Ke mana Filsafat Islam Setelah Ibnu Rusyd?

ke mana filsafat setelah ibnu rusyd?
ke mana filsafat setelah ibnu rusyd?

Ke mana Filsafat Islam Setelah Ibnu Rusyd? Islam turun di Mekkah dan mulai merakit peradaban manusia yang luhur dan penuh moral serta kaya religiusitas di sana. Di bawah komando Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, Sang Nabi, Islam memancar ke berbagai penjuru bumi.

Sebagai agama yang berada di bawah sinaran wahyu, meluasnya Islam meniscayakan pergumulan peradaban. Bukan hanya kontak fisik dalam penegakkan moral, namun juga kontak pemikiran dalam dialektika kebenaran.

Read More

Peradaban Madinah yang dibangun Sang Nabi, bertemu dengan peraban besar lain di negeri tersebut. Di Romawi, Islam bertemu dengan peradaban Romawi yang agung. Di Persia, Islam bertemu pula dengan peradaban besar Persia. Begitu juga dengan negeri-negeri lain seperti Iskandariyah, Baghdad, Anadalusia dan lain-lain.

Baca: Agama dan Filsafat Sosial

Dialektika Tak Terhindarkan

Ke mana Filsafat Islam Setelah Ibnu Rusyd? Semua peradaban besar nyaris terkesan menantang, apa yang dimiliki Islam sehingga layak untuk diterima sebagai peradaban dunia. Bila dilihat dari genealoginya, maka akan didapati bahwa wilayah-wilayah penyebaran Islam adalah wilayah dengan pewaris peradaban bumi lama.

Namun di sinilah keunikan sekaligus tantangannya. Tanpa melalui doktrin moralitas yang berliku, Islam mampu meretas peradaban-peradaban lama. Kegelapan yang menyelimuti kehidupan dan kemanusiaan peradaban yang sudah lapuk itu mampu didekonstruksi oleh risalah Muhammad.

Khazanah material dikelola sesuai dengan titah wahyu. Adapun khazanah pengetahuan diakomodir dengan melalui serangkaian dialektika yang panjang. Khazanah pengetahuan alam atau sains mampu diserap dan dipelajari dengan baik oleh para intelektual muslim. Begitu juga dengan pengetahuan-pengetahuan spekulatif, termasuk filsafat, banyak dipelajari meskipun spektrum dialektikanya lebih kompleks.

Baca: Mazhab Rasionalisme dalam Filsafat

Dari Baghdad sampai Cordova

Al-Kindi (801 – 873 M) adalah figur pemikir muslim Arab pertama yang menulis filsafat dalam bahasa Arab. Beliau lahir di Kuffah dan banyak meghabiskan kegiatan intelektualnya di Baghdad.

Situasi Baghdad saat itu berada pada iklim yang sangat kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Al-Kindi besar pada zaman khalifah al-Amin (809 – 813 M), al-Makmun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M) dan al-Mutawakkil (847-861 M).

Era tersebut adalah masa di mana otoritas muslim mulai banyak melakukan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Sehingga pada titik inilah mulai terjadi kontak yang cukup intens antara filsafat (Yunani) dan kultur keilmuan Islam. Gagasan filsafat yang digawangi oleh Aristoteles, Plato dan Socrates bertemu dengan Ulumul Islam yang merupakan turunan dari wahyu.

Nama berikutnya yang muncul adalah al-Farabi (890 M), pemikir muslim yang lahir di Turkistan. Beliau juga menimba pengetahuan di Baghdad termasuk pengetahuan kefilsafatan. Deretan gurunya ada juga yang berasal dari Kristen.

Berbeda dengan Al-Kindi, Al-Farabi hidup pada era kekhalifahan al-Mu’tamid (870 – 892 M) sampai dengan era al-Muthi’ (946 – 974 M). Sebuah era yang sarat akan gejolak politik yang membuat al-Farabi lebih menjauh dari wilayah kekhalifahan.

Hampir sama dengan al-Farabi, Ibnu Sina (980 – 1037 M) tumbuh dan besar dalam keadaan imperium Arab yang carut marut. Bukhara menjadi tempat kelahirannya sebelum berpetualang ke beberapa negeri dan larut dalam segala drama liku-likunya.

Gema filsafat berikutnya menyeruak dari kota Cordova lewat karya seorang hakim sekaligus filsuf bernama Ibnu Rusyd (1126 – 1198 M). Beliau hidup pada era keemasan Dinasti Al-Muwahidun. Situasi yang kondusif jelas memberikan iklim akademik yang sangat bagus bagi Ibnu Rusyd, terlebih ia berasal dari kalangan atas.

Babak Baru Filsafat Islam

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa puncak pencapaian filsafat tertinggi dalam Islam adalah pada era Ibnu Rusyd. Setelahnya tradisi filsafat mengalami kemandegan dan tidak berkembang. Tesis ini tentu sangat menarik untuk diperiksa dan dicari kebenarannya.

Seyyed Hosein Nasr dalam Tradisionalisme Islam mengtatakan bahwa gerak filsafat setelah Ibnu Rusyd masih menggelinjang. Hanya saja perkembangan itu tumbuh subur di wilayah Persia atau Iran (Syi’ah). Beberapa nama yang muncul sebagai pelanjut tradisi kefilsafatan Islam di sana misalnya Nashiruddin al-Thusi, Mir Damad, Allamah Husen ath-Thabthaba’i dan lain-lain.

Sedangkan di kubu yang lain tampak dengan kesan bahwa laju tradisi kefilsafatan ini berhenti. Namun ternyata tidak demikian seutuhnya benar. Filsafat juga masih berdenyut di tangan intelektual-intelektual Sunni. Di antaranya adalah Ibnu Taimiyah dengan gelar Syaikh al-Islam.

Bila di Syi’ah yang dikembangkan adalah filsafat dengan corak isyraqi, maka Ibnu Taimiyah banyak melakukan kritik. Kritik yang disampaikan oleh ulama salaf ini sayangnya banyak distereotipkan sebagai pembunuhan filsafat. Padahal tidaklah demikian adanya.

Kritik bukan berarti membunuh, sama seperti halnya Imam al-Ghazali yang mengkritik pandangan filsafat Ibnu Sina. Dalam prosesnya al-Ghazali banyak mengkaji pandangan dan pemikiran filsafat, sampai akhirnya ia mengeluarkan bantahan-bantahannya. Hal serupa juga dilakukan oleh Ibnu Taimiyah.

Sampai sekarangpun murid-murid Ibnu Taimiyah banyak yang masih melakukan kajian terhadap filsafat. Bukan untuk mendewakannya tapi untuk menelaahnya secara kritis di bawah naungan wahyu (al-Qur’an dan al-Sunnah).

Related posts