Kemanusiaan Masyarakat Aceh dalam Menolak Pengungsi Rohingya

emanusiaan-masyarakat-aceh-dan-pengungsi-rtohingya
emanusiaan-masyarakat-aceh-dan-pengungsi-rtohingya

Kemanusiaan Masyarakat Aceh dalam Menolak Pengungsi Rohingya. Isu in merupakan isu yang sering diperjuangkan tetapi juga isu yang sering diabaikan. Kemanusiaan lahir atas respon dari seseorang ataupun sekelompok  orang yang memperlakukan manusia tidak selayaknya. Oleh sebab itu kemanusiaan lahir untuk meniadakan serta mengurangi hal-hal tersebut. Kemanusiaan juga diidentikkan dengan perjuangan hak-hak kemanusiaan itu sendiri.

Kemudian kemanusiaan saat ini banyak dilanggar oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab. Perlakuan buruk yang demikian menurut saya tidak pantas mendapatkan pembelaan dari pihak manapun. Sebab sebagaimana yang dapat dipahami bahwa tidak ada harga yang lebih mahal daripada nyawa seorang manusia.

Deretan kasus seperti pemusnahan, pembunuhan dan penganiayaan dilakukan oleh negara-neegara besar. Sebut saja agresi militer Israel ke palestina dan aneksasi Rusia terhadap Ukraina. Tidak ketinggalan kaasus pengusiran atau pemindahan etnis muslim Rohingya secara paksa oleh otoritas Myanmar.

Kemanusiaan yang Dipermasalahkan

Kemanusiaan Masyarakat Aceh dalam Menolak Pengungsi Rohingya. Terlepas dari masalah politik dari negara asal etnis tersebut, rasanya tidak lantas membenarkan pelanggaran kemanusiaan yang ada. Namun berikutnya apakah penolakan warga aceh terhadap pengungsi etnis muslim Rohingya di tanah mereka termasuk pelanggaran kemanusiaan? Terdapat kubu pro dan kontra terhadap kejadian tersebut. Namun menurut hemat saya, hal ini tidak menjadikan posisi warga aceh melanggar kemanusiaan.

Terdapat alasan yang sekiranya mampu di jadikan pertimbangan oleh warga aceh dalam menolak warga Rohingya. Pertimbangan pertama, beberapa tahun sebelumnya warga Aceh menyambut baik warga Rohingya dengan baik dan terbuka. Namun dalam beberapa waktu berikutnya warga Rohingya tidak mengindahkan kesepakatan ataupun norma norma yang ada sebagai pengungsi.

Fakta menunjukkan warga Rohingya yang tadinya dibantu atas dasar kemanusiaan justru melakukan pelanggaran sosial kemanusiaan. Beberapa tindak pelanggaran – bahkan pidana – yang dilakukan seperti pemerkosaan, pelecehan, dan kejahatan lainnya. Rentetan kejadian ini menjadi pelajaran dan pegangan warga Aceh dalam bersikap kedepannya. Meskipun sampai dengan saat ini warga Aceh masih tetap memberikan bantuan logistik terhadap mereka.

Baca juga: Demokrasi versus Teokrasi Pancasila

Akumulasi tindak pelanggaran warga Rohingya inilah yang menjadi pertimbangan cukup kuat bagi warga Aceh untuk menolaknya. Terlebih Aceh adalah “negeri” dengan tata etika dan norma yang kuat. Bahkan etika-etika tersebut telah dituangkan dalam peraturan perundang-undangannya sendiri yang kerap disebut Qanun. Daftar pelanggaran yang disebutkan tadi cukup membuat warga Aceh sulit untuk mengabaikannya.

Pertimbangan kedua yaitu masalah tempat. Warga Aceh pasti membantu permasalahan logistik akan tetapi jika masalah tempat mereka sulit untuk memberikannya. Kepala Desa Lapang Barat di Kabupaten Bireuen, Mukhtar Yusuf, menolak pengungsi dengan alasan tidak ada tempat di wilayahnya. Alasan ini mungkin bisa saja diperdebatkan, tetapi di sisi lain juga menjadi alasan yang kuat untuk warga aceh menolak warga Rohingya.

Baca juga: Ketahanan Pangan Ketahanan Nasional

Menurut saya jika persoalan pengungsi dan wilayah penampungan tidak terpenuhi maka ini hanya akan menggangu warga setempat. Bahkan sangat rentan melahirkan masalah-masalah baru. Daripada memaksakan semuanya masuk ke Aceh namun berpotensi menimbukan kerusuhan baru maka langkah rasional adalah opsi penolakan. Sedangkan berdasarkan catatan yang ada, pengungsi Rohingya yang masuk ke Aceh tahun 2023 sangat banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengungsi Rohingya menurut UNHCR (PBB) tahun 2023 menunjukkan 1.296.525 orang. Pengungsi Rohingya yang mencari perlindungan tersebar ke sejumlah negara. Mereka mengungsi dan mencari tempat untuk berlindung dikarenakan pemerintah Myanmar tidak mengakuinya sebagai warga negara.

Kebingungan letak Antara Kemanusiaan Dengan Tidak Berkemanusiaan

Segala tindak kekerasan, diskriminasi dan persekusi yang dialami warga Rohingya membuat mereka memilih untuk pergi dari Myanmar. Dalam pandangan pemerintah Myanmar, mereka melakukan tindakan pengusiran karena bagi mereka etnis Rohingya berasal dari bangsa pendatang. Terlebih lagi terdapat isu agama yang memperburuk konstelasi kasus ini.

Banyak orang di luar sana mempertanyaakan kemanusiaan warga Aceh. Peristiwa Aceh dengan etnis Rohingnya sering dikaitkan bahkan disamakan dengan konflik palestina-Israel. Hal tersebut menurut saya tidak bisa disamakan. Dalam hal ini kita bisa menyamakan dan menyepakati kedua peristiwa ini sama sama tidak manusiawi. Namun konflik Palestina adalah konflik antar negara yang saat ini tengah dijajah oleh Israel. Adapun bantuan yang dibutuhkan bukan hanya sekadar logistik namun juga politik, yakni kemerdekaan.

Tetapi jika kita lihat kasus Rohingya, mereka diusir dari negara mereka sendiri yaitu Myanmar dengan dihilangkan kewarganegaraannya. Bantuan Rohingya yang mereka butuhkanpun saat ini ialah perlindungan, logistik dan tempat tinggal sementara. Akan tetapi warga Aceh saat ini hanya menyanggupi bantuan logistik saja. Sedangkan untuk tempat tinggal permanen masih belum ada titik temu.

Baca juga: Pancasila Fondasi Etika dalam Pembangunan Ekonomi

Hal ini disebabkan oleh keterbatasan tempat dan traumatisme sosial yang perlu penyembuhan dalam beberapa waktu ke depan. Warga Aceh memiliki ketakutan bahwa angka kejahatan yang dilakukan etnis Rohingnya akan meningkat.

Sila kedua Pancasila, “kemanusiaan yang adil dan beradab” ingin menghilangkan dan menurunkan perbuatan tidak manusiawi di Bumi Pertiwi. Sila ini tengah mengalami banyak tantangan dan permasalahan yang nyata dalam perwujudannya. Tentunya termasuk dalam bahasan ini yakni kasus para pengungsi Rohingya di Aceh.

Sampai sekarang, saya memegang teguh pandangan bahwa kemanusiaan berdiri di atas segalanya selama kemanusiaan tersebut tidak dirusak oleh kemanusiaan lainnya.

Fikri Mubarak, Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

 

 

 

 

Related posts