Kegaduhan di Kelas Sejarah

Dilansir dari Harian Kompas (18/9) yang mewartakan bahwa pelajaran sejarah terancam hilang dalam kelas pembelajaran. Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa mata pelajaran sejarah di sekolah menengah atas akan ditempatkan sebagai mata pelajaran pilihan. Bahkan di sekolah menengah kejuruan mata pelajaran ini direncanakan akan dihilangkan.

Wacana “konon” tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tahun ini yang diselenggrakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Bila dilihat dilihat dalam format penyederhanaan terlebih dalam situasi saat ini maka memang resikonya beberapa mata pelajaran yang tidak berada di koridor mainstream yang inti akan tergeser. Merubah sesuatu yang sudah paten berjalan memang kerap memunculkan resistensi terlebih perubahan itu tidak berdasar pada pijakan pemikiran yang kuat dan rasional.

Reaksi Manusia-Manusia Sejarah

Beberapa pengamat sejarah atau sejarawan Tanah Air melayangkan berbagai komentar terhadap kabar tersebut. Sejarawan JJ Rizal langsung mengunggah foto rubrik tersebut di akun tweeternya. Di mana ia menuliskan komentar yang cukup tajam pada pemerintah. Rizal mengatakan bahwa tindakan yang diambil pemerintah itu kontradiktif  dengan isi nawacita yang salah satu butrinya menumbuhkan revolusi karakter melalui pengajaran sejarah pembentukan bangsa. Bahkan Rizal mencap pemerintah sebagai rezim kardus kekuasaan yang telah durhaka.

Laman Historia.id juga menerbitkan satu artikel tentang bagaimana pentingnya mempelajari sejarah. Bonnie Triyana sebagai author artikel tersebut menunjukkan letak perbedaan wajah sejarah di Indonesia dengan di negara maju seperti Australia dalam konteks ilmu pengetahuan. Di Indonesia mayoritas sejarah diajarkan dengan melakukan hafalan peristiwa, tanggal, tahun dan semacamnya yang tentu sangat membosankan bagi sebagian besar siswa.

Namun di negara maju seperti Australia sejarah diajarkan sebagai rumpun pengetahuan yang diajarkan dengan landasan rasionalitas yang kuat. Mengamati sejarah adalah mengamati rangkaian kausalitas bukan rangkaian tarikh dalam berbagai angka kalender. Dalam buku Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie mengutip Childe menulis bahwa sejarah bukanlah suatu rentetan nama-nama, dinasti dan perang (saja).

Dari sini kita melihat bahwa langkah yang diambil oleh pemerintah sebagaimana diberitakan oleh Harian Kompas menuai beberapa komentar dan kritik yang cukup tajam dari para sejarawan Tanah Air. Namun dari sini kita akan melihat sejauh mana kekuatan dan daya eksistensi dari matapelajaran sejarah yang ada. Kabar ini bisa jadi berhembus kencang menggoyang langkah pemerintah atau hanya akan menjadi isu angin yang sekali hembus langsung berlalu begitu saja.

Catatan Akhir Aku dengan Sejarah

Sejak masuk sekolah dasar ada beberapa partikel sejarah yang sangat asyik untuk dibaca dan diulik bagi penulis. Memang itu jarang disampaikana oleh guru kelas, mungkin karena saat itu Ibu Guru fokus anak-anaknya untuk bisa Baca, Tulis, Berhitung (Calistung). Namun kadang juga menemui materi-materi sejarah yang sangat membosankan meskipun diajarkan oleh guru mata pelajaran di kelas. Bahkan juga ada yang mengajarkan secara prematur, di mana saat itu bandwith otak masih berkutat pada hal-hal yang normatif dan heroik dari sejarah namun sudah dijejali berbagai analisis yang belum sampai bagi “manusia di bawah umur”.

Seiring dengan berjalannya waktu penulis sendiri mulai menikmati alur sejarah dan mencoba lapangan sudut baru. Di mana perlahan keluar dari hal-hal yang bersifat normatif darinya. Sebut saja misalnya saat penulis membaca buku sejarah yang ditulis oleh Prof. Slamet Muljana, di mana di dalamnya ia mengatakan bahwa wali songo berasal dari Tiongkok dengan menyebut nama-nama yang tidak begitu familiar. Isi dari buku yang ditulis oleh Slamet itu langsung bertabrakan dengan pengetahuan awal penulis yang mengatakan bahwa wali songo adalah orang-orang nusantara yang mayoritas dari mereka memiliki nasab sampai ke garis keturunan Rasulullah SAW.

Keguncangan pikiran jelas kerap terjadi namun biasanya penulis langsung berdiskusi dengan beberapa rekan yang secara rumpun keilmuan berkuliah di jurusan-jurusan sejarah. Bersyukur dari keguncangan itu penulis menempuh petualangan intelektual untuk mengoleksi berbagai pengetahuan dan informasi yang berkaitan. Sampailah penulis pada beberapa buku seperti Tuanku Rao yang ditulis oleh M.O. Parlindungan yang isinya menjadi salah satu rujukan Slamet Muljana dalam menulis.

Namun petualangan berikutnya penulis menemukan salah satu tulisan sejarawan Asvi Marwan Adham yang mengkritik hasil penelitian atau tulisan Slamet Muljana. Di mana Muljana lebih banyak berkutat pada historiografi semata katanya. Ditambah lagi tanpa sengaja di tempat salah satu tempat fotokopian pinggir kampus penulis melihat buku dengan judul Tuanku Rao: antara Fakta dan Khayal yang ditulis oleh Buya Hamka. Di mana Hamka yang awalnya begitu terpikat dengan pandangan Parlindungan tetiba mulai menemukan keraguan dan langsung menulis berbagai kritik dan sangggahan pada buku tersebut. Bahkan ia juga menuliskan bagaimana Hamka berduel argumen dengan Parlindungan dalam beberapa simposium.

Kasus pertandingan sejarah yang serupa tidak penulis alami sekali atau dua kali. Di mana pada akhirnya penulis belajar bahwa sejarah akan selalu menyajikan hal-hal yang beragam dan berwarna. Hanya arogansi kekuasaanlah yang membuat warna-warna tersebut menjadi hitam dan putih. Pandangan History is claim akan mengantarkan pada relativitas sejarah, namun dari situ muncul kembang kebijaksanaan yang mengajarkan kita untuk bisa berlaku bijak terhadap sejarah masa lalu dan bijak dalam menyongsong masa depan.

Oleh karenanya langkah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana di ketengahkan di atas jelas menimbulkan kegaduhan. Utamanya para sejarawan atau penikmat sejarah yang bersuara lebih nyaring. Tinggal bagaimana nanti pemerintah megambil tindakan seperti seorang guru kelas yang masuk pada kelas yang ramai.

 

 

 

Related posts