdad dan menjadi ulama kerajaan pada masa Harun al-Rasyid. Imam al-Kisai menjadi guru dari al-Rasyid dan kedua putranya.

Pengalaman belajar Imam al-Kisai yang demikian membawa corak pemikiran Nahwu tersendiri yang selanjutnya menjadi ciri khas Nahwu Kufah.
Mazhab Kufah tumbuh dengan kecenderungan menggunakan panca indra pendengaran dalam menangkap kalam asli Arab. Banyak dari mereka yang ucapan-ucapan fasih dari kabilah-kabilah yang terkenal. Dengan demikian, apa pun yang mereka dengar, entah itu diterima atau tidak periwayatannya, mereka jadikan sebagai dalil.

Related posts